Aceh “No Safety”

Darmansyah

 

Discus-nya panjang. Berulang-ulang. Di banyak tempat. Topiknya sama. Itu ke itu saja. Sesekali out fokus. Melebar. Pukul samping. Kibas ke atas. Atau pun tuding sana sini.

Kesimpulannya hingga hari ini, di hari saya menuliskannya: “no safety.”

Anda jangan cari terjemahan harfiahnya kata “no safety” dengan membuka kamus google search. Terlalu spesifik: tidak ada keamanan.

Kalau berkutat dengan terjemahan “tidak ada keamanan” ini pasti pikiran Anda melengkung pada satu tekukan “kacau.” Nggak ada yang kacau.

Kata “no safety” biasa saja. Iya, kalau di-letterlijk-kan bisa celaka.

Kata itu pun saya dapatkan tidak dalam situasi kacau. Tidak juga dalam debat atau pertemuan yang gaduh. Dan saya menyalinnya ke otak dan menuangkannya dengan santai.

Kata ini datang sendiri. Tidak saya jemput. Dia datang di dua kesempatan berbeda. Kebetulan dan ketidak kebetulan. Yang kebetulannya datang  di sebuah “meeting zoom.”

Meeting zoom dengan sebuah tim investasi yang membahas sebuah studi kelayakan penanaman modal yang bergerak di bidang wisata.

Pasnya rencana membangun kawasan resort yang nggak usah saya sebutkan lokasinya. Takut ge-er. Kesimpulan dari presentasi dengan tim itu “tidak ada keamanan.”

Yang mengatakan itu seorang anak muda. Jebolan sebuah perguruan tinggi negara jiran. Dan ia mengucapkannya dengan sedikit gurau. “Nggak usah serius. Ini biasa kok,” begitu ucapannya.

Ya biasalah. Kalau menyangkut investasi safety itu kata kunci. Kalau kesimpulannya “no safety” itu berarti “kunci mati.” Kunci yang ndak bisa dibuka.

Sedang kata “no safety” kedua  yang tidak kebetulan saya diberitahu oleh teman dari teman pemilik sebuah corporat capital. Capital besar. Yang ingin invest besar juga. Tapi ia mundur.

Padahal kelayakan di atas rata-rata. Invest-nya green energy. Energy hijau. Energy terbarukan, Yang Anda pasti tahu kini menjadi tren global. Diminati sangat oleh Jepang. Berapa pun produksinya.

Kalau Anda ingin tahu nantilah saya tulis secara khusus. Sebab bisa panjang dan sedikit teknis dan sangat teknis. Bukan seperti produk cangkang sawit yang terdapat di kawasan ekonomi khusus di ujong bate sana.

Cangkang sawit yang sempat dibanggakan gubernur Nova sangat prospektif. Yang juga diacungkan jempol oleh dirut perusahaan daerah “pema,” waktu itu-sekarang sudah resent.

No safety yang tidak kebetulan ini berasal dari foot note di kertas progress yang disodorkan. “Saya nggak bisa berkelit,“ kataya ketika kami ketemu makan bakso dua bulan lalu di Plaza Senayan.

Bagi saya “no safety” itu bukan sesuatu yang luar biasa. Biasalah. Biasa di mana-mana. Di mana saja.

Tapi ada kata nggak biasa yang saya dengar kemarin. Dari seorang kenalan. Cina asal Aceh yang kini memegang “paspor” Medan. Di peresmian hotel Alhambra di kawasan Simpang Lima.

Bicara ngalor ngidul usai peresmian hotel ia menambah perbendaharaan kata saya dengan: zero. Zero yang keluar dari mulutnya ketika saya usik tentang: apakah ada niatan investasi di daerah ini.

Kata zero itu pun ia ucapkan ke saya dengan tekukan wajah. Tekukan wajah lewat gerak dua jari tangan sebagai tahun penantiannya untuk menanam pohon “peeng.”

Anda pasti tahu apa itu harfiahnya kata zero. Nol. Yang kalau dalam bisnis itu berarti bukan hanya kembali “pangkai” tapi amblas dengan modal.

Dengan preambule yang penuh misteri ini tentu Anda menuduh saya ngawur. Ya … terserah… Tapi saya sendiri tidak ngawur. Karena tulisan ini menyangkut eksistensi Aceh di peta investasi.

Peta investasi negeri ini sepertinya tak bersahabat dengan Aceh. Tidak bersahabat karena ada kata no safety dan zero.

No safety dan zero ini jangan hanya dikaitkan dengan kondisi Aceh yang banyak diatur oleh “toke bangku.” Tapi, seperti dikatakan seorang teman kepada saya secara berbisik: mindset.

Anda tahu apa itu mindset?

Saya kutipkan saja apa yang dirumuskan oleh verywell tentang mindset ini.

“Sekumpulan kepercayaan atau pemikiran yang membentuk bagaimana kamu melihat dunia dan diri sendiri.”

Mindset atau pola pikir inilah yang memengaruhi pikiran, perasaan, dan tindakanmu dalam kehidupan sehari-hari.

Saya tak ingin memperpanjang tentang mindset ini. Saya pernah dibisikkan seseorang bahwa Malik Mahmud, sang Wali Nanggroe, juga pernah puyeng dengan masalah ini.

Saya tahu kepuyengannya itu. Kepuyengan karena ia, dulunya, hidup di lingkungan rasionalitas Singapura. Entahlah saya juga nggak tahu persisnya.

Sama puyeng jika Hasan Tiro masih hidup. Puyeng meluruskan cara berpikir emosional yang bagi kami anak ketelatan sering membasakan dengan “utak bakada.”

Terlepas dari no safety dan zero di atas, Aceh tak terbantahkan memiliki potensi dari pengalaman panjang kesejarahannya  dalam pengembangan ekonomi.

Kesejarahan itu sebenarnya belum lama terkelupas. Saya sendiri masih ingat ketika hidup di zaman barter. Zaman perdagangan pertukaran olahan hasil bumi Aceh dengan Penang dan Singapura.

Saya tahu bagaimana  Kuala Langsa menjadi pelabuhan ekspor untuk karet. Bahkan pelabuhan saya nun di naca sana sangat hidup dengan  hasil ekspor minyak atsiri, pala dan nilam.

Saya tahu juga bagaimana Cot Gapu di Bireuen menjadi kawasan industri dengan pabrik korek api, kawat dan labang. Saya tahu bagaimana CV Puspa membangun industrinya.

Anda jangan bicara tentang kampiun trading milik permai, lubuk maupun azeyma yang menggurita hingga ke Jawa,

Entahlah…. Saya hanya bisa tertunduk ketika para “toke bangku” yang mengandalkan jual beli proyek infrastruktur lewat “peeng” perjuangan.

Untuk mencari ke-shahih-an potensi Aceh hari ini saya sendiri pernah datang mengambil buku panduan ke Kementerian Investasi. Tapi saya kecewa. Isinya masih seperti dulu. Masih itu ke itu juga.

Tentang pembangkit plta, potensi geothermal, pembangunan pipa gas, infrastruktur kereta api perkotaan. Dan entah lainnya. Membosankan.

Lainnya? Anda sudah tahulah potensi kopi arabica gayo mountain coffe, nilam dan pala yang produksinya sudah mati suri.

Sudah tahu juga ulangan cerita tentang kawasan industri  PT. Perta Arun Gas, PT. Pupuk Iskandar Muda terletak di Kawasan Ekonomi Khusus Arun Lhokseumawe.

Yang belum terlihat adalah keseriusan dalam menangani agroindustri unggulan. Terutama peluang mengembangkan industri hilir di bidang perkebunan, pertanian, perikanan dan peternakan.

Entahlah… []

  • Darmansyah, wartawan senior, penulis “Kolom Bang Darman”
Penulis: DarmansyahEditor: Redaksi