Apam Pokir Dua Ratus Juta

Darmansyah


KENDURI
apam dua ratus juta rupiah? Masya aAllah, Allah telah berkehendak.  Inilah yang dikehendaki Allah.

Saya diberitahu. Kemarin pagi. Dan menunggu hingga pagi ini apakah kenduri apam itu terselenggara.

Pagi minggu. Saat kenduri itu berlangsung. Blaasss…..Jadi. Dan saya berani menulisnya.

Kalau nggak jadi atau apalah ada bencana saya pasti dituduh ghibah. Ghibah kenduri apam menjelang Ramadhan. Itu namanya cari dosa walaupun Ramadhan menjadi bulan pengampunan.

Kenduri apam dua ratus juta rupiah itu diberitahu oleh seorang teman penghuni balai kota ketika jogging pagi di boulevard orchard kota summarecon.

Yang memberi tahu orang yang tahu. Benar-benar tahu. Tahu dari mana datang angka rupiahnya dua ratus juta itu.

Rupiah untuk kenduri apam.

Rupiah dari pokir. Pokok pikiran. Yang  Anda sudah tahu darimana muasal usulannya. Usulan menjelang pemilihan umum. Pemilihan anggota legislatif. De-pe-er kota.

Yang Anda juga pasti tahu si pengusulnya ingin tetap duduk di kursi de-pe-er kota. Kan kalau sudah duduk lupa berdiri.

Dana pokir ini seperti yang saya tulis beberapa waktu lalu nggak jauh-jauh amat dari proyek. Proyek yang ada fee atau setorannya. Yang di kenduri apam ini saya nggak tahu apa ada fee-nya.

Anda cari tahulah. Kalau Anda sudah tahu jangan alpa beritahu saya. …. Hahaha…

Seperti dana pokir lainnya asal muasalnya dari acakan. Dikira-kira. Lantas diajukan lewat jalur baku birokrasi. Dapat angkanya yang kemudian direalisasi. Jadilah. Terselenggara. Kenduri apam.

Ya…pokok pangkal pokir itu sama dengan akronim lain di kebijakan  yang sama. Sama dengan jaring aspirasi masyarakat. Yang akronimnya jasmas. Sama juga dengan program pemberdayaan sosial ekonomi masyarakat.

Anda dan siapa saja kan udah tahu banyak anggota DPRD, di mana-mana, ternyata terbelit masyarakat. Atau membelit masyarakat.

Mereka merasa harus memberi sesuatu kepada masyarakat yang memilih. Bisa uang, bisa proyek. Bisa juga dalam bentuk kenduri apam.

Mereka iri: kok pejabat di eksekutif itu punya proyek. Mereka bisa dapat uang dari proyek. Padahal kedudukan mereka sama: sama-sama bagian dari pemerintahan daerah.

Mengapa hanya eksekutif yang bisa dapat uang dari proyek. Anggota DPRD kan juga harus dapat proyek. Dan bisa dapat uang dari proyek.

Ketika dulu kala saya masih rajin menulis berita sebagai wartawan soal iri itu bisa tuntas lewat sogokan.

Saya tahu dan pernah tahu aparat eksekutif harus nyetor ke legislatif. Setoran sebagai samaran dari nyogok.

Kini  nyogok anggota DPRD itu sudah dianggap kuno. Juga gampang ketahuan. Maka dicarikanlah jalan memutar. Yang penting tujuannya sama: dapat uang.

Saya tak tahu sejarah: siapa penemu pokir. Sebuah ide yang lahir dari kreatifitas. Kreatifitas menciptakan peluang.

Sebelum ada pokir eksistensi jasmas ini begitu kuat. Kukuh. Nama jasmas pun keren: jaring aspirasi masyarakat. Di bulan tertentu dewan menjalani reses. Istirahat sidang. Entah kalau kenduri apam ini.

Apakah dewan kota dalam posisi reses. Tanyakan saja ke mereka.

Praktiknya, di masa reses ini para anggota dewan mempergunakan waktunya mengunjungi daerah pemilihannya.

Anggota dewan menemui rakyat yang diwakili. Yakni, teorinya, untuk menyerap aspirasi masyarakat.

Anggota dewan dapat anggaran perjalanan untuk berkunjung ke daerah pemilihannya itu. Tidak harus ada laporan pertanggungjawaban: apakah  dia benar-benar melakukan perjalanan atau tidak.

Kenduri apam ini sama saja. Pokirnya, saya diberitahu,…. Ini benar-benar diberi tahu dari dana titipan di anggaran dinas pariwisata kota.

“Tidak hanya kenduri apam yang dua ratus juta pak. Ada lagi,” kata si pemberitahu. Jumlahnya satu koma empat miliar rupiah. “Proyek titipan,” ujarnya. Di satu dinas.

Ya biasalah kalau proyek ada titip menitipnya. Seperti kasus orang pajak yang kini sedang heboh kan juga titip menitip. Titip menitip ke banyak pihak. Bisa anak, istri, cucu.. dan entah lainnya.

Kalau pokir ini setahu saya penitipannya pada dinas. Saya tak tahu besaran persisnya dana pokir di de-pe-er kota yang dititipkan ke dinas-dinas.

Kalau di dinas pariwisata saja jumlahnya satu koma empat miliar rupiah, Anda telusuri aja berapa dinas  yang ada di jajaran balai kota. Kemudian reka besaran duitnya.

Ya sudahlah… masa bodoh…

Tentang kenduri apam dua ratus juta saya sedikit terkejut angkanya. Kenduri apam saja dua ratus juta rupiah?

Saya baru saja kenduri yang ada apamnya. Pesanan saya cuma satu juta rupiah. Jumlah apamnya lima ratus buah. Yang memakannya bisa orang sekampung.

Kalau kenduri apamnya dua ratus juta rupiah Anda kalikan saja berapa jumlah apamnya. Saya nggak ingin berandai-andai. Suuzon …

Dan kenduri apam dua ratus juta rupiah itu berlangsung di Taman Budaya Kota Banda Aceh.  Taman Budaya yang biasa saya datangi dulu dengan teman seniman. Seperti Mas Kirbi atau Hasyim KS.

Atau juga melihat pameran lukisan Mahdi Abdullah. Di barat kota, Kawasan Blower. Jalan menuju Seutui.

Kenduri apam itu sebuah tradisi leluhur di Aceh. Saya sendiri tak tahu muasalnya. Kenduri apam ini secara khusus diperingati di bulan Rajab sebagai pemuliaan menjelang Ramadhan.

Cara membuatnya sangat sederhana. Tak memerlukan banyak bahan. Terbuat dari campuran tepung beras, santan, air kelapa, air putih, dan garam serta gula pasir.

Apam secara tradisional dimasak memakai pinggan tanah kecil dengan kayu bakar. Sekarang  banyak yang memasaknya memakai wajan aluminium, memakai kompor gas.

Apam biasanya dimakan dengan kuah tuhe. Kuah kolak santan yang manis. Bisa juga dimakan dengan kelapa kukur yang telah ditambah gula.

Setahu saya juga kenduri apam dulunya.. dulu sekali nggak ada proyeknya. Gotong royong gampong. Bisa juga gotong royong syedara. Yang dibagi-bagikan. Atau undang orang satu jurong.

Entahlah sekarang…. Kenduri apam juga harus lewat pokir…[]

  • Darmansyah, wartawan senior, penulis “Kolom Bang Darman”
Penulis: DarmansyahEditor: Redaksi