Nasir Djamil; dari Isu Cawagub, Cikal Bakal Garuda sampai Weu Leumo

Anggota DPR RI dari PKS, Muhammad Nasir Djamil menunjuk ke arah Tugu Bundaran Lambaro, Aceh Besar yang menurutnya di tugu inilah lokasi yang tepat untuk penempatan replika pesawat Seulawah RI 001. “Bukan di Lapangan Blangpadang sana, siapa yang lihat,” kata Nasir Djamil ketika melakukan perjalanan dengan Pengurus PWI Aceh ke kawasan Kuta Cot Glie, Aceh Besar, Sabtu, 18 Maret 2023. (Dok PWI Aceh)

BA’DA zuhur, Sabtu, 18 Maret 2023, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh, Nasir Nurdin didampingi unsur pengurusnya, Abdul Hadi, Sadhali, Pribadi plus Wakil Ketua Dewan Penasihat, Bustamam Ali berangkat ke Kecamatan Kuta Cot Glie, Kabupaten Aceh Besar. “Saya tunggu di Batoh, di Aira Showroom,” kata Muhammad Nasir Djamil, anggota DPR RI menjawab telepon ketika mobil yang kami gunakan bergerak meninggalkan Kantor PWI Aceh di kawasan Simpang Lima, Kota Banda Aceh.

Di tempat yang dijanjikan, Nasir Djamil sudah menunggu. Terlihat santai, mengenakan kaos krah merah dipadu celana semi jeans hitam, topi fedora, hand bag kulit warna coklat, dan sendal jenis shower slides.

“Nggak apa-apa kan nggak pakai sepatu,” katanya ketika Bang Bus (Bustamam Ali) memandunya masuk ke mobil.

Nasir Jamil, Anggota Komisi III DPR RI yang membidangi Hukum, HAM, dan Keamanan ini bukan sosok asing di kalangan wartawan. Sebelum mengawali karier politiknya sebagai anggota DPRD NAD pada 1999-2004, politisi kelahiran Medan, 22 Januari 1971 ini pernah bergabung sebagai wartawan Harian Serambi Indonesia, koran lokal terbesar di Aceh. Kini, Nasir dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sedang menjalani masa tugas periode ke-4 di DPR RI.

Mobil yang dikemudikan Abdul Hadi terus melaju membelah kesibukan Jalan Mr. Mohammad Hasan mengarah ke Jalan Soekarno-Hatta, jalur yang akan kami tempuh menuju ke timur kota, Kecamatan Kuta Cot Glie, Aceh Besar, sekitar 33 kilometer.

Nasir yang duduk di kursi depan langsung ‘tersengat’ ketika Bang Bus menohoknya dengan pertanyaan bagaimana persiapan menuju Aceh-1 pada Pilkada 2024.

“Sudah ada pasangan?,” tanya Bang Bus yang juga Wakil Rektor Bidang Administrasi Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Iskandar Muda (Unida) Banda Aceh.

Sebelum sempat Nasir menjawab, Bang Bus mengonfirmasikan satu nama politisi perempuan asal Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal yang disebut-sebut sangat ideal jika berpasangan dengan Nasir Djamil.

“Ya, semuanya bisa saja. Tetapi kita juga akan mempedomani hasil survei dan yang lebih penting bagaimana hasil pileg nanti,” ujar Nasil dengan argumen khas politisi kawakan.

Memecah kebuntuan, Nasir sempat memintai pendapat bagaimana kalau pilihannya jatuh pada anggota parlemen yang kini duduk di DPD RI, Sudirman ‘Haji Uma’.

“Setiap saya turun ke daerah-daerah, saya diminta menggandeng beliau sebagai calon wakil. Malah ada yang berspekulasi, kalau saya dengan Haji Uma, jadi itu barang,” ungkap Nasir Djamil mengutip harapan masyarakat.

Terhadap dua sosok cawagub yang mencuat pada diskusi dalam perjalanan ke Kuta Cot Glie siang itu, Nasir Djamil menandaskan tetap akan mempedomani dinamika yang berkembang hingga akhirnya melahirkan keputusan yang benar-benar tepat untuk kepentingan rakyat secara berkelanjutan, bukan kepentingan politik sesaat.

“Aceh harus ada perubahan, jangan begini-begini terus. Diperlukan gaya kepemimpinan yang kreatif, inovatif, cerdas, dan berani mengambil keputusan yang memberikan dampak nyata bagi rakyat, bukan dampak semu,” ujar alumni IAIN Ar-Raniry Darussalam, Banda Aceh dan Magister Politik dari Unas Jakarta ini.

Diskusi dengan Nasir Djamil siang itu tidak fokus pada satu tema. Bukan hanya membedah cagub-cawagub 2024. Diskusi kami ibarat genre musik campursari. Materinya muncul tiba-tiba. Sesuai apa yang terpikir dan terlihat.

Monumen Pesawat RI 001 Seulawah di Lapangan Blangpadang, Banda Aceh. (Dokumen Banda Aceh Tourism)

Ketika perjalanan memasuki Bundaran Lambaro, Jalan Nasional Banda Aceh-Medan yang salah satu persimpangannya dari dan ke Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Blang Bintang, mendadak tema diskusi berubah.

“Replika Pesawat RI Seulawah 001 akan kita pindahkan ke sini. Di sini lebih tepat dibanding di Blangpadang sana,” kata Nasir dengan intonasi sedikit meninggi, seperti menahan kesal.

“Di sana (di Lapangan Blangpadang, Banda Aceh) siapa yang lihat. Padahal nilai sejarahnya sangat tinggi. Kita ingin sejarah itu terus dibicarakan, menjadi tema diskusi, agar semuanya mendapat pengetahuan tentang Aceh,” katanya.

Menurut Nasir, jika replika pesawat RI Seulawah 001 itu ditempatkan di Bundaran Lambaro—di atas monumen yang dibangun khusus—akan menjadi perhatian setiap tamu yang melintas—termasuk tamu dari dan ke Bandara SIM Blangbintang. Akan muncul perhatian dan pertanyaan tentang benda antik tersebut.

“Di sinilah kita akan menjelaskan, misalnya dengan mengatakan, itu pesawat Garuda yang bapak/ibu tumpangi tadi, inilah cikal bakalnya. Yang disumbangkan masyarakat Aceh,” ujar Nasir Djamil. Dan, menurut Nasir, penjelasan seperti itu akan berkelajutan sampai kapan pun. Bukan hanya memunculkan kebanggaan, tetapi merawat sejarah agar marwah Aceh tetap terjaga.

“Itu contoh sederhana. Masih banyak hal lainnya yang bisa kita lakukan, termasuk dalam mengemas kekhususan yang dimiliki Aceh. Misalnya, dalam hal penerapan syariat Islam. Jangan sampai muncul olok-olok dari orang luar seolah-olah syariat Islam membunuh kreatifitas. Itu harus dibantah. Dengan apa? Dengan kreatifitas dan ide cerdas yang tetap dalam bingkai syariat,” tandas Nasir Djamil.

Diskusi dengan Nasir Djamil juga melebar ke tradisi meugang yang hanya ada di Aceh.

Tradisi meugang di Aceh. (Foto bisnisindonesia.id)

“Jangan cari meugang di daerah lain di Indonesia, tidak ada. Hanya ada di Aceh. Sayangnya kita seperti tidak punya ide untuk mengemas bahkan meng-entertain tradisi yang hanya satu-satunya di Indonesia (bahkan bisa jadi di dunia). Padahal kalau kita cerdas, meugang akan jadi salah satu daya tarik kunjungan wisata bernuansa syariah,” ujarnya.

Dalam konteks wisata meugang tersebut, misalnya, lanjut Nasir, bisa ditata sedemikian rupa, dengan menyediakan tempat khusus (tanpa mengganggu kebiasaan yang berlaku umum antara pedagang dengan konsumem).

“Pemerintah bisa memfasilitasi penataan tempat agar lebih nyaman, bersih, dan tentu saja aman. Dalam area itu dibuka pondok-pondok yang menyediakan kuliner khas dengan bahan dasar daging seperti sie reuboh, tumeh aceh, sop, dan lain-lain. Itu disediakan secara gratis untuk para tamu. Selain menikmati kelezatan kuliner meugang, juga ada kandungan edukasi di sana. Saya pikir ini cukup menjanjikan sebagai daya tarik wisata,” kata Nasir Djamil.

Curhat peternak

Di Simpang Ie Alang, Kecamatan Kuta Cot Glie, Jalan Nasional Banda Aceh-Medan berjarak sekitar 33 kilometer dari Banda Aceh, kami berhenti.

Kami menunggu panduan dari seseorang untuk menuju ke weu leumo (kandang peternakan sapi) di Gampong Mureu, Kecamatan Indrapuri, sejauh lebih kurang 2,5 kilometer dari Simpang Ie Alang.

Muhammad Nasir Djamil (baju kaos merah) didampingi ketua dan pengurus PWI Aceh, termasuk Wakil Ketua Dewan Penasihat, Bustamam Ali berada di weu leumo (kandang peternakan sapi) di Gampong Mureu, Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar, Sabtu, 18 Maret 2023 memastikan sapi yang akan dibeli untuk kebutuhan meugang PWI Aceh menjelang Ramadhan 1444 H/2023 M. (Foto PWI Aceh/Pribadi)

Jalan ke Mureu dari Simpang Ie Alang tidak terlalu bagus. Selain sempit juga ada bagian jalan kampung yang tidak beraspal. Kami sempat membayangkan suasana masa konflik ketika melewati jalan berkelok dan bersimpang seperti itu. Kami pun saling menghamburkan sejumlah kepedihan masa konflik, tak terkecuali Nasir Djamil yang suatu ketika sempat dicap sebagai ‘GAM berdasi.”

Di weu leumo, tak jauh dari pinggiran jalan kampung, kami berhenti. Beberapa warga terlihat duduk-duduk sambil bercengkerama. Kami memberi salam dan memperkenalkan diri. Bahkan ada yang langsung mengatakan kenal dengan Nasir Djamil. “Loen kuturi gopnyan,” kata seorang peternak bernama Abdul Salam.

Peternak mengeluhkan kondisi ekonomi yang sulit berkembang karena ketiadaan modal. Abdul Salam, misalnya, dia memelihara seekor sapi yang nilai jualnya sekitar Rp 17 juta.

“Kalau ini laku, saya akan beli dua anak sapi untuk saya pelihara lagi. Ini pun belum laku-laku. Padahal saya harus memenuhi kebutuhan hidup keluarga hari-hari,” kata Abdul Salam.

Abdul Salam juga menceritakan konsep bagi hasil memelihara sapi milik orang lain. Menurutnya, yang berlaku umum adalah konsep mawah. Setiap satu ekor sapi betina yang dipelihara, kemudian beranak yang pertama, maka bagi hasilnya adalah tiga kaki untuk orang yang memelihara dan satu kaki untuk yang punya sapi.

“Sedangkan ketika beranak yang kedua dan seterusnya, tetap bagi dua,” kata Salam.

Sistem mawah seperti ini, menurut Nasir sangat menginspirasi. Konsep itu sudah mereka godok. Diharapkan bukan saja berlaku di bidang peternakan tetapi juga sektor pertambangan.

“Aceh kaya potensi sumber daya alam. Dengan sistem mawah dipastikan akan memberikan keuntungan yang layak bagi pemilik lahan, tidak seperti selama ini, kalau pun ada CSR tetapi masyarakat tak pernah tahu bagaimana persentase pembagiannya. Yang kaya hanya pengusaha,” kata Nasir Djamil.

Menjelang sore itu kami berpamitan dengan peternak di Gampong Mureu setelah Nasir Djamil mendapat kepastian sapi mana yang dibelinya untuk meugang puasa tahun ini. Begitulah.[]

Penulis: Nasir NurdinEditor: Redaksi