A Cin Shenzen

Darmansyah

“NAMA saya A cin.” Begitu ia memperkenalkan diri ke saya.  A cin saya tahu nama kecilnya. Yang nama lengkapnya saya nggak tahu dan nggak ingat. A cin juga tak memberitahu dan tak mengingatkan ketika kami ketemu dua hari jelang Ramadhan.

A cin adalah teman kecil yang  menghidupkan kembali ingatan saya tentang slogan “kucing kuning atau kucing hitam.”

Slogan milik Deng Xioping. Yang kalimat utuhnya “tak masalah dengan kucing kuning atau kucing hitam yang perlu bisa menangkap tikus.”

A cin, sang teman, rupanya pengikut mazhab kucing…. Yang imamnya Deng Xiaoping. Imam yang terus ia sebut tafsir ajarannya ketika kami  berha..ha..ha.

Imam negeri seluas Cina. Sebanyak penduduk Cina. Yang kini makmur dan makmur…Yang terus ia kupas manifestonya sepanjang pertemuan kami.

A cin ini teman lama,, lama sekali… Teman kanak-kanak.  Teman ketika kami menunggu recehan sedekah yang  diselipkan penziarah di kuburan panjang tuan tapa. Di Tapaktuan… negeri ketelatan.

Teman bermain kasti atau petak umpet di “tampat” sebuah kompleks pekuburan tua. Yang entah dari mana hakikah namanya menjadi “tampat.” Yang saya tak pernah tahu siapa penghuninya. Saking tuanya.

Saya dan A cin dipertemukan kembali oleh sebuah grup media sosial. Whatsapp. Secara kebetulan. Kebetulan  karena ada postingan foto saya mengisi grup medsos itu sekalian informasi lengkap trah keluarga saya.

Yang menyebabkan A cin langsung menyapa saya di sebuah siang.  Menyebut namanya A cin. Langsung  bla..bla..bla  menyebut nama panggilan ayahnya, kerjaan ayahnya dan letak rumah tokonya.

Cress… langsung nyambung dengan memori saya. Memori yang sudah menguapkan nama utuhnya. Dan lupa menanyakan di dua kali perjumpaan.

Sebelum cres ha..hi..hu .. saya nggak ngah pada panggilan pertama di handphone. “Salah sambung,” guman saya karena  nomor panggilannya membuat saya bete. Sebab nomor panggilannya bukan milik  kartu hallo, telkomsel atau tri.

Gelengan saya juga disebabkan bahasa Indonesia-nya bercengkok setengah Cina dan setengah Inggris Canada. Campur aduk. Belepotan.

Bahkan ketika ia ngoceh sepenggal kata “gura”  negeri jamee sana lidahnya sudah penuh karatan.

Saya hanya bisa menimpali sapaan pertamanya di hari itu dengan a..a..a…ya..ya.. atau oya..oya.. yang nggak beraturan, Sapaan oral yang “hang..heng..”  Yang akhirnya saling sapa kami pindah dalam bentuk tulisan di aplikasi Whatsapp.

Saya tahu dia menggunakan ejaan kata berkalimat Inggris di pesan tertulis itu. Sebagai old jurnalis saya terbiasa dengan ejaan kalimat macam pesan milik si A cin. Pesan yang diterjemahkan guru bahasa google.

Sapa menyapa dalam ejaan yang diterjemahkan oleh google search itu terus bersambung. Panjang… dan seingat saya durasinya hampir dua jam. Dua jam karena persambungan akar kawat otak kami saling berpijar.

Yang di akhir sapaan itu kami janjian ketemu di sebuah pojok plaza senayan lewat prokem spidol untuk nama masing-masing. Gaya cama-cami di era perpeloncoan dulu. Hi..hi..hi

Gaya cama-cami yang kami ketawakan sepuas-puasnya saat menikmati bakso uu…eenak..nya mengigigit di lantai tiga mall dengn outlet tempat belanjaan orang berduit semacam keluarga Rafael Alun atau siapalah.

A cin sang teman memang seumuran dengan saya, Kepala tujuh pertengahan. Sama-sama masih fit. Yang usai sekolah lanjutan pertama dulunya diboyong pamannya ke Hongkong. Yang kemudian kepincut dengan ideologi sosialis.

Masuk ke Tiongkok. Ke Sichuan. Menjadi kader. Ikut hura-hura revolusi kebudayaan.Menjadi aktifis. Larut dengan pekik gaya pekerja. Yang kemudian tergagap. Lantas memberi aplaus sewaktu Deng Xioping naik panggung.

Pasang naik Deng ini membuat A cin boyong ke Shenzen  yang secara historis dikenal sebagai Sam chun sebuah kota di Guangdong.

Kota ini membesarkan A cin sebagai bagian pasang naiknya ekonomi Cina. Ia menjadi operator manajer di Huawei. Kehidupannya berubah. Banyak berlanglang buana menjadi cina kaya. Punya rumah di Ottawa, Hongkong dan Singapura.

Sering mudik ke Indonesia karena punya trah turunan di Sibolga dan Medan. Dan di Jakarta kali ini saya bisa ketemu. Ketemu untuk makan enak gratis.

Anda mungkin tahu Huawei sebagai produsen ponsel. Tapi Anda nggak tahu bagaimana gurita Huawei yang menenggelamkan teknologi digital milik kapitalis.. Yang menyebabkan presiden Trump jengkelnya ya ampun.

Jengkel karena Huawei yang melanggar kesepakatan karena memberi teknologi digital ke Iran. Yang menyebabkan putri mahkota Huawei ditangkap di Ottawa, Kanada. Diberi gelang kaki. Diadili. Yang tahun lalu dibebaskan.

A cin memang produk Huawei. Huawei dari Shenzen  di tepi timur muara sungai mutiara di pesisir tengah provinsi selatan Guangdong. Berbatasan dengan Hongkong di selatan, Dongguan di utara, dan Fuizhou di timur laut.

Kini, kata A cin,  populasinya tujuh belas jutaan. Kota ini menempati urutan ketiga terpadat di Cina setelah Shanghai dan Beijing. Yang di awal reformasi ekonomi didoktrinkan Deng  menjadi zona ekonomi khusus.

Karena letaknya yang dekat dengan Hongkong, Shenzhen dapat menarik investasi asing  dan migran yang mencari peluang. Termasuk menarik A cin yang sedang merintis karier tekhnologi informasi.

Yang menurut A cin dalam tiga puluh tahun, ekonomi dan populasi kota ini berkembang pesat dan sejak saat itu, kota ini muncul sebagai pusat teknologi, perdagangan internasional, dan keuangan.

Shenzhen kini menyandang  kota alpha. Kota global tingkat satu oleh globalization and word cities research network. Yang telah melampaui Hongkong sekaligus berada di antara sepuluh kota dengan ekonomi terbesar di dunia.

Karena kota ini merupakan pusat teknologi global terkemuka, dijuluki oleh media sebagai silicon valey cina. Sukses cepat Shenzhen menjadikannya roal model untuk kota-kota  di Cina.

Tentu semua isi tulisan saya ini datang dari A cin yang hafal bak abjad tentang Shenzen. Hafal juga tentang tetek bengek Cina sejak dari Mao Zedong hingga Xi Jinping. Tahu juga tentang Zao Rengzhi.

A cin juga yang memulihkan memori saya tentang Mao Zedong. Memulihkan bacaan saya dulu tentang revolusi kebudayaan miliknya.

Revolusi proletar yang menggiring penghuni perkotaan kembali ke desa. Revolusi mengayunkan cangkul.

Revolusi yang menjadi hafalan ketika Soekarno menyerukan ganyang neokolim dan membentuk poros Jakarta-Beijing.

Poros cangkul sebagai lambang proletar untuk menghabisi kaum borjuis perkotaan. Borjuis milik bekas teman seperjuangan Mao.  Nasionalis Chiang khai-sek.

Chiang yang entah diusir atau terusir tunggang langgang lari ke Formosa. Sebuah pulau yang kini namanya jadi Taiwan. Taiwan yang di konstitusi Cina masih provinsi milik Beijing. Provinsi yang kini  di ketiak Amerika.

Provinsi yang menjadi isu panas-dingin dalam hubungan Beijing-Washington. Isu rawan. Saling serang kata-kata dalam retorika “perang.” Entah perang rudal atau perang dagang.

Bagi A cin, Deng Xioping bukan hanya mentor malah sering disalawatkannya bak seorang nabi. Nabi yang ia katakan mereview ideologi komunisme dengan pemerataan distribusi pendapat secara  radikal.

Cina yang di bawah pimpinan Deng dengan angka pertumbuhan ekonomi ;uar biasa.

Deng, seperti kata A cin, meninggalkan banyak doktrin komunis ortodoks dan berusaha memasukkan unsur-unsur sistem perusahaan bebas dan reformasi lainnya ke dalam ekonomi Cina.

Saya memang pernah membaca tentang Deng putra seorang pemilik tanah. Yang di saat menempuh pendidikan di Prancis, dia segera menjadi aktif dalam gerakan komunis.

Yang kemudian kembali ke Cina sebagai organisator politik dan militer terkemuka.

Saat menjabat sebagai pemimpin Cina, Deng menjalankan kebijakannya sendiri untuk pembangunan ekonomi. Beroperasi melalui konsensus, kompromi, dan persuasi, ia merekayasa reformasi penting di hampir semua aspek kehidupan politik, ekonomi, dan sosial negara itu.

Salah satu reformasi sosialnya yang paling menonjol  adalah institusi program keluarga berencana yang paling ketat di dunia untuk mengendalikan populasi Cina yang sedang berkembang.

Ia  menekankan tanggung jawab individu dalam pembuatan keputusan ekonomi, insentif material sebagai penghargaan untuk industri dan inisiatif, dan pembentukan kader teknisi dan manajer yang terampil dan terdidik untuk menjadi ujung tombak pembangunan.

Dia membebaskan banyak perusahaan industri dari kendali dan pengawasan pemerintah pusat dan memberikan wewenang kepada para manajer pabrik untuk menentukan tingkat produksi dan mengejar keuntungan bagi perusahaan mereka.

Deng  mengklaim dirinya sebagai pemimpin politik signifikan Cina di bagian akhir abad lalu, dan salah satu yang warisannya terus berkembang.

Setidaknya dapat diperdebatkan, jika tidak pasti, bahwa jika bukan karena kekuatan kepribadiannya dan kesediaannya untuk mengambil risiko politik,  tidak akan ada proses percepatan pembangunan ekonomi.

Jika ekonomi Cina tidak mencapai tingkat pertumbuhan sepuluh persen per tahun dalam beberapa dekade kondisi Cina akan beda denga yang kita lihat hari ini.

Ya .. Deng.. seorang pria dengan ukuran kecil — yang tingginya tak sampai satu setengah meter — telah memberikan dampak yang sangat besar pada sejarah ekonomi dunia.

Mao Zedong mungkin telah menang dalam perang revolusioner berdarah melawan kaum Nasionalis, tetapi anak didiknya yang satu kali mendorong sebuah negara yang berisi seperempat populasi dunia ke era baru.

Sejarah lebih bersahabat dengan Deng ktinimbang Mao. Totalitas kontribusi Deng untuk transisi negaranya dari keterbelakangan ekonomi ke negara adidaya modern tidak dapat dilebih-lebihkan.

Pencapaian luar biasa Deng terlalu banyak untuk bisa ditulis, tetapi tiga tanggal menonjol dalam upayanya untuk mengatur negaranya di jalur, seperti yang dia katakan, “reformasi dan pembukaan.”

Fakta bahwa dia menggunakan kedua kata tersebut—reformasi dan keterbukaan.

Di akhir pertemuan saya dengan A cin yang bicara cerocosnya dalam bahasa Indonesia sering tergagap ia mengingatkan tentang warisan besar Deng adalah mengubah mindset Cina.

Mindset tidak berdosa jadi orang kaya dalam ajaran sosialis. Bukan mindset toke bangku milik anak kampung saya. Yang menjadi orang kaya lewat jalan dosa.

Jalan dosa yang Anda, saya dan siapa saja tahu, lewat pokir, bancak proyek, fee atau apalah.

Yang kerjaannya berjamaah…[]

  • Darmansyah adalah wartawan senior, penulis “Kolom Bang Darman”