.
.
.

Masih Cerita A Cin  

Darmansyah

KEJAYAAN ekonomi Cina telah selesai?

Itu pertanyaan saya ke teman lama yang bla..bla..nya saya tulis kemarin. Bla,,,bla…  A cin yang kini menetap di Ottawa, Kanada, yang kecipratan kapitalis. tapi nggak semok bak Amerika Serikat.

A cin memang sudah ada bau kapitalisnya. Yang saya ketawai sebagai kapitalis ala Shenzen. Yang bicaranya trading terus. Yang hafal banyak rumus bisnis dari pasar modal hingga save haven.

Saya bisa maklum kalau setengah badannya sudah dilumuri ideologi kapitalis. Walau akar otaknya sering bercabang ke ekonomi sosialis. Ekonomi tikus kuning dan tikus hitam milik imam. Deng Xioping

Permakluman saya itu karena ia lama bermukim di Shenzen menjadi operator manajer di huawei. Tidak hanya di Shenzen ia juga menjalani usia kanak di negeri jamee. Hongkong, Sichuan dan menetap di Ottawa. Jadi ideologinya sudah campur aduk.

Ideologi kuah beulangong. Kalau mau enak pakai…. Anda kan tahu… bisa jadi candu.

Jadi kalau ia menjawab sebuah pertanyaan spesifik pasti nggak ada jawaban konkretnya. Seperti jawaban yang ia berikan ke saya ketika kami menyantap mie rebus aceh di Tebet, Jakarta Selatan.

Jawabannya panjang tak ada kesimpulan.Yang akhirnya ia menyerah terhadap pertanyaan seorang teman jurnalis “carong:” Saya tak punya jawaban sepesifik.

Sudah… Itu haknya. Saya sendiri juga nggak punya jawaban. Paling melihat fakta.

Yang faktanya pertumbuhan ekonomi tinggi Cina memang bisa dibilang selesai kalau merujuk pada angka persentase. Yang kalau dulunya tingkat pertumbuhan rata-rata sepuluh persen per tahun. Kini hanya tumbuh lima hingga enam persen.

Di balik belukar angka itu ada semak lebat yang tidak bisa diabaikan. Ingat, jumlah penduduk mereka yang sangat besar. Makanya Cina tidak pesimis dan kini mereka mengusahakan pertumbuhan organik.

Saya menyodorkan satu fakta ke A cin bahwa pertumbuhan ekonomi Cina melambat akibat kebijakan mantan presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Kebijakan “Make America great again”. Kebijakan yang bisa dikatakan slogan. “Kita besarkan kembali Amerika.”

Slogan ini menghidupkan kembali sinyal kekuatan Amerika Serikat yang sesungguhnya di mata negara-negara lain.

A cin setuju aja ke fakta ini. Fakta ketika perusahaan raksasa tempat ia bekerja dan menjadi kapitalis Huawei terhambat langkahnya jadi nomor satu di dunia.

Perusahaan yang dikemplang Amerika untuk keluar dari negeri paman sam itu. “Bongkar dan pergi,” begitu yang saya kutip dari A cin tentang Huawei diperlakukan Washington.

Ada apa dengan “we make America great again” sehingga membuat kebijakan  Gedung Putih saat ini sangat dikha­watirkan dan dilawan oleh beberapa negara termasuk Cina?

Sebagai satu di antara penguasa perdagangan dunia maka Cina saat ini sedang menghadapi dilema.  Dilema perang dagang.

Yang merembes ke bea masuk antar barang impor  di antara keduanya. Saling terimbas. Ke banyak perusahaan dalam negeri mereka.

Untuk menyebut satu di antaranya adalah harley davidson  Dan perang kapitalis ini masih berlangsung sampai saat ini.

“Kita tunggu saja siapa pemenangnya atau imbang,” sela saya ketika A cin kepedesan menghirup kuah mie aceh-nya. Mie aceh kawasan Tebet di Jalan Dokter Saharjo.

Bagi Amerika sebenarnya mudah untuk menghancurkan negara lain dari ekonominya. Sebagai  buktinya kehancuran mata uang Turki, Lira. Terjerembab dan terjun bebas. Juga ada Iran dan North Korea

Kedua negara  masih menjadi sangsi ekonomi oleh Amerika Serikat dan sekutunya karena masih dicurigai dalam pengembangan senjata nuklir.

Sampai saat ini, tidak ada yang mampu melawan kebijakan yang dianggap kontrovesi dari  “we make Amerika great again” yang  berlawanan dari kebijakan sebe­lumnya.

Seperti yang saya ingat kala  John F. Kennedy membuat slogan hebat :“jangan ta­nyakan apa yang negara berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan untuk negaramu”.

Saya kepada A cin mengulang cerita tentang dinamika kepemimpinan. Kepemimpinan  yang ada orang mengaplaus atau merengut. Seperti kepemimpinan Bung Karno, Pak Harto, SBY atau pun Jokowi di negeri ini.

Kepada  A cin saya menghiburnya tentang Amerika yang liberal dan kaptalis. Tapi meninggalkan jejak hebat di tanah indatu saya.

Membantu ketika Aceh diayak gempa dan diterjang tsunami yang meludeskan jalan Banda Aceh-Meulaboh untuk dihakikahkan ke tubir laut.

Jalan yang kemudian di review kembali oleh  lembaga sosial asal  paman sam itu, USAID, menjadi jalan non-tol terbaik di Indonesia.

Dan A cin saya tantang untuk mudik dan menjajal jalan Banda Aceh-Calang yang mulusnya bak higway seperti yang pernah dibangun presiden Eisenhower usai perang dunia kedua.

USAID yang di setiap era di negeri ini selalu membantu program-program pemerintah dalam bidang pendidikan, sanitasi.

Kebijakan “we make America great again” menyebabkan  banyak perusahaan multi nasional  harus menata ulang strategi bisnis global mereka.

Dulu, semua ke Cina dan Cina. Karena murah dan mudah.

Itu masa lalu.

Sekarang angin perubahan di Amerika berembus. Jepang dan Eropa tentu mengekor. Terutama Jepang yang jadi makmum  dengan kata amin setiap titah Washington. “No matter right or wrong.” Mau masuk lubang semut juga akan ikut.

Perusahaan multi nasional, sejak lima  tahun lalu mulai memindahkan basis produksi mereka keluar Cina. Entah ke Vietnam, India, Thailand atau bahkan ke Amerika sendiri.

Vietnam dan India menjadi dua negara yang sangat diuntungkan.

Indonesia?

Ya…..telah kehilangan kesempatan emas ini. Indonesia tidak serius dan dianggap terlalu dekat dengan Cina. Samsung, misalnya. Bisa dibilang sudah memindahkan hampir seratus persen produksi ponselnya ke India dan Vietnam.

Indonesia kebagian. untuk pasar domestik.

Selain Samsung, LG, Intel, Microsoft juga hengkang. Bahkan Foxcon, produsen produk apple, nggak ragu membangun pabrik di luar Cina.

Itu sedikit contoh dari sekian banyak gerakan perusahaan global melawan dominasi Cina. Yang Indonesia sendiri terbelit dan membelitkan diri.

Terima kasih A cin. Terima kasih bakso plaza senayan dan mie aceh sahardjo gratis yang bayarannya saya balas dengan dua tulisan. Hi..hi..hi..[]

  • Darmansyah adalah wartawan senior, penulis “Kolom Bang Darman”