.
.
.

Jalan Tenang

Darmansyah

BEGITU banyak hujatan yang langsung dan tak langsung nempel di whatsapp grup dan facebook untuk saya. Whatsapp grup  yang saya ikut sebagai anggotanya.

Hujatan usai saya menulis “petir kejujuran” di dua april lalu. Tulisan yang nggak “depth” amat.

Hanya tulisan datar. Secara reportoar tak punya greget. No investigasinya. Hanya kutipan kuplet-kuplet. Kuplet di banyak news yang kemudian saya kumpulkan dan itulah tulisan “petir kejujuran.”

Saya tahu alasan penghujat “petir kejujuran itu.” Kesannya saya membela Sri Mulyani. Menteri Keuangan yang dikesankan sebagai pembohong di debat komisi tiga de-pe-er dengan topik cuci uang.

Debat polemik transaksi mencurigakan tiga ratus empat puluh sembilan triliun rupiah sebagai buah silang pendapat  laporan PPATK. Yang hasilnya masih soh. Makin bikin bingung.

Bingung usai  Mahfud MD meletuskan agregat. Agregat  Mahfud yang menkopohukam tentang cuci uang  sebesar tiga ratus triliun rupiah. Yang angka nanjak ke ketiga ratus empat puluh sembilan triliun rupiah

Agregat yang diumbar ke publik bak lemparan bola api liar. Sulit dikendalikan karena sumbunya sudah meledak. Pecahannya bertabur ke mana-mana.

Bola api  yang tidak dikonsolidasikan pasti menimbulkan pro kontra serta kegaduhan. Buntutnya saling bantah.

Baik kegaduhan dan bantah-membantah, bagi saya,  memang sudah menjadi “trade mark”  pejabat pemerintahan. “Trade mark” yang  yang dikeplok  jempol jari netizen lewat sorak: hamburkan saja.

Lantas bagaimana dengan sikap Sri Mulyani yang dibantai netizien. Ia memilih jalan tenang, Seperti dia saya juga memilih jalan tenang di skala bawah. Medsos grup.

Sri Mulyani,  tokoh yang dikagumi banyak orang itu terus  terseret-seret – terpojokan. Saya tahu dia tak bisa menghindari karena kasus-kasus tersebut memang terjadi di instansi yang dipimpinnya.

Toh  saya percaya permainan  akhir dari kasus cuci uang ini akan berakhir happy end. Sekali lagi toh, Sri Mulyani nggak  mengelabui siapa pun. paling ia dikelabui oleh anak buah.

Saya tak menolak hujatan tentang ketokohan Sri Mulyani yang saya tulis. Ia memang tokoh kok. Tapi saya tak menyangkal ada unsur  berlebihan yang saya selipkan dan melahirkan prosocial behaviour.

Prosocial behaviour ini sebenarnya positif. Ia merupakan tingkah laku menguntungkan orang lain yang dilakukan atas dasar sukarela tanpa mengharapkan imbalan apapun dari orang tersebut.

Toh saya menulisnya semata-mata karena kekaguman.

Cilakanya kekaguman menjadi be neutral, guys!!

Sikap ini  seakan-akan menjadi bias seolah-olah saya  tidak rela sedikitpun tokoh tersebut disentil apalagi dipojokan oleh kasus-kasus tertentu!!

Mungkin saja benar tokoh yang kita kagumi tersebut bersih adanya, tetapi bagaimana dengan bawahannya??

Bisa saja terjadi bawahannya tersebut secara berkelompok melakukan sesuatu yang melanggar hukum secara rapih sambil mengelabui sang atasan.

Bagaimanapun juga seorang atasan bukanlah manusia super yang serba tahu semua gerak-gerik bawahannya tersebut secara detail.

Oleh karena itu, kasus-kasus yang terungkap ke publik biarkanlah bergulir secara transparan, sehingga akar masalahnya bisa diketahui. Selain untuk penegakan hukum, juga akan menjadi acuan untuk tindakan pencegahan.

Seperti kasus yang terjadi di kementerian keuangan yang terungkap ke publik lewat kasus anaknya eh nyerempet ke harta kekayaan. Kekayaan yang kemudian digiring kapeka ke ranah gratifikasi.

Gratifikasi dari celah sistem pajak  self assesment dan celah ini akan selalu ada. Anda mungkin bisa beri saran agar sistemnya diubah. Ubah saja semua pajak dibuat final, atau anything…

Dalam self assesment seperti yang saya tahu, karena anak saya yang beritahu, karena ia consultan pajak, alur pelaporan dan pembayaran pajak  dimulai  dari wajib pajak sendiri. Ia menilai, membayar dan melaporkan.

Kantor pajak yang akan menilai kewajaran, dan sampai kepada misalnya pemeriksaan  Setelah pemeriksaan, umumnya hasilnya adalah kurang bayar.

Nah. perusahaan bisa melakukan sanggahan sampai kepada pengadilan pajak. Pertanyaannya adakah celah untuk perusahaan dan kantor pajak “bermain”?

Ya… ada. Di temuan yang tentu bersangkutan dengan berapa pajak terutang. Teknisnya  tak perlu dibahas, karena tidak akan ada trace-nya.

Akan sangat mudah disanggah. “Skema”  juga tidak perlu dibahas, karena pasti tidak akan ada jejaknya.

Makanya dari sini pula  Sri Mulyani dan kementerian keuangan kelihatan pilih jalan tenang. Mereka tidak berniat bantah-membantah data PPATK milik Mahfud. Tiga ratus empat puluh sembilan triliun rupiah.

Seperti yang saya dengar dari seorang teman mereka memilih untuk merawat kerja yang sudah ada. Mereka saling berkomunikasi. Sangat lancar. Saling berbagi beban.

Seperti juga dibisikkan sang teman Sri Mulyani sendiri di hari-hari terakhir deadline seperti munggah dari jalan juanda, pasar baru, kantor kementerian keaungan, ke kantor djp-direktorat jenderal pajak, di gatot subroto.

Ia tak peduli dengan  datangnya petir baru. Yang penting baginya kerja,,, kerja,,, di jalan tenang untuk menghimpun duit pajak.

Soal lurus meluruskan ia bebankan jatah wakil menteri dan pejabat setingkat sekjen.  Dan ternyata petir baru nggak datang hong.. long..long,,,.

Dari sikap Sri Mulyani yang tak meladeni bagi saya  sudah terbaca semangat kebersamaan dan kerukunan yang ia pupuk. Ia tak ingin ada yang terluka.[]

  • Darmansyah adalah wartawan senior, penulis “Kolom Bang Darman”