Pragmatis Penjilat

Darmansyah

BUKA puasa kami kemarin di resto “seribu rasa” kawasan senayan nyaris tanpa gereget. Padahal menunya semua pilihan.

“Maknyuss”…. untuk meminjam prokem satu kata tokoh kuliner Bondan Winarno. “Seribu rasa” yang harga porsinya Andalah yang tahu hitungannya.

Muasalnya  teriakan seorang peserta menjelang buka. Peserta yang meledakkan kejengkelannya ketika melihat sosok seorang politisi bicara di layar sebuah stasion televisi yang dulu ia jadi bosss.. kecilnya.

Stasion televisi  itu “breaking news” menjelang buka.

“Penjilat!!”

Kami hening usai dentang teriakan itu. Bingung. Saling tatap dengan mulut terkunci. Padahal sebelum teriakan itu kami saling sapa hura-hura nostalgik kenangan.

Nostalgik seperti bait syair dendang milik Tety Kadi. “Sepanjang jalan kenangan.”  Yang kalau Anda pernah mendengar denting melodinya dalam ritme tetabuhan drum menghentak.. wuih…

“Sepanjang jalan kenangan kita saling bergandeng tangan, sepanjang jalan kenangan kau peluk diriku mesra,

Hujan yang rintik-rintik di awal bulan itu, Menambah……kemeseraan malam syahdu…”

Wajar saja, “sepanjang jalan kenangan” buka puasa ini dari komunitas gaek. Pemula yang tersisa dari jurnalis sebuah media hebat di awal tujuh puluhan.

Era yang kami sepakati sebagai komunitas “malari.”  Yang Anda mungkin nggak tahu atau nggak perlu tahu…. plus bisa saja tak mau tahu tentang malari.

Malapetaka lima belas januari. Peristiwa demonstrasi mahasiswa yang berujung kerusuhan besar yang berawal dari rencana kedatangan perdana menteri jepang Tanaka Kakuei dikaitkan investasi asing.

Yang kami pernah meliputnya bersama dan mulai menjadi jurnalis benaran di era itu. Era malari.

Peristiwa itu menyebabkan sebelas orang tewas, seratusan luka-luka dan tujuh ratus lima puluh lainnya ditangkap. Pentolanya Hariman Siregar. Dan lokasi pergerakannya  di mulai dari salemba.

Salemba yang kampus ui. Satu arah mata angin dari markas media kami. Sebelum ui pindah ke depok, bogor, di sebuah masa.

Mahasiswa menyambut kedatangan Tanaka di halim Tak bisa masuk. Esoknya  mahasiswa kembali demo menuntut  kesetaraan penanaman modal asing yang menguntungkan kelompok tertentu

Tuntutan melebar ke pemberantasan korupsi, dan pemenuhan kebutuhan pokok. Selain tiga tuntutan itu, mahasiswa juga menuntut dibubarkannya aspri. Tiga tuntutan tuntutan ini di peras menjadi tritura.

Tutntutan ini berakhir ricuh. Ricuh besar. Ada yang memprovokasi dan terprovokasi. Aksi yang melebar ke pengrusakan, pembakaran, dan penghancuran merek mobil Jepang.

Kerusuhan yang semula terjadi di jalan sudirman meluas hingga ke senen tempat media kami berkantor. Di lantai empat pusat perbelanjaan yang ikut dijarah.

Aparat keamanan menyalahkan mahasiswa sebagai dalang di balik kerusuhan tersebut. Mahasiswa menyanggah dan menyebut aksi yang mereka lakukan dari salemba ke grogol berlangsung damai.

Setelah kerusuhan banyak pembantu soeharto dicopot hariman siregar sendiri yang dalam posisi ketua dema ui dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman penjara.

Banyak kebijakan diubah. Yang asisten pribadi bubar. Dan dibuka puasa bareng itu juga kami saling sentil karena  dalang utama di balik kerusuhan malari itu tak diketahui.

Sejarah peristiwa malari jadi merek komunitas kami karena fenomenal keroyokan tulisan itu menjadi laporan khusus terbaik yang pernah ada di dunia jurnalistik.

Selain geregetan teriakan menjadi acara buka puasa kami itu melandai dampaknya juga menyenggol  safari saya untuk menulis lanjutan sepakbola “gangster” algeria di pelataran klub elite euro liga tertunda.

Saya tawaqallah saja terhadap hilangnya geregatan buka puasa dan bergesernya “angle” pikiran saya untuk menunda tulisan “gangster algeria.” Peg-news teriakan “penjilat” sang teman peserta buka lebih aktual.

Aktual karena yang di”breaking news”kan stasion televisi itu jauh  lebih menarik dan penting. Menarik dan penting adalah dua kata yang lahir dari model tulisan di media rumah persinggahan saya dulu.

Menarik dan penting karena tokoh di “breaking news” itu adalah seorang pragmatis. Pragmatis dalam pola pikir dan peta jalan hidupnya. Pola pikir cara selamat yang mengesankan sebagai penjilat.

Apalagi yang diumbarnya di  jeda “news” adalah mengenai bakal calon presiden di pilpres tahun mendatang. Bakal calon yang bisa mengamankan posisinya sebagai……

Ya biasalah seorang pragmatis yang kalau ada tambah kata “me”nya. Pragmatisme. Sifat atau ciri seseorang yang cenderung berfikir praktis, sempit dan instant.

Orang yang mempunyai sifat pragmatis ini menginginkan segala sesuatu yang dikerjakan atau yang diharapkan ingin segera tercapai tanpa mau berfikir panjang dan tanpa melalui proses yang lama.

Seperti yang dikatakannya dalam news di televisi itu tentang pengelompokan politik plus koalisi-koalisi pencalonan presiden dan wakil presiden, yang sudah bisa dibaca per hari ini.

Ada barisan-barisannya. Ada kalkulasi persentase elektoralnya. Ada juga presidential threshold-nya Nama barisannya juga macam-macam. Saya nggak hafal.

Pokoknya ramailah. Ramai dengan kubu-kubuan. Saya nggak tahu apakah kubu-kubuan ini akan saling melempar kata-kata “kadrun” atau “cebong” lagi. Seperti dulu…. Nampaknya sudah mulai.. Hahaha…

Kadrun  sebuah singkatan dari kadal gurun. Julukan yang dikemas kepada kelompok yang berpikiran sempit, terutama yang dipengaruhi oleh gerakan ekstremisme dan fundamentalisme

Stigmanya radikal.

Saya dulu pernah menulis tentang makna kadrun ketika disemat kepada kelompok yang mabuk dan berjubah agama, yang menghalalkan tindakannya -termasuk tindak kekerasan- dengan dengan balutan agama.

Kelompok kadrun ini memaknai terma agama hanya sesuai dengan keinginan-keinginan mereka saja. Seperti penggunaan terma kafir dan jihad.

Kubu kadrun di cap menggunakan terma  jihad dalam konteks peperangan saja.

Sehingga dengan menggunakan slogan jihad, mereka menentang pemerintah yang sah, mendiskretsikan kelompok yang berseberangan, dan melakukan kekerasan dengan tindakan agama.

Cebong? Anda sudah tahulah. Akar kata kacebong. Dibuat dua huruf awal/ Jadi cebong dan itu berate anak bayi katak. Entah….

Landscape dan latar politik politik kadrun dan cebong inilah yang kini terus terpantau dalam  perkembangan dan dinamika politik yang ada untuk menemukan sekutu ataupun kawan

Kawan untuk dijadikan “soulmate” politik menghadapi pilpres. Peluang yang sering digadang-gadang oleh para elit untuk mendapatkan pengesahan dalam oligarki besar.

Oligarki siapa menghadapi siapa. Yang kalkulasinya ampun rumitnya dan alternatifnya tergantung cuaca yang di sodorkan oleh analis, akademis plus di tuntaskan oleh lembaga survei.

Nggak percaya? Pelototi saja tulisan seliweran tulisan analis. Baca saja hasil survei. Anda sendiri bisa memilah lewat latar belakang analisnya. Apa ada muatan kepentingan atau apalah…

Tentang hasil survei Anda pasti lebih mumpuni dari saya. Ada yang tawaduk menerimanya. Ada yang berang terhadap metedologinya. Dan ada bersorak membacanya. Terserah saja.

Bagi saya haqulyakin lembaga survei bukan bacaan macam kitab suci. Bagi saya tafsirnya interest. Kepentingan. Bisa cuan dan bisa apalah…….

Terlepas dari segala macam analisa dan survei, saya yakin apapun kubu dan koalisinya  posisi politiknya belum ada yang “terkunci”

Masih akan ada cerita baru. Seperti cerita koalisi besar yang membuat koalisi indonesia raya soh. Ya, masih  banyak peluang mencari tempat parkir  dikalangan para sopir partai

Bagaimanapun, peta pengelompokan politik ini masih temporal sifatnya.

Peta bisa berubah jika ada pergeseran lempeng politik, terutama jika salah satu kandidat presiden potensial  berpindah haluan.

Perubahan keputusan politik dalam koalisi-koalisi atas capres dan cawapres sangat bisa terjadi karena di satu sisi santer di-framing di ruang publik

Aura seperti itu saat ini tak bisa dipungkiri. Aura dari pragmatism penjilat. Penjilat yang seperti dipekikkan teman peserta buka puasa saya yang menyebabkan aroma menu “seribu rasa” jadi hambar. []

  • Darmansyah adalah wartawan senior, penulis “Kolom Bang Darman”