Profesor Kaliandra

Darmansyah

SAYA memang merencanakan untuk bertemu dengannya. Sejak saling sapa kami makin intens selama setahun terakhir. Yang saya banyak bertanya kepadanya. Karena ia banyak tahu.

Saling sapa dari dulu memang tak pernah putus. Hanya interval durasinya sering putus sambung oleh jarum waktu.

Durasi karena kesibukannya membangun trah di sebuah perguruan tinggi bintang dua. Bukan berati perguruan klas dua.

Perguruan tinggi skala regional. Yang dikereknya entah dengan apa menjadikannya melambung. Bersanding dan bertanding dengan perguruan tinggi yang lebih dahulu dihakikahkan.

Mungkin mantra tenung dan terawang. Seperti tenung di negeri saya. Tenung jalan pintas. Tenung  yang memadukannya dengan gerak memutar ala silat kungfu.

Plas… plus… Sesuai dengan postur utuh dirinya. Postur gerak cepat dan sambar sana sini.

Saya terkagum-kagum kelincahannya membangun perguruan tinggi itu hingga mampu mensejajarkan dengan perguruan tinggi skala regional yang ada di negeri ini. Perguruan tinggi negeri regional.

Padahal saya tahu persis perguruan itu ditahbiskan paling belakang. Tahu karena pengasuh pertamanya saya panggil abang penuh. Abang yang ada temalinya Alfian Ibrahim..

Alfian seorang humble. Lelaki kalem yang  tuturnya selalu terukur. Alfian yang satu gelanggang silat dengan sang teman. Gelanggang kampus tekad bulat dengan prodi pendidikan yang sama.

Dan ketika kemudi beralih ke sang teman, perguruan tinggi  ia bawa berlari bak seorang sprinter, Cepat sekali. Berbenah dan berbenah. Dan blas.. blass… menyambar banyak award. Banyak pujian.

Ketika ia harus “soh” karena aturan main nggak boleh lanjut untuk tiga periode di perguruan tinggi udah siap pakai. Established.

Perguruan tinggi itu adalah Universitas Teuku Umar.  Sebutan pop-nya utu. Utu di  Alue Peunyareng, Meulaboh, Aceh Barat.

Setelah ia soh dari perguruan tinggi itu  intensitas saling sapa kami pulih kembali.

Saling sapa yang mencungkil banyak memori. Dari memori kenangan kala dia masih sebagai penulis junior di media lokal yang saya gawangi, hingga ke hal remeh temeh.

Remeh temehnya Anda mungkin bisa cekikan. Sepele. Minta nomor telepon seseorang.  Hang..hing.. heng tentang dekor pelaminan. Yang saya tahu istrinya punya usaha itu. Atau tanya informasi apa saja tentang apa saja.

Gilaa…. saya sering jadul kalau mengingat setiap kali sapa itu. Sapa jadul untuk seorang guru besar yang strata doctoral dan master…. Yang gelar kerennya profesor.

Profesor yang seperti Anda tahu adalah guru senior.  Seorang guru berpangkat tertinggi di universitas. Guru senior bukan dari anugerah. Gelar profesor sang teman karena ia seseorang yang sangat menguasai cabang ilmu tertentu.

Bukan profesor abal-abal. Yang banyak disandang politisi, pengusaha. Yang diberikan karena apa dan apa.. Mungkin preman pensiun bisa juga mendapat anugerah ini.

Agar Anda juga tahu jabatan guru senior ini sebenarnya berada di tataran fungsional. Fungsional setelah melewati masa magang di asisten ahli, lektor, lektor kepala yang ujungnya  baru guru besar atau profesor.

Kembali ke pangkal jalan cerita, rencana  awal bertemu dengannya… Nya yang professor itu: Jasman Makruf … sempat tertunda karena ada kesibukan kecilnya di pemko banda aceh. Dan harus dijadwal ulang.

Diulang untuk disepakati di sebuah cot uroe..  Yang janjian  di pertemuan itu si  guru senior, Jasman,  yang akan menunggu saya. Saya ketawa saja tawarannya sebagai penunggu.

Maklum… saya kan lebih…. darinya. Lebih umur….

Lokasi  tunggunya sangat khas awak nanggroe. Keude kupi. Keude kupi yang semua urusan bisa tunai. Maksudnya selesai.

Dakwa dakwi yang kental pun bisa meleleh di keude kupi. Apalagi kalau di keude kopi solong di barisan pertokon ulee kareng.

Ketika janji itu terpenuhi di sebuah pagi saya sempat tersesat. Nggak tahu di pantat pertokoan tempat tunggu itu ada area privat.

Area privat yang saya tidak pernah masuk lorongnya Yang menyebabkan saya nyasar  lewat pintu depan dan dicegat seorang junior yang akrab menyapa saya abang dan guru,

Entah guru apa. Padahal ia seorang dosen plus pembantu rektor di sebuah pergiruan tinggi. Biar ajalah panggilan itu sampai  menguap. Yang jangan sapaannya ada disertai guru titik..

Cegatan itu hampir saja menjadi duek pakat untuk merangkai haba. Untung saja buyar karena Jasman datang menjemput ke ruang depan.

Lantas  saya digamitnya untuk tidak lepas lagi ke meja lain langsung ditawarinya dengan kuliner pagi. Kuliner beu gurih.

Pagi itu pun kami saling tukar sapa. Sapa informasi bawah meja   Bukan informasi pelataran yang saya bisa dapatkan di banyak medium.

Lagi pula saya ingin pencerahan tentang pengelolaan negeri ini. Sebab saya tahu ia guru besar strata tiga manejemen pemasaran Pasti segepok informasi yang menjadi kemasannya.

Saya ingin tidak hanya kemasannya yang ia buka. Tapi ingin sekalian  isinya.

Dan mulailah bla..bla..bla kami menjalar. Menjalar tentang tipikal kepemimpinan, perencanaan hingga eksekusi kebijakan.

Tidak hanya di tataran itu.

Secara spesifik kami juga bicara tentang peluang investasi, demografi, bahkan sampai ke tipikal personal kepemimpinan.

Kepemimpinan yang carut marut di puncak piramidanya Kepemimpinan aneuk nanggroe. Kepemimpinan yang kini menjadi ghibah di ranah antah berantah tentang banyak kasus.

Kasus yang membelit. Entah kasusnya membelit Anda atau siapalah. Siapa yang menanam pokir tentu menuai fee.

Tidak cukup itu. Kami juga bicara tentang banyak hal di luar itu. Di luar yang lebih produktif. Seumpaman tentang  greenemic yang digagasnya untuk penghijauan dengan menanam jenis kaliandra.

Kaliandra yang saya sedikit mafhum tentang green energi. Kaliandra yang dijadikan pelet.

Pelet pembangkit listrik pengganti batubara dan migas yang enerjinya hijau dan baru terbarukan.

Tentu bukan saya yang banyak ngomongnya. Otak saya kan putarannya news. News yang ada peg-nya, balance, reportingnya belum lagi crosscheck-nya. Ahhh..jadi heng kalau dilanjutkan.

Dari banyak tukar sapa itu ada satu anekdot yang ia ceritakan tentang kecerdikan jadul seorang gubernur di aceh dulu..

Jadulnya,…membuat saya ngakak.. Ngakak terhadap jawaban sang gubernur disebuah pertemuan dengan para ulama yang mengeluhkan banyak masjid yang menyimpang dari sebuah mazhab.

Jawaban gubernurnya, seperti di rangkai kembali oleh Jasman, “ Apakah para tengku sudah bertanya dengan malaikat bahwa mereka menyimpang. Kalau sudah ada jawaban malaikat datangi saya kembali”

Woouu… yang pasti tengkunya nggak datang lagi…

Sebenarnya saya ingin menulis bab pertemuan itu dalam sekali pancung. Tapi saya mikir panjang.. ngapain. Keteng saja. Bisa banyak judul, Sebab anglenya beda, Saya amin saja. Tinggal cantelkan saja news peg-nya kan klar.

Di pagi itu banyak informasi yang saya himpun  dari sang guru senior. Guru senior  yang selama dua periode sebagai rektor  di Universitas Teuku Umar.

Rektor yang saya kagum dengan bukunya “assessment center ” terbitan gramedia pustaka utama.

Jasman yang kini enam puluh dua tahun masih bugar.  Bugar juga diingatan saya tentang Meukek sebagai tanah persadanya. Bugar juga ketika ia back to campus  sebagai guru senior  manajemen pemasaran.

Selain  itu ia juga mengajar berbagai mata kuliah yang sesuai untuk peminatan, baik di tingkat sarjana, magister, maupun doktoral.

Sebelum ditabalkan sebagai rektor Jasman pernah  menjabat sebagai pj bupati aceh jaya dan kepala dinas kebudayaan dan pariwisata provinsi.

Saya sendiri punya catatan tentang  eksistensi universitas teuku umar. Yang akrab diakronimkan utu. Di  di jalan alue peunyareng, ujong tanoh darat, meurebo

Utu yang kini menjadi incaran para calon mahasiswa yang berdomisili di barat aceh selatan

Yang katalognya jalur masuk dan berbiaya murah

Keberadaan kampus ini dimulai sejak tahun seribu sembilan ratus delapan puluh tiga ketika  ulama dan pemuka masyarakat berserta pemerintah daerah merintis berdirinya sebuah yayasan pendidikan

Tujuan utama adalah mendirikan perguruan tinggi swasta. Yayasan itu terwujud setahun kemudian dengan nama  “yayasan pendidikan teungku dirundeng”.

Yayasan yang kemudian mewujudkannya lewat sebuah sekolah pembangunan pertanian-akademi pertanian untuk kemudian dihakikahkan menjadi perguruan tinggi. Universitas Teuku Oemar Djohan Pahlawan”

Dalam perjalanan, nama perguruan tinggi di sederhanakan. Cukup dengan Universitas Teuku Umar. Utu. Utu yang dinegerikan dua april  sembilan tahun silam.

Utu yang memiliki rektor defintif Prof. Dr. Jasman J. Ma’ruf, SE, MBA

Utu yang usai ditinggalkan Jasman digantikan penjaga  gawangnya oleh Dr. Drs. Ishak, M.Si sebagai rektor setahun silam

Pengembangan Universitas sebagai Perguruan Tinggi yang berada di Kawasan Pantai Pesisir Barat Selatan Aceh, terkemuka yang bertaraf regional, nasional dan internasional dalam penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan serta relevan dengan kebutuhan dan tuntutan zaman.

Melaksanakan pendidikan untuk membentuk dan menghasilkan lulusan yang berkarakter kepemimpinan yang bijaksana, berwawasan persatuan dan kesatuan bangsa serta kemanusiaan, inovatif, mandiri, berjiwa wirausaha, mampu berperan di Forum regional, nasional dan Internasional, serta unggul dalam kemampuan akademik dan professional dalam disiplin ilmunya.

Menyelenggarakan proses pembelajaran yang produktif, efektif dan efisien, dengan memberikan pendidikan yang optimal dan merata serta mewujudkan iklim dan budaya akademik yang kondusif sesuai dengan pedoman tata nilai kejuangan Teuku Umar.

Melaksanakan Pembinaan Mahasiswa dan alumni secara terpadu dan berkelanjutan untuk menumbuhkan budaya kebanggaan dan cinta almamater serta kerjasama antara mahasiswa, alumni dan sivitas akademika.

Membina Universitas yang berorientasi pada penelitian dengan mengembangkan sumberdaya manusia.

Mengembangkan kerjasama dan kemitraan institusional yang saling memberi nilai tambah dalam bidang pendidikan tinggi dengan lembaga pendidikan tinggi, dunia industri dan Lembaga masyarakat baik di dalam maupun di luar negeri.

Menjaga keberlangsungan (sustainability) Universitas dengan meningkatkan kemampuan manajemen dan kualitas sumberdaya pendidikan agar produktif, profesional, efektif dan efesien, memenuhi persyaratan regional, nasional dan internasional serta meningkatkan terwujudnya otonomi yang bertanggungjawab untuk keberhasilan pencapaian tujuan Universitas secara optimal.

Jasman J Ma’ruf mengatakan hasil yang sangat membanggakan ini tidak lepas dari kerjasama semua pihak yang terkait sehingga hasil optimal berhasil diraih. Beliau juga menegaskan bahwa walaupun secara peringkat UTU terjadi penurunan 1 tingkat, namun dari segi skor total penilaian terjadi kenaikan yang sangat signifikan. Hal ini membuktikan bahwa UTU sangat berkomitmen dan konsisten dalam rangka menjadi kampus berkelanjutan di Indonesia.

UI GreenMetric merupakan pelopor dalam pemeringkatan melalui pengembangan alat ukur kampus berkelanjutan dan hijau yang kini telah banyak diadopsi oleh Perguruan Tinggi di dunia. Dalam penilaiannya, UI Greenmetric menggunakan 6 indikator yaitu, Setting and Insfratructure, Energy and climate change, Waste, Water, Transportation, dan Education. Berdasarkan ke-6 kriteria tersebut, kampus dituntut untuk bisa menerapkan konsep keberlanjutan dalam berbagai aspek secara konsisten. []

  • Darmansyah adalah wartawan senior, penulis “Kolom Bang Darman”