Geng Algeria

Darmansyah

HARI ini saya terbebas untuk menulis dengan topik apapun. Bebas karena nggak ada lagi “news peg” yang membelenggu. Peg yang kemarin-kemarin  membelenggu otak saya.

“Peg” tiga ratus empat puluh sembilan triliun rupiah agregat cuci uang. Yang hebohnya masyaallah. Karena besarnya subhanallah.

Peg cuci uang itulah yang membuat saya  terpaksa menunggu untuk terus menulis bebas dengan tema dan topik apapun. Cuci uang yang menjadikan saya diikat menulis tiga judul.

Mungkin Anda sudah baca. Petir kejujuran, jalan tenang dan elegant telak ani.

Anda perlu tahu, “news peg” di lingkungan jurnalis bukan hanya jargon. Ia pasak berita. Bukan pasak bumi seperti pernah tenar sebagai obat “strong.” Dulunya,…. dan tenar sekali. Produk dayak.

Maaf ….kali ini juga ada yang tenar dari kata dayak.  Saya mohon jangan kait-kaitkan ke “news peg”  dayak. Namanya ida dayak yang digandeng si sorban ngabalin sebagai promotor gratisannya.

Pasak “news peg” itu dikalangan jurnalis sering juga disebut pelatuk berita, momentum berita, cantelan berita, pokok berita, topik atau peristiwa aktual yang menjadikannya sebagai news value. Nilai berita.

Tanpa “news peg” berita itu tak punya nilai. Sampah. Kalau Anda ketemu berita beginian jangan baca. Campakkan saja.

“News peg” ini dilingkungan penulis artikel sering juga disebut news hook, story hook atau news angle Hook-nya nggak jauh amat dari istilah salah datu pukulan di ring tinju.

Pukulan dari arah bawah ke dagu dan pipi. Pukulan “hook” yang menjadi andalan “si mulut besar” Mumamad Ali si legendaris dulunya.

Hook yang bagi kami kalangan manula bisa mengenangnya ketika nonton tanding tinju antara Muhammad Ali vs Joe Frazier di Manila.

Keduanya saling tukar pukulan hook. Yang menurut komentator  tvri Abraham Isnan  yang mewawancarai seorang analis tinju kala itu syamsul anwar jumlah hook yang terlontar jumlahnya ratusan.

Hasilnya, Ali dan Fazier bonyok wajahnya usai tanding.

News hook maupun story hook ini sering diargumenkan semacam firman bagi jurnalis klas media milik usa today, new york time ataupun guardian. Ataupun de spiegel, time maupun newsweek.

“News peg” lah yang menjadikan sebuah tulisan layak atau tidak ditayangkan. Ia menjadi pertimbangan utama media atau jurnalis untuk menuliskan dan mempublikasikan suatu berita.

Apalagi untuk sebuah essai, seperti tulisan di kolom “bang darman.” Hahaha… mbong….

Peg itu berfungsi sebagai kompas agar arah hentakan dan kejadulan sebuah tulisan atau artikel tetap fokus. Nggak keluar dari topik walaupun permainan kata disusunan kalimatnya liar.

Eeehhh …oya… maaf  lead tulisan ini macam kursus jurnalistik aja. Kursus jurnalis strata dua. Strata penulis feature, reportase dan essai. Bukan strata satu yang masih berkutat di lima w+satu h.

Strata satu yang beritanya sering jadi bahan tertawaan  teman sesama jurnalis senior yang pernah jadi chief editor di media hebat nasional: judul dan isinya terus bertanya. Ndak ditemukan apa jawabannya.

Alalah…..tapi itulah berita yang dijual media online. Media yang kini tumbuh bak cendawan di musim hujan. Berjubel.

Usai belenggu peg tiga ratus empat puluh sembilan triliun itu lepas saya ingin lanjut safari tulisan sepakbola. Safari yang sebelumnya tertunda oleh peg..peg.. aktual.

Padahal safari tulisan sepakbola beberapa hari lalu telah saya buka dengan “hattrick” Benzema.  Benzema yang ada karim plus mustofa-nya.

Pemain Perancis asal Algeria yang akrab disapa aljazair.

Anda pasti tahu Benzema yang el real. Striker klub Madrid yang  pekan lalu meruntuhkan tembok nou camp milik el barca lewat tiga gol beruntunnya.

Laga akhir pekan la liga dan Real mengunci barca empat gol

Kemarin Benzema kembali bikin sensasi.

Bersama marco Asensio mereka meringkus tamunya Chelsea, klub papan atas premier league di Bernabeu dua gol tanpa balas di leg pertama laga champion league.

Klub Chelsea itu milik orang kaya Todd Boehly. Klub  yang sering disapa dengan “the blues.”

Yang selama setahun terakhir menghabisi dana sebesar enam ratus juta poundsterling yang kini mata uangnya bernama great Britain pound khusus beli pemain dan kontrak pelatih hebat, Frank Lampard.

Anda tahu berapa nilai tukar rupiahnya. Tolong saya menghitungnya.. Kalau udah klop beritahu agar saya bisa menuliskannya di tulisan ini.

Panduannya..satu pound nilai rupiahnya hari ini berdasarkan nilai tukar mata uang yang dirilis bank Indonesia: delapan belas ribu tiga ratus enam puluh empat koma tiga puluh enam rupiah.

Saya nonton laga el real lawan chelse itu. Yang di ujung babak pertama laga jumat dinihari wib itu Benzema membuat atraksi sulap dengan menjulurkan kakinya sembari menyentik bola ke angkasa.

Bola meluncur melewati garis tengah yang nyaris membuat blunder keputusan wasit.

Cara Benzema itu mengilustrasikan nilainya sebagai striker kelas atas berkostum sembilan. Yang menyebabkan pemain Chelsea terpisahkan pergerakan dan link-up-nya.

Chelsea di laga itu seperti macam ompong. Yang membuat pelatih bergaji mahal Frank Lampard seperti remaja bo-on.

Pesona Benzema hakikatnya adalah bagian dari pesona geng algeria. Kalangan penulis sepakbola sudah lama memberi label ini. Geng Algeria tentu  bukan penjahat…

Maaf….. Saya sedang tidak berpikir dan menulis tentang gangster dalam konotasi artian akar kata penjahat.

Tidak!!!

Nggak ada maksud ingin membelokkan cabang otak saya kesana.

Maaf juga, saya hanya memakai akar kata itu, yang di rangkai dengan Algeria, untuk sebuah penegasan. Penegasan tentang eksistensi karir Karim Mostafa Benzema. Pesepakbola di El Real.

Pesepakbola klub “los blancos.” Klub asal kota Madrid, Et Spanola, yang begitu banyak nama sapaannya. Yang saya ndhak tahu lagi mana nama hakikahnya.

Biar saja. Terserah Anda ingin menyapa dengan nama apa. Sebab nama sapaan itu tergantung kepentingan. Seperti nama sapaan di kampung saya tanah Tuan Tapa.

“Ketek banamo gadang bagala.”

Benzema adalah geng Algeria. Begitu juga dengan pesepakbola hebat lainnya, Zinedine Zidane. Mereka ini geng Algeria yang sudah mengganti paspor franch.

Bukan berarti geng Algeria yang berpaspor asli tak hebat. Geng ini juga hebat.

Memang tidak sepopuler negara-negara  benua afrika lainnya. Sebut saja nigeria, antai gading ataupun mesir.

Dari sisi prestasi, Algeria pernah lolos ke wolrd  cup Sembilan tahun lalu.

Namun bukan berarti kurang populernya nama Algeria jadi hambatan perkembangan sepak bolanya.

Algeria mencatatkan sejumlah pemain yang bermain di liga euro. Mereka andalan di klubnya.

Sebut saja Ramy Bensebaini yang merupakan salah satu pemain kebanggaan Algeria saat ini. Bensebaini membela klub bundesliga, Jerman.  Borussia Monchen’gladbach sejak musim lalu.

Ia dibeli atau istilah santunnya ditranfer dari Stade Rennais dengan nilai delapan belas juta euro dan berhasil menjadi pemain kunci.

Berposisi sebagai bek kiri, Bensebaini telah tampil di sebelas pertandingan dan mencetak tiga gol. Jumlah gol tersebut terbilang tinggi mengingat dirinya bertugas di sektor pertahanan.

Geng Algeria lainnya yang juga  beroperasi di lini pertahanan, tapi kali ini di sektor bek kanan bernama Youcef Atal.

Ia masih di usia muda. Dua puluh empat tahun. Brmain di klub ligue utama nice sejak  empat musim lalu usai  diboyong dari kv kortrijk dengan banderol tiga juta juta euro.

Selain dua nama itu, geng Algeria yang bersinar lainnya adalah Said Benrahma. Semula bermain klub liga primer, West Ham United. Kini ia dalam status pinjaman di brentfod.

Said seorang sebagai pemain sayap kiri. Sebutan kerennya winger. Adaptasinya di klub berjulukan the hammaer itu kinclong.

Janji manajemen west ham untuknya, bila  tampil konsisten, ia akan dipermanenkan.

Masih ada dua nama geng Algeria di pelataran klub sepakbola euru. Mereka adalah Ismael Bennacer dan Riyad Mahrez.

Ismael di ac milan sedangkan mahzer di klub paling top liga primer, Manchester city.

Sebelum di Milan Ismael bermain di Empoli. Ditransfer dengan nilai enam belas juta euro pada musim lalu,

Bennacer menjadi aset berharga Milan yang memiliki potensi dan akhirnya itu terbukti di musim ini.

Ismael  menjadi pemain yang tak tergantikan di posisi gelandang bertahan.

Berkat aksi cemerlangnya sejauh ini, harga pasarnya meroket menjadi empat puluh juta euro saat ini.

Sedangkan Riyad Mahrez menjadi ikon kebanggaan sepakbola Aljazair saat ini. Bukan tanpa alasan mengingat Mahrez bermain bersama klub top Manchester City.

Di citizen Mahrez telah bermain selama tiga musim usai direkrut dari Leicester City senilai enam puluh tujuh juta  koma delapan  juta euro.

Nah, itulah kualitas geng Algeria. Saya mimpi sejak dulu munculnya geng indo. Geng indo yang lebih banyak berkelahi di pucuk atasnya.

Pucuk atas yang ditendang outside sebagai tuan rumah piala dunia usia dua puluh tahun. Yang tendangan kata-katanya merambah ke orasi politik.

Kok bola dipolitikkan. Kasus kanjuruhan saja nggak selesai-selesai… oo..alah.

  • Darmansyah adalah wartawan senior, penulis “Kolom Bang Darman.”