Share Pulau Dua

Darmansyah

SUDAH lama saya diingatkan tentang Pulau Dua. Pulau Dua yang indahnya ampun… Pulau Dua yang sekali genjot bisa dihampiri. Karena letaknya tinggal gesek ke samping kanan di lintasan jalan Tapaktuan-Medan.

Persisnya di kilometer enam puluh tujuh arah selatan mata angin Tapaktuan  atau tujuh kilometer dari kota Bakongan lama sebelum kecamatan itu terbelah dua, timur dan barat. Pulau Dua  ada di belahan timurnya.

Pengingat Pulau Dua datang dari banyak komunitas. Dari grup whatsapp, facebook hingga sapaan pribadi lewat share foto dan video hura-hura.

Pengingat itu terus menggoda saya. Tulislah… tulislah ,,,

Mereka minta saya menulis tentang Pulau Dua dengan terus memberi info kondisi terakhir lokasi travel yang sedang mekar itu. Info dari share berbagai tulisan. Pendek dan panjang. Ada yang panjaang.. sekali.

Saya hanya bisa senyum-senyum menanggapinya. Sesekali gregetan. Sembari mengumpat diri sendiri.  Mengumpat karena nggak mampu menulisnya dari kejauhan. Kejauhan “on the spot.”

Menulis dari kejauhan dengan informasi yang terpotong-potong-ketengan-termasuk subhat bagi saya. Apalagi potongan serta ketengengannya datang dari penulis online mainstream atau medsos.

Saya menggumam untuk informasi ketengan itu. “Dosa besar” bagi jurnalis benaran bila menulisnya. Dosa tak terampunkan. Jurnalis benaran harus datang sendiri ke lokasi. Lihat. Croschek dan bla..bla..bla..

Lantas kuliti untuk bisa jadi makanan ueenaak.. pembaca. Anda sudah tahu kan  bla..bla..bla .. pelajaran menulis ala jurnalis.

Ya ..pelajaran dasar yang muaranya ke etika.

Untuk meniadakan subhat dan dosa itu,  di hari keempat Idulfitri kemarin saya datang ke Pulau Dua. Datang benaran sebagai dendam untuk menghumbar rindu dan rasa kangen.

Rindu dan kangen untuk jumpa setelah enam puluh tahun mengendap di akar serabut memori. Dan tak pernah tercerabut

Jumpa yang harus saya bayar mahal. Mahal benaran. Karena tiket Garuda dari Soetta ke Iskandarmuda sedang melangit di ujung Ramadhan. Tambah lagi ekstra cost trayek Kutaraja – Tapaktuan. Hancuaa….

Ya ,, hancuaa,, untuk menjemput sebuah tulisan dan membeli kenangan, Sebuah tulisan dan kenangan yang harus saya catat termahal dari kantong sendiri. Yang kalau dulu tinggal ajukan proposal teken de-el-ka.

Hahaha….

Kenangan yang saya beli itu, menurut hitungan catatan penanggalan-persis memasuki tahun keenam puluh. Di sebuah hari pekan pertama Syawal  bersama bis kope Usaha Famili. Yang tujuan utamanya ke Desa Sibadeh.

Desa di sebuah kaki bukit pendakian Gunung Kapur.

Desa yang melewati jalan menyisir pinggiran Bakongan di mana Pulau Dua melintang.

Pulau Dua di Desa Ujong Pulau Rayeuk. Desa yang menghamparkan jemuran eungkot masen dan kareng hasil pukat nelayan di pantainya. Yang di hari saya kembali itu sudah raib.

Raib karena nelayan sudah menggulung pukat dan membisukan nyanyian “tarek pukat… jinara.. eungkot jinara.. jinaraa..”

Bahkan eungkot “bada” pun sudah lama pindah habitat oleh auman sekoci bermesin Yanmar mengantar ulang-aling wisatawan.

Pulau Dua di hari saya datang belum penuh menjadi destinasi wisata luar dalam. Masih tertatih- tatih. Bak bayi yang berjalan tertateh-tateh.

Tertateh-tateh dalam pengembangan infrastruktur. Tak ada “jaloe” cepat yang mencesplengkan jarak antardaratan dan pulau. Tak ada bungalow untuk memecah “peng mirah”  dan tak ada taman bermain sebagai penggoda gerbong wisatawan.

Semuanya serba meriah. Semeriah hutan perawan dan bentangan pasir putih yang melingkar pinggang pulau, Saya tersedak miris melihat “nanggroe” berkah ini tanpa dipupur.

Padahal potensinya untuk menjadi tujuan wisata terbaik di belahan barat Sumatera sangat besar setelah Pulau Banyak. Ia bisa menjadi “second best tourist destination” bersama Pulau Banyak setelah Toba.

Potensi wisata pantai yang untuk mereka yang berada di belakang dan punggung kawasannya, Subulussalam, Sidikalang hingga Medan terus ke Brastagi.

Bahkan di hari saya takziah banyak “munak-munak” berselfi ria bersama “hado dongan sidikalang”. Hado dongan Dairi dan Pakpak.

Saya tak ingin memanjangkan tulisan tentang potensi ini. Saya ingin tak memuncratkan dendam dalam satu tulisan, lantas abis. Saya ingin mengetengnya dalam beberapa tulisan yang tidak pakai “part one and part two.”

Ingin menulis per episode. Lebih nyaman. Lebih enak dibaca dan perlu.. Eheheh…

Para pengingat, seperti yang saya ambil ingatannya sebagai “lead” tentu lebih tahu lebih dahulu tentang Pulau Dua. Pengingat  yang menyebabkan saya menulis hari ini.

Pengingat yang mengirim share saya lewat kembang tulisan di banyak media tentang Pulau Dua. Pulau Dua yang  telah mekar dan berputik ketika saya mengulik banyak media mainstream online prestise  sembari menebar optimis.

Ya … Pulau Dua… Pulau yang terbelah oleh sebuah kisah legenda perkelahian Tuan Tapa dengan seekor naga. Legenda yang hidup sebagai cerita rakyat yang jangan minta kebenarannya secara matematika.

Legenda yang juga menyebabkan Pulau Banyak pecah berkeping-keping. Legenda yang meninggalkan banyak jejak di Tapa-Tuan. Jejak cetakan tapak. Tongkat dan kopiah yang terbang menjadi batu.

Serta terlukanya sang naga yang menyebabkan dihakikahkannya nama dua gampong, Batu Itam dan Batu Merah di selatan Tapaktuan. Serta teka teki kuburan panjang di tengah Kota Naga.

Saya tak ingin memelarkan kisah ini. Kisah sebuah kuburan yang begitu panjang yang dulu-entah sekarang- ramai diziarahi penduduk dengan membawa penganan dan menyelipkan uang di bongkah tripang berisi air untuk membasuh muka.

Lupakan legenda itu.

Pulau Dua sendiri memang dua pulau yang terpisah. Saling berjarak sejauh satu mil. Kedua pulau dalam bentuk sama dan sebangun. Masing-masing berdiamater dua kilometer dengan tumbuhan kelapa dan cemara laut.

Untuk menggapai kedua pulau wisatawan harus menyewa perahu nelayan dari pesisir pantai. Para pemilik perahu saling berebutan menawarkan jasa. Sangat tidak nyaman. Saling bersaing harga.

Tarif yang dikenakan juga sangat murah dengan  waktu penyebarangan cuma sepuluh menit. Penyeberangan yang bikin dag dig dug. Dag dig dug ketiadaan fasilitas keamanan. Tanpa pelampung di sekoci kecil bergoyang.

Tanpa juga peringatan ketika wisatawan berswafoto maupun membuat video untuk diabadikan menjadi momen yang sangat berkesan.

Di Pulau Dua kegiatan apapun bisa dilakukan. Berjemur, bermain pasir pantai, makan dan bakar ikan bersama komunitas, ataupun berkemah.

Wisatawan biasanya beristirahat di pulau ini lantaran kesejukan pantainya yang meninabobokan, lantaran sepanjang pantai ini dipenuhi pohon kelapa, cemara, dan ketapang.

Terdapat bangunan bertulisan Pulau Dua Aceh Selatan yang terbuat dari kayu namun menjorok ke laut, sehingga wisatawan dapat memandangi keindahan pulau dua dari bangunan kayu tersebut.

Bangunan berbentuk jembatan itu tersambung dengan pondok-pondok penginapan, pengunjung juga dapat bermalam di pulau tersebut.

Tak kalah eksotis dengan pulau lainnya, hamparan pasir putih yang indah menambah keelokan tempat tersebut, deburan ombak yang kecil membuat pengunjung khususnya anak-anak dapat bermain air dengan riang gembira sambil mandi di tempat itu.

Ragam fasilitas lainnya juga tersedia, seperti penyewaan ban untuk mandi, sanitasi, musalla dan sudah ada pula yang menjual ragam makanan juga minuman di areal itu.

Angin sepoi-sepoi yang menerpa wajah sambil memandangi birunya laut, areal ini cocok untuk bersantai terlebih jika ingin meninggalkan sejenak hiruk pikuk dan aktivitas di perkotaan sambil di temani alunan ombak yang silih berganti.

Menariknya di kala sore hari, dapat melihat burung endemik yang tinggal di sana. Burung perling yang berterbangan ketika menjelang petang.

Ah.. terlalu sentimentil…[]

  • Darmansyah adalah wartawan senior, penulis “Kolom Bang Darman”