.
.
.

Di Depan Mata

Darmansyah

TIGA hari terakhir ini saya ketemu dua teman lama. Ketemuan di lokasi berbeda.

Dua-duanya teman seprofesi. Journalist. Segenerasi. Generasi jurnalis yang kini harus meminggirkan diri karena tahu diri. Minggir dari kegaduhan media yang isiannya penuh carut marut.

Ketemuannya nggak barengan. Yang satu ketemuannya di Sudirman. Kawasan Blok M. Penuh hura-hura disertai haha..hihi…

Satunya lagi janjiannya di Summarecon Mall Bekasi. Mall yang sepelemparan jaraknya dari domisili saya. Bisa dengan jalan kaki kalau macetnya di kunci mati. Mungkin untuk menghormati saya sebagai undangan,

Yang ketemuan di Blok M saya tuliskan saja nama tenarnya: Bre Redana. Tapi untuk saya nama tenar itu nggak kepakai. Saya memanggilnya dengan Mas Don. Don Sabdono.

Mas Don ini penulis hebat. Pernah menjadi “bos”-nya “Kompas Minggu” yang di era surat kabar masih di atas angin dipuja bak selebriti.

Nggak salah. Di era itu “Kompas Minggu” memang menjadi tikungan bagi para seleb untuk jualan “pop”. Dan Mas Don sendiri adalah seleb utamanya.

Kini, usai, purnatugas dan purnakarya dari surat kabar, Mas Don membangun “blog” untuk melanjutkan kiprah menulisnya. Sekaligus sebagai tempat meluruskan otak, katanya.

“Sekarang bacaan, penglihatan dan pendengaran kita penuh kebisingan. Bikin mumet. Untuk itu perlu menulis.”

Di blog pribadi ini Mas Don memetakkan empat rubrik untuk tulisannya.

Ada “nota.” Yang ia katakan: “sebagai catatan segala hal yang perlu saya catat, Entah pengalaman, perjumpaan dengan seseorang, petuah yang saya dapat, bahkan, mungkin, catatan belanja agar nggak lupa apa yang saya mau beli ke pasar.”

Selain “nota’ ia juga membuat rubrik esai. Yang isinya konfrontasi gagasannya dengan kenyataan sosial-politik, ekonomi maupun kebudayaan. Menggugat yang mapan dan menghibur yang lemah.

Lainnya rubrik excerpts dan cerita. Dua ini Anda tahulah. Resensi buku dan cerita dongeng atau cerpen.

Saya sering baca tulisannya. Kadang membuka blog atau pun lewat share yang ia kirim di whatsapp secara personal. Style tulisan masih seperti dulu. Terutama di rubrik esainya. Nyelekit tapi tak terasa sakit.

Menertawakan diri sendiri dan sangat n’jowo. Lembut… untuk selanjutnya Andalah yang tahu rasanya..

Sedangkan teman yang ketemu di mall seorang elegan. Mungkin karena ujung namanya pakai marga. Nasution. Lengkapnya: Amran Nasution.

Ke-elegan-nya makin nambah oleh faktor medianya. Media Tempo. Majalah berita mingguan. Majalah yang juga membesarkan saya dan membesarkan Amran.

Amran dan saya pernah sepikul bahu. Ketika saya digeser dari pembantu untuk Aceh dan Amran ditarik ke Medan dari Kisaran  untuk sama-sama menyandang status baru sebagai koresponden di kantor biro.

Amran yang saya kenal sejak awal adalah seorang fighting. Ia pantas menyandang sebutan ini karena olahraganya memang “fighter.” Petinju. Ia mampu menerobos sumber berita hingga ke ujung donya.

Selain itu ia mampu memprovokasi sumber berita untuk menghamburkan seluruh isi kepala dan lupa membunyikan alarm “off the record.”

Karier Amran di Tempo berujung sebagai managing editor. Redaktur pelaksana. Redaktur yang bertindak sebagai traffic penugasan.

Di kedua pertemuan itu, baik dengan Mas Don maupun Amran, kami bicara tentang etika jurnalistik yang mulai redup. Kerlap kerlip. Yang kalau dulu sering kami istilahkan dengan “pelacuran.”

Pelacuran jurnalis… Anda tahu kan tentang kerjaan pelacur. Jual diri untuk titik..titik… Itulah yang terjadi di dunia kami sekarang..

Di perjumpaan dengan dua teman di kesempatan berbeda itu kami juga bicara tentang masa depan. Masa depan yang tampaknya makin apes.

Kami janji untuk menulisnya dalam versi masing-masing untuk kemudian dipertukarkan sekaligus mengkritisinya, Menulis di media mana saja atau diblog pribadi.

Inilah tulisan versi saya tentang masa depan tanpa mengharap:

Masa depan sudah lebih dekat dari yang kita bayangkan.

Tahun depan kita sudah punya presiden baru. Presiden yang mungkin punya banyak kebijakan baru. Tentu tahun depan pula, sudah akan banyak menteri baru, pejabat baru dan yang baru..baru…

Tahun depan itu tidak lama. Hanya sekejap. Ketika kertas kalender berganti dan tanda jam, hari, pekan, bulan dan tahun di gadget Anda menyalin perjalanan baru.

Bisakah Anda membayangkan seperti apa kehidupan kita tahun depan itu?

Jangan baca berita. Medsos atau pun media mainstream. Surat kabar, online, televisi maupun radio terlalu umbar. Banyak komentar ngawur dalam susunan kata dan kalimat majemuknya.

Saya sendiri tak pernah memikirkan kehidupan yang lebih tenang. Apalagi lebih makmur. Terlalu ambigu.

Bahkan tahun depan saya tak mikir ingin  seperti apa negara dan kehidupan semua kita.

Saya juga tak mau berharap. Saya tahu kalau masih berharap tahun depan bakal berlangsung baik, setelah itu berubah, maka bisa selamanya masyarakat terus berharap.

Saya pesimis?

Mungkin iya dan mungkin juga tidak.

Sebab banyak orang masih berharap tanpa pernah meraih harapan.

Mohon maaf kalau awalan tulisan ini agak mendung. Ini gara-gara saya banyak mendengar cerita tentang janji. Janji akan kemakmuran, pemerataan, keadilan dan sebagainya. Yang semuanya telah menjadi uap.

Masa depan  sudah benar-benar di depan mata. Lebih dekat dari yang kita bayangkan. Cucu saya sedang belajar jalan. Tertatitih. Seperti juga negeri ini masih tertatih-tatih.

Saya tidak tahu dan tak pernah membayangkan kala dia nanti pegang surat izin mengemudi di jalanan tak ada lagi uap bbm.

Uap bbm kala itu mungkin sudah ketinggalan zaman kalau masih naik mobil bensin. Ia mungkin akan kembali seperti saya dulu. Mengayuh sepeda.

Silakan lebih rajin membaca kebijakan-kebijakan negara-negara maju. Sebagai selingan membaca berita kegaduhan-kegaduhan di negeri sendiri. Sama asyiknya kok.

Dalam waktu yang sangat dekat, negara-negara terdepan di barat sana sudah akan melarang mobil berbahan bakar minyak.

Anda pasti tahu tentang  Norway? Negara berkeadilan itu  selalu melangkah paling depan.  Sudah bersiap melarang penjualan mobil bensin di dua tahun mendatang. Setahun setelah kita punya presiden baru.

Mereka sudah punya genggaman  aturan yang membuat punya mobil listrik lebih ekonomis daripada punya mobil bensin.

Di tujuh tahun lalu mereka sudah punya angka empat puluh persen mobil yang terjual sudah listrik atau hybrid.

Angka yang akan “dipaksakan” untuk terus meningkat, sampai peralihan ekstrem tahun depan.Seratus persen.

Sedangkan tahun ini, sebelum ada presiden baru, hanya saya, kata dealer di kota kecil domisili saya, yang memiliki “hybrid.” Itupun saya dapatkan lewat inden. Daftar tunggu. Bisa enam bulan. Bahkan setahun.

Norway memang paling cepat melangkah. Negara di barat lainnya, secara menyeluruh atau lewat kota-kota utama dulu, akan menyusul punya kebijakan itu.

Ada yang tujuh lagi dan ada yang tujuh belas tahun mendatang  Bisa juga di dua puluh tahun. Amerika saja, negara yang paling mendewakan mobil, mungkin akan dipaksa untuk ikut berubah cepat.

Sekarang sudah mulai menuju ke sana, tapi masih santai.

Saya sadar. Pada tingkat cicit saya  nanti mungkin sudah tidak kenal apa itu mobil bensin. Mereka hanya membacanya di buku sejarah, atau melihatnya di museum,

Atau bisa melihat  rekaman aksinya di “you tube”. Itu pun kalau mereka “homestay”  di negara maju.

Generasi saya mungkin sudah tidak bisa menikmati dunia itu.

Saya percaya tahun depan, sisa, generasi saya mungkin masih seperti sekarang. Generasi yang hanya bisa berharap, kehidupan bisa lebih tenang, lebih baik. Bukan lebih makmur.

Generasi yang berharap semoga setelah tahun depan, kehidupan bisa lebih baik lagi. Tanpa ada harapan konkret, lebih baik itu apa.

Tidak ada cukup banyak orang di generasi saya yang bisa berbuat banyak. Masih terbelit dengan masalah generasi masa lalu, dan masih dikelilingi oleh banyak generasi setara yang tidak suka perubahan.

Generasi saya, dari dulunya adalah generasi yang berharap. Sejak era gegap gempitanya pekik kebebasan. Kebebasan dari penjajahan hingga kemiskinan.

Tapi nggak pernah meleleh menjadi kemakmuran.

Bahkan di generasi berikutnya ketika ada kata turba—turun ke bawah—dan semangat swasembada serta pemerataan pembangunan tak ada yang berubah.

Kemiskinan dibagi rata lewat program transmigrasi. Lahan-lahan kosong diolah untuk tanaman produktif.

Hasilnya?

Sama saja. Daki kemiskinan sulit dikikis. Bahkan di tanah tempat saya dilahirkan dan dibesarkan untuk menjadi manusia lansia kerak kemiskinan makin menebal. Hingga di hari saya menulis ini.

Hari ketika kehidupan kita  makin berisik dan bakar-bakaran pernyataan. Sedang di rumah sebelah  sudah sangat tenang dan tidak menghasilkan uap mulut berbau masam…[]

  • Darmansyah adalah wartawan senior, penulis “Kolom Bang Darman”