“Si Waskat”

Darmansyah

PESAN pendek satu kata itu menempel di whatsapp saya menjelang dhuha kemarin. Dan untuk persisnya langsung saya salin sebagai judul.

“Si waskat”

Tambahan tempelan itu diisi sebaris kalimat pendek yang taklimatnya: “Dia telah berjalan mendahului kita.”

Untuk menambah sentimental pesannya itu ia menyertakan share foto. Foto buram ketika ia selfi dengan “si waskat”

Foto yang saya langsung bisa menerka “si waskat” sebagai peneguhan baris kalimat itu. Si waskat yang pernah saya dan si pengirim pesan wawancarai mengenai gagasan “pengawasan melekat.”

“Si waskat:” Sarwono Kusumaatmadja.

Yang dari gagasan inilah saya dan si pengirim pesan memberi nama untuknya “waskat.” Waskat yang kami tulis untuk kemudian dipermak oleh seorang editor senior dan menjadi style “viral” di era itu.

Gagasan waskat-pengawasan melekat—aparat sipil negara untuk memastikan program apapun yang dilaksanakan bisa blass…blass dan blass…Bukan bla..blaa..bla..seperti sekarang.

Karena pernah mewawancarainya saya tahu latar foto yang di-share. Sebuah ruang di sebuah gedung kuning berlatar mural pohon beringin. Yang Anda pasti ngah tentang beringin yang rindang.

Pohon beringin di Slipi yang menjadi ruang kerja “si waskat.” Ruangan sekretaris jenderal, Akronimnya sekjen. Sekjen partai politik di era dwifungsi dan monoloyalitas.

Pesan itu agak lambat saya respons. Berlalu empat jam usai teng masuknya. Itu, karena sedang menjadi moderator sebuah diskusi kecil di Gondangdia.

Gondangdia yang di sana ada hotel kutaraja. Kawasan Menteng. Cikini. Persinya jalan RP Soroso.

Yang Anda dan juga Anda tentu pernah ke sana hanya untuk sekadar singgah. Karena itu memang “rumah” persinggahan wareh indatu.

Rumah indatu yang direvitalisasi oleh seorang gubernur yang sudah soh.

Rumah yang dicerewetkan istri saya yang toiletnya berantakan, Carut marut. Yang saya anggukkan karena potret utuh sebuah bangunan adalah toilet.

Toilet yang menjadi diskusi setengah kamar saya dengan anak-anak  Taman Iskandar Muda di meja bundar tentang nanggroe yang mengurus tempat cebok saja masih nggak becus.

Khas toilet negeri papa. Negeri miskin. Nun di sana yang logonya masih belum dikelupaskan Badan Pusat Statistik.

Diskusi kecil dengan anak-anak Taman Iskandar Muda. Yang singkatannya bisa sama tapi isiannya beda dengan  TIM—Taman Ismai Marzuki—milik Jakarta.

TIM yang sana sarana. Kesenian dan kebudayaan. Sedangkan TIM yang sini organ milik region.

Untuk itu TIM yang sini  sengaja saya tulis lengkap  Sebab TIM sana lengkapnya Taman Ismail Marzuki yang jaraknya hanya sepelemparan dari hotel kutaraja.

Ya… sudah. Saya nggak ingin menulis apa isi diskusi “half room meeting” itu. Diskusi setengah kamar itu.

Saya ingin ke “si waskat.”  Si waskat yang berpulang. Si waskat yang hidup di lintas generasi. Si waskat yang cuitannya singgah di handphone saya.

Cuitan dari temannya dan teman saya: Bahrun Suwatdi. Bahrun yang rajin membonceng saya, dulunya, ketika maih menjadi “news hunting” di belantara Jakarta.

Bahrun yang pernah mengajarkan “si waskat” jurus “tai chi” untuk menguatkan sendi lutut dengan berdiri satu kaki. Yang oleh “si waskat,” kemudiannya, mengamalkannya hingga mencapai usia delapan puluhan.

Usia penutup ketika hari berpulangnya di Rumah Sakit Adventtist, Penang, Malaysia. Jumat sore pekan lalu. Dan dimakamkan di kompleks pemakaman San Diego Hills, Karawang, Jawa Barat pada hari Minggu.

Saya tak bisa melupakan Sarwono sebagai seorang insinyur sipil ITB yang kerasnya macam batu dan tak pernah kompromi sejak menjadi eksponen enam puluh enam.

Ketokohan Sarwono melintasi rezim. Pernah menjadi anggota dewan di gedung beratap tempurung kura-kura ketika menjadi tokoh pergerakan mahasiswa. Gerakan mahasiswa nasional Indonesia di Bandung.

Di usia sangat muda, lantas menjadi orang sipil pertama di partai beringin pada era monoloyalitas, Dan pernah dimasukkan dalam lingkar pembisik di ring satu Pak Harto.

Sarwono menjadi Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara selama lima tahun dan lanjut sebagai Menteri Lingkungan Hidup untuk lima tahun berikutnya Ketika Orde Baru runtuh.

Ia masih terpakai di era kepresidenan Gus Dur yang  menggantikan Habibie yang dijegal Majelis Permusaratan Rakyat.

Sebagai Menteri Kelautan selama dua tahun Sarwono meninggalkan jejak kebijakan yang masih bisa dirasakan hingga hari ini.

Kebijakan pengendalian perubahan iklim. Sehingga Menteri Lingkugan Hidup masih memakainya sebagai penasihat hingga hari ia berpulang.

Sarwono, seperti diceritakan oleh Bahrun kepada saya tak pernah betah untuk berdiam diri. Setelah satu fase ia taklukkan ia terus ingin lanjut membawa tongkat estafet ke langkah berikutnya.

Bukan berarti ia terus eksis. Langkahnya juga pernah tersendat ketika mencalonkan diri sebagai gubernur Jakarta. Ia disingkirkan oleh partai pengusungnya yang memilih Fauzi Bowo.

‘Kepalanya penuh dengan rencana,” tulis Bahrun di blog pribadinya tentang sang teman.

Menurut Bahrun, mengutip perkataan sang teman,:”Itulah penyakit saya.” Padahal paru-parunya yang menua mulai nggak tahan lagi dengan gagasan yang ada di kepalanya.

“Saya selalu ingin mengatasi tantangan. Ini menjadi penyakit kronis karena bebannya berlebihan.” Hidupnya di hari-hari terakhir dilewati di rumah putranya di Kawasan Kalibata.

Suatu kali ia pernah  mengatakan tak punya rumah usai menjual rumahnya di Kawasan Kuningan untuk ia belikan tanah.

“Rumah ini adalah milik anak saya. Saya punya tanah dan ia yang bangun. Jadi ini rumahnya. Hahaha…. tawa Sarwono,” suatu kali ketika dikunjungi Bahrun di saat kesehatannya mulai rentan.

Meski pernah menjadi pejabat sekelas menteri, namun ia tidak memiliki rumah.

Rumahnya di Kuningan, Jakarta sudah dijual. Sarwono dibuatkan rumah oleh anaknya, asal ia mau tinggal di rumah tersebut sampai akhir hayatnya.

“Ya rumah ini milik anak saya. Kalau tanahnya milik saya. Tapi sudah kami serahkan ke anak saya,” aku Sarwono.

Bahrun juga pernah menceritakan kepada saya tentang Sarwono yang dibayangi intel sebelum diangkat jadi menteri. “Saya tidak tahu kalau diinteli. Saya tahunya setelah jadi menteri. Dari anak saya,” jelasnya.

Menurutnya, untuk mencapai posisi strategis di era Orde Baru tidak gampang. Melalui proses analisa yang panjang, tidak ujug-ujug bisa menempati jabatan strategis.

Menurut Sarwono yang dianalisis itu di antaranya statemen di media.  Jaringan, profile psikologi.

Ada sepenggal cerita yang diungkap Sarwono kepada Bahrun untuk kemudian disampaikan kepada saya tentang penilaian Sarwono yang sangat positif di era Orde Baru.

“Menteri di zaman Orde Baru, rata rata atau kebanyakan, hidupnya sederhana. Bahkan ada mantan menteri yang langit-langit rumahnya dari asbes. “Nasibnya sama seperti pensiunan eselon tiga,” ujar Sarwono.

Ia menyebut dua nama dari banyak nama lainnya. Ada Giri Suseno dan Soni Harsono. Menteri Perhubungan dan Menteri Pertanahan.

Menteri di era Soeharto, rata-rata atau sebagian besar jujur. Jika ada yang bermain, bukan atas kehendak dirinya, tetapi demi bapak besar.

Meski bapak besar mendapat setoran, namun hidupnya tetap sederhana. Karena uang tersebut oleh bapak besar tidak dipakai untuk dirinya sendiri, melainkan untuk kegiatan sosial.

Seperti, membangun rumah sakit, membangun masjid.

Kehidupan Sarwono di hari-hari menjelang ia dipanggil teramat sederhana. Rumah numpang ke anak. Kendaraan yang dipakai kesehariannya juga sudah berganti STNK.

Namun ia tetap bahagia dengan anak-anak  yang sudah hidup mapan berkarier di TNI, pilot, dan dokter.[]

  • Bang Darman adalah wartawan senior, penulis “Kolom Bang Darman”