.
.
.

Nilam Rendemen

Darmansyah

SEBULAN lalu saya berkunjung ke ladang nilam. Ke ladang nilam aceh dengan huruf kecil. Nilam yang yang kalau dikerenkan namanya: “pogostemon cablin benth”. Tak ada nama Aceh huruf besar di pangkalnya.

Tapi, kalau Anda seorang peneliti pertanian pasti mengiyakan “pogostemon cablin benth” sebagai nilam aceh. Tak terbantahkan. Saya berani berdebat.  Bacaan literaturnya mengatakan begitu. Letterlijk.

Letterlijk juga tentang nilam aceh ini menurunkan tiga varietas. Varietas tapaktuan, varietas lhok seumawe dan varietas sidikalang.

Kunjungan saya sebulan lalu itu ke ladang nilam varietas tapaktuan. Varietas terbaik dengan rendemen mencapai lima persen “aether olien.” Minyak atsiri.  Yang grade kualitasnya paling tinggi. Grade a plus.

Kelasnya bisa disejajarkan dengan ganja aceh atau arabica gayo mountain coffe. Tapi sayangnya ganja aceh belum dilegalkan. Kalau saja ada pintu peraturan melegalkan untuk diolah jadi minyak atsiri….entahlah…

Wuaahh .. ganja Thailand bisa terdegradasi. Nggak laku. Kunjungan turis akan berdesakan datang ke Aceh untuk heng.heng ..hengan….. Hahaha…

Aether olien itu dari tanaman nilam. Didapat dari hasil penyulingan. Yang prosesnya nggak rumit tapi untuk ditulis bisa bergelemak peak kalau nggak fokus..

Saya janji akan menuliskannya di catatan berikutnya untuk lebih fokus.

Nilam varietas tapaktuan ini termasuk yang paling banyak diusahakan secara komersil hingga kini. Hingga ketika saya membaca “straight news” di tiga media online yang postur tulisannya “press release.”

Release dari kedatangan seorang tokoh yang nggak ada hubungannya dengan nilam. Tokoh media yang merambah bisnis pembangkit hingga sepakbola.

Nama tokoh itu Dahlan Iskan. Anda tahu kan!  Katanya motivator… Entah motivator apa. yang saya tahu ia suka melancong. Suka jalan. Ya tabungannya jumbo sih pantas ….

Terserahlah..

Sebenarnya kalau motivator nilam mending saya yang diundang. Mantan petani nilam, agen nilam, toke bangku nilam lantas menjadi jurnalis nilam yang tahu pola dagang nilam dari kedalaman hingga ke permukaan. Klop kan….

Saya kenal orangnya. Kenal amat. Karena memiliki profesi awal yang sama. Jurnalis. Tapi ia berkembang jadi toke jurnalis sedang saya hanya toke kembang kempis.

Dialah yang datang ke kantor arc-puipt nilam aceh  Ditulis sebagai kunjungan di sela-sela kegiatan sebagai Plenary Lecturer pada The 5th Syiah Kuala International Conference  in Conjunction With The 10th aceh Internal Medic

Tema kunjungannya Preparing The Future of Medicine: Adaptation, Innovation, Collaboration, and Transformation.

Anda membaca beritanya mabok kan. Berita sampah yang mencantumkan identitas.

Untuk Anda tahu, selain nilam aceh yang “pogostemon cabling benth” itu masih ada nilam jawa dengan nama pogostemon heyneanus. Beda tanamannya dari bunganya.

Nilam jawa ini juga sering disebut dengan nilam hutan. Kandungan minyak atsirinya sangat rendah sehingga nggak laku di pasaran. Pernah ditanam di Cirebon dan Bogor. Dulunya. Saya pernah melihatnya.

Masih ada lagi jenis nilam lain. Nilam sabun: pogostemon hotensis. Dinamakan seperti itu karena nilam jenis ini bisa digunakan utuk mencuci pakaian. Memiliki kandungan lebih jelek. Tambah nggak laku.

Karena memiliki nilai jual yang tinggi, nilam  varietas tapaktuan memerlukan perhatian untuk pertumbuhannya  Mulai dari pembibitan, pemupukan, perawatan, sampai dengan pemanenan.

Sebut saja syarat ketinggian dari permukaan laut, kelembaban udara, kisaran suhu hingga curah hujannya harus tinggi tapi tak boleh digenangi air.

Begitu juga dengan penanaman nilam dimulai dari persiapan baik secara vegetatif atau melalui stek.

Maaf saya nggak lanjut untuk proses ini. Itu mah haknya para sarjana pertanian. Saya nggak mau menyerobot lahan mereka. Apalagi saya bukan petani serobot-serobot.

Bulan lalu itu saya datang ke ladang nilam aceh varietas tapaktuan di pucuk kluet. Dulu nama desanya Manggamat. Bagian Kluet Utara, Aceh Selatan.

Kini Manggamat bukan lagi desa. Tapi sudah jadi nama kota kecamatan. Kecamatan Kluet Timur. Lima puluh dua kilometer dari Tapaktuan arah ke Medan tapi belok kiri dari simpang Kuta Fajar.

Manggamat di pagi saya datang  pekan kedua Mei lalu masih terasa sejuk. Matahari timur, ketika kami menyusuri jalan utama yang masih berpasir batu  dengan bercakan lubang kecil berair bekas sisa hujan.

Langit di “kota” udik itu, masih ditabiri awan kelabu. Denyut kehidupan ketika kami bertandang  seperti tersedak, ketika menjelang dhuha kedai-kedai di “kota” Kecamatan Kluet Timur, pecahan Kecamatan Kluet Utara itu,  masih tutup dan hanya membuka pintunya sebagai pertanda ia tidak mati suri.

Manggamat, hakekatnya, memang “gampong” udik yang dimarginalkan oleh isolasi kultural yang melilitkan kemiskinan di tapak negerinya, sehingga”desa” ini  pernah menghardikkan perasaan marahnya oleh ketimpangan pembangunan lewat cantelan  sebagai sarang  pejuang GAM  ketika  Aceh bergolak atas nama slogan kemerdekaan.

Sebenarnya Manggamat tidak sepenuhnya gam “tulen.” Secara kultural mereka adalah kluet dengan polarisasi budaya pedalaman yang lebih dekat dengan Gayo mau pun Alas dari sisi tatabahasa dan tatakrama istiadat.

Hari takziah saya ke Manggamat ia sudah kembali damai. Dan kedatangan saya kali ini bukan untuk melukai koreng “pejuang”  atau pun  bertutur tentang budaya.

Saya datang untuk melongok dan mengingatkan kembali  ke banyak orang bahwa di “udik” itu pernah terjadi  “booming” ekonomi dengan loko utamanya  tanaman nilam dan membawa kemakmuran semu bagi petaninya, sekaligus mencairkan cekat  kemiskinan akut yang melilitnya.

Untuk kasus “booming” nilam inilah Manggamat, di pertengahan tahun enam puluhan menjelma  tidak  udik lagi. Manggamat, plus Kluet  terbang menjadi negeri kaya seperti sentuhan  “midas.” Itu terjadi  sejak awal tahun enampuluhan.

Petani nilam  digamit rezeki hingga  menjadi sangat “kaya.” Kala itu  harga tanaman bernama asli “pogostemon cablin benth” tergerek ke puncak langit menggepokkan duit pecahan besar bernilai jutaan,  sebelum devaluasi rupiah  yang memotong inflasinya.

Dan dengan sangat bagus, seorang tua, Marhamad, mengilustrasikan harga satu kilo minyak nilam mencapai satu ton beras. Atau bisa lima belas mayam emas.

Nilam memang sahabat humus tanah Manggamat, sampai kini, ketika harganya tidak lagi seperti “roller coaster,” yang bisa naik  menyentuh langit dan bisa juga  terjun bebas ke perut “donya”  bak harga saham yang hanya menjadi kertas bekas dalam hitungan menit di New York.

Masa itu telah punah. Seperti dikatakan Muslim, lelaki tua lainnya, yang pernah menikmati kehidupan “mewah” sebagai petani nilam.

“Harganya gila. Dari menjual daun saja saya bisa sampai ke Medan dan Jakarta. Bisa menyekolahkan anak ke sekolah tinggi dan itu tak mungkin dengan kondisi harga sekarang,” katanya mengenang sebuah masa kejayaan negeri udik yang baru saja beradaptasi dengan kehidupan modern.

Tidak hanya Marhamad dan Muslim yang bisa bercerita tentang “booming” nilam Kluet. Usman Batak, seorang kakek delapan puluhan, yang kini menjalani hari tua di sebuah rumah panggung di pinggir Manggamat mengatakan,  cerita nilam bukan thok kisah sukses petani.

Banyak orang yang gila ketika harga terjerembab. Ia menyebut sebuah nama pendatang yang datang dari Tapaktuan dan mempertaruhkan uang tabungannya dengan membuka ladang nilam seluas 20 hektare.

Ketika panen, harga nilam terjun bebas. Nyaris tak punya harga. Sang petani “jadi-jadian” itu, seperti ditirukan Usman Batak “senewen,” sembari mengangkat telunjuknya ke kening dengan memiringkannya.

“Olig,” katanya menegaskan sebutan gila dalam bahasa “jamee.”

Nilam memang bagaikan produk yang berdiri di antara “midas” dan “kutukan.” Tanaman yang aslinya berasal dari Srilanka  dengan  nama asli beraksen Tamil, dibawa avonturir Gujarat ke Malaka dan berkembang menjadi bagian dari tanaman rempah yang diperebutkan pedagang Portugis, Belanda dan Inggris.

Awalnya, tanaman ini menjadi primadona di Malaka ketika Belanda masih mengangkangi kota pelabuhan itu. Waktu itu sudah ada penyulingan di kawasan itu yang dimonopoli oleh para kongsi dagang Portugis.

Bersamaan dengan penaklukan Sumatera Timur dan Aceh, Belanda membawanya bersamaan dengan pembukaan ondernemingnya di Deli.

Ternyata, kesuburan tanaman itu di Deli tidak menghasilkan rendemen minyak yang tinggi. Sehingga para tuan kebun di sana patah arang untuk membudidayakannya.

Usai perang penaklukan  Belanda di Aceh, kolonial itu  membawanya ke Aceh, dan ternyata di pesisir barat dan selatan negeri taklukan ini, terutama Krueng Sabe-Teunom dan Kluet Raya, nilam sangat menguntungkan karena rendemennya mencapai tujuh persen.

Memang ada nilam Dairi dan Nias yang juga berproduksi tinggi. Tapi rendemennya rendah dan kualitas nomor tiga di pasaran global.

Dan dalam urutan yang dikeluarkan oleh “Indosetta” sebuah asosiasi eksportir atsiri, nilam Kluet adalah yang paling moncer.

Bahkan, menurut catatan Belanda, seperti yang bisa diakses ke KITLV, pusat dokemntasi Belanda untuk Asia Tenggara dan Bahama, selain rendemennya paling tinggi juga kualitasnya mencapai “grade A-plus” dan mengalahkan produksi Brasil dan Cina pada posisi “grade B.”

Belanda juga pernah mencoba penanaman nilam ini di  Cirebon, yang mereka namakan sebagai daun “dilem wangi.”

Tumbuhannya subur luar biasa dengan daun lebar dan batang tinggi. Tapi rendemennya cuma dua persen dan wewangiannya tidak menyengat.

Sebagai produk yang pemakaiannya terbatas untuk senyawa wangi-wangian dan obat-obatan, nilam sangat tergantung dengan pasang naik dan pasang surut perekonomian global.

Ia sangat riskan dengan “overstock.”  Makanya, pada masa penjajahan produksi tanaman dan minyak hasil  penyulingannya dikontrol secara ketat oleh NILAM.

Menurut catatan yang ada di Indosetta, gabungan eksportir minyak atsiri, nilam sudah puluhan kali melambungkan petani dan sudah puluhan kali pula menjerembabkan mereka.

Terakhir “booming” nilam terjadi di tahun 1998 ketika terjadi krisis moneter yang mengerek harganya ke atas oleh selisih nilai tukar rupiah dan dollar.

Sesudah itu, hingga sekarang sengap. Dan hanya bergejolak semacam riak gelombang. Pada masa penjajahan kasus yag sama pernah terjadi ketika Penang dan Malaka masih menjadi pengendali harga daun keringnya.

Berdasarkan catatan KITLV, usai dipermainkan oleh Malaka dan Singapura inilah Belanda membangun pabrik penyulingan atsiri di Teunom dalam skala kecil, dan di Tapaktuan, Aethersche Olien Fabric dengan skala besar dan sangat modern di zamannya.

Hingga kini nilam masih ditanam oleh petani di Krueng Sabe-Teunom dan Kluet Raya-Pasie Raja. Tapi gairah petani dan penyuling tidak sehebat seperti di masa lalu ketika banyak petani musiman mempertaruhkan simpanannya untuk membuka lahan besar-besaran.

Kini tanaman nilam juga sering diserang penyakit keriting daun, yang oleh petani di Manggamat disebut dengan penyakit  “buduk” atau lepra yang memupuskan rendemennya hingga ke titik nol.

Seperti dikatakan oleh Asmi, petani di Paya Dapur, Kluet Selatan, tanaman nilam itu bagaikan gadis “rancak” yang harus diperhatikan terus menerus dan tidak boleh di- “puga” atau ditanam berturut-turut di lahan yang sama.

“Tanaman ini kalau harus ada interval di lahan yang sama. Usai panen biarkan lahan itu menjadi semak belukar selama setahun dan baru diulang penanamannya. Nilam sangat boros lahan dan menggoda orang untuk membabat hutan,” katanya.

Nilam juga, seperti diamati dan dipelajari oleh Asmi tidak pernah memberi kemakmuran panjang bagi petani. Ia hanya menjadi tanaman “penggembira” untuk semusim.

“Itu terjadi sejak ia didatangkan Belanda dulu. Coba tunjukkan dengan saya mana petani yang betul-betul bisa hidup sepanjang hayatnya dengan bertanam nilam,” tantangnya.

Ia menganjurkan kepada para petani untuk menghindarkan penanaman nilam secara “monokultur.” Jadikan ia sebagai tanaman tumpang sari yang kalau harga baik akan mendatangkan rezeki. []

  • Darmansyah adalah wartawan senior, penulis “Kolom Bang Darman”