.
.
.

Menulis Bola

LAMA saya tak menulis tentang sepakbola. Lama sekali… Lama jika dikaitkan dengan keasikan saya memulung tulisan dengan angle “kebencian” terhadap kehidupan riel negeri ini.

Kehidupan pragmatis. Kemunafikan. Termasuk kehidupan saya yang sering berselancar bersama “munafikun.”

Beberapa kali saya pernah mencoba menulis sepokbola di skala kecil. Lingkup kecil. Padahal dulunya saya hafal a..b..c..d.. hingga h tapi gak sampai ke w dan z.

Saya sering terpasung menulis liga-liga mapan. Preimer legue, la liga, atau pun serie a. Liga ini di kalangan penulis sepakbola sering dinamakan liga “dalam.”

Sedang liga”luar,” seperti ligue1 dan bundesliga hanya sesekali menjadi angle saya. Itu pun menyangkut transfer pemain.

Fokusnyanya tetap preimer league. Liga primer. Dan targetnya tetap setan merah. The red devils. Manchester United.

Itu pun dulu. Semasa masih ada Rooney. Masih ada Ronaldo. Semasih ada  Sir Alex Ferguson.

Sir Alex yang membuat hujan buatan bernama  trofi bagi klub yang bermarkas di Old Trafford ini di sebuah durasi yang panjang. Dua puluh tiga tahun.

Anda jangan menyepelekan penulisan sepakbola. Ia sangat kompleksitas. Karena sepakbola itu sendiri merupakan olahraga paling kompleks.

Banyak kemungkinan. Dari formasi hingga taktik. Yang di era modern, taktik sepakbola terus berkembang dan berevolusi, tentu saja yang berperan penting dalam perubahan itu adalah sosok pelatih.

Beberapa pelatih hebat mengandalkan kejeniusan mereka untuk mengolah taktik.

Sedangkan yang lainnya, memberikan kemenangan untuk timnya dengan memberikan arahan kepada para pemain kelas dunia yang mereka miliki.

Tak terbantahkan, sepakbola adalah olahraga yang mengutamakan kecerdasan.

Dalam sebuah pertandingan, setiap tim memiliki taktik, strategi, dan formasi tersendiri yang akan diterapkan. Dan itu membutuhkan pemikiran yang cerdas dari pihak pelatih.

Biasanya pelatih akan memberikan instruksi kepada para pemainnya sebelum dimulainya pertandingan. Ini akan menunjukkan kepada pemain taktik yang akan digunakan.

Taktik adalah strategi atau dasar pemikiran yang dirancang dan diterapkan dalam permainan oleh individu, kelompok atau tim untuk memenangkan pertandingan secara sportif.

Penggunaan taktik dalam sepakbola merupakan upaya untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan berkreativitas.

Taktik juga merupakan bentuk improvisasi untuk menentukan cara terbaik dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam permainan secara efektif, efisien, dan produktif.

Hal ini bertujuan untuk mencapai hasil yang maksimal yaitu menang.

Sedangkan strategi adalah siasat atau akal yang dirancang sebelum pertandingan dan digunakan oleh pemain dan pelatih untuk memenangkan permainan yang dimainkan secara sportif dan sehat.

Strategi setiap pemain mengacu pada gerakan yang diperlukan dalam permainan. Tempat strategi dalam olahraga dimaksudkan untuk mendukung aspek taktik olahraga.

Jadi, ada perbedaan antara taktik dan strategi. Namun pada kenyataannya, keduanya saling bergantung dan mendukung satu sama lain untuk mencapai tujuan yang sama, yaitu memenangkan permainan.

Sedangkan formasi adalah pengaturan, ruang gerak dan pembagian tugas bagi setiap pemain dengan posisi yang ditempatinya. Ini berlaku untuk serangan dan pertahanan.

Dengan sistem ini, setiap pemain mengetahui misi utamanya, area atau ruangnya masing-masing, mengerti apa yang harus dia lakukan saat menyerang atau bertahan dan kemana harus bergerak.

Strategi yang pertama dalam permainan sepak bola adalah mempertahankan pemain lawan dengan menggunakan sistem satu lawan satu ini sering dinamakan dengan “man marking.”

Man marking atau satu lawan satu artinya setiap pemain bertugas untuk mengawasi dan melacak pergerakan pemain lawan.

Strategi ini bertujuan agar serangan yang dilakukan oleh pihak lawan dapat diblok dan pemain dalam satu tim dapat melakukan serangan balik.

Keunggulan dari strategi ini adalah adanya pembagian tugas yang jelas antara satu pemain dengan pemain lainnya, sehingga tim bisa bermain lebih kompak.

Apalagi strategi ini dapat melatih konsentrasi pemain dengan membaca dan mengamati teknik serangan yang dilakukan lawan.

Namun, strategi ini juga memiliki kelemahan yaitu unggulnya penguasaan tim lawan atas alur pertandingan sepak bola.

Selain itu, strategi ini juga cenderung membuat pertahanan menjadi lemah, apalagi jika pemain tim lawan dominan dan kuat dalam kemampuan marking.

Strategi menjaga area sendiri merupakan strategi dalam permainan sepak bola yang disebut juga dengan zone marking atau space covering.

Zone marking atau space covering berarti setiap pemain memiliki kewajiban untuk melindungi pemain lawan yang berada di wilayahnya.

Strategi ini sendiri sudah sangat efektif dalam membaca strategi serangan pemain lawan. Dengan begini, pertahanan di area Anda akan lebih stabil dan peluang kebobolan akibat serangan lawan juga lebih sedikit.

Namun, strategi ini juga memiliki beberapa kelemahan, salah satunya adalah area yang berbatasan dengan lawan menjadi lebih terbuka dan mudah kebobolan.

Tidak hanya itu, pemain satu tim juga akan kewalahan menghadapi serangan lawan dan akan sulit melakukan serangan balik.

Strategi menekan lawan atau dikenal juga dengan istilah forcechecking adalah strategi atau taktik yang mencoba mendapatkan atau memulihkan bola yang hilang di area pertahanan.

Strategi forcetesting atau pressing ini juga membutuhkan kerja sama yang baik antar pemain.

Keuntungan dari strategi ini adalah lawan tidak memiliki kemampuan untuk melakukan serangan balik.

Namun, strategi ini cukup melelahkan ketika semua pemain harus mengerahkan seluruh kekuatan serangan dan pertahanan juga akan goyah jika lawan mencoba melakukan serangan balik.

Strategi menunda tekanan lawan atau fullback merupakan strategi atau taktik yang tidak mendorong lawan ke mid lane. Saat bola mendarat di area tim lawan, pemain tetap berada di areanya sendiri hingga lawan menyerang.

Keunggulan dari strategi fallback ini adalah formasi bertahan selalu terjaga dengan baik.

Selain itu, strategi ini juga efektif melawan serangan balik dari tim lawan, sehingga cocok untuk digunakan melawan tim lawan yang kuat.

Strategi menyerang adalah strategi yang dilakukan oleh individu atau kelompok untuk memenangkan pertandingan secara sportif dengan melakukan serangan.

Pemain yang memegang kendali, sebelum mengoper bola kepada temannya, akan berusaha melakukan suatu tindakan dengan bola tersebut, misalnya sentuhan satu dua wall pass.

Langkah ini adalah langkah dua pemain yang sangat sederhana. Pemain a mengoper bola ke pemain b, lalu pindah ke posisi baru.

Pemain b langsung mengoper bola kepada a yang berada di posisi barunya tanpa memegang bola.

Kembali ke era tujuh puluhan, istilah total football terlalu populer di dunia sepakbola. Berkat taktik tersebut, timnas Belanda meraih hasil bagus di beberapa turnamen, baik euro cup maupun world cup.

Mereka bahkan mencapai final worl cup Namun, asal muasal total football benar-benar sudah ada pada tahun tiga puluhan.

Sekitar waktu itu, seorang pria asal Inggris bernama Jimmy Hogan menyadari bahwa permainan sepak bola harus dimainkan dengan gaya longgar, terintegrasi penuh dan aktif.

Ini adalah dasar dari taktik total football.

Di total football, setiap pemain tidak diberi peran tertentu.

Mereka dapat saling menggantikan, bertukar posisi dengan cepat, menggabungkan umpan pendek dan panjang untuk mengeksploitasi ruang di pertahanan lawan.

Tidak hanya di tim oranye, sistem total football juga digunakan oleh tim lain. Sebut saja tim Austria  di era tiga puluhan. Hungaria di era Puskas tahun lima puluhan. Serta tim Santos pada tahun enam puluhan.

Total football adalah gameplay yang sangat fleksibel.

Dan saya ingin mencatatkan peran Pep Guardiola terhadap sepakbola era sekarang. Era Manchester City. Era ketika tim tetangganya Manchester United keteteran dengan gonta ganti pelatih.

Era uang melimpah dengan gaji dan transfer pemain yang Anda dan saya tak tahu lagi bagaimana cara menghitung ejaan angka pound maupun dollarnya.

Terlepas dari itu secara strategi kepelatihan tak banyak pelatih seperti Guardiola.

Itu bukan berarti Guradiola segalanya. Coba suruh ia melatih Persiraja, misalnya, kemudian berharap kesebelasan yang berbasis di Kutaraja itu menjuarai liga satu.

Ini tentu sebuah kelakar terburuk untuk seorang control freak.

Ada satu anekdot yang saya baca dari seorang teknisi informasi tekhnologi yang sangat andal. Ia berkata  bahwa sangat mudah baginya membobol pusat data cia.  Central Inteligence of America.

Tapi kita tidak bisa  dengan “sangat mudah” membaca strategi Pep.

Karena kata sangat mudah sering dipersepsikan  biayanya murah”. Eits, tidak bisa! Di situ justru letak keahlian seseorang.

Sebaiknya kita memakai logika yang tepat. Agak keliru jika kita berkata Pep itu mirip pengusaha sukses yang sudah kaya dari lahir.

Jika demikian, lah, ente mah enak karena bapaknya ente kaya, jadi punya modal. Tapi, kan, ngapain juga sudah dapat duit warisan tapi gak mau diambil?

Mungkin ada orang seperti itu, tapi jumlahnya sepertinya sedikit sekali.

Narasi lainnya adalah tidak sedikit orang yang dapat warisan lalu kemudian akhirnya miskin. Di sisi lain ada yang terlahir miskin tapi akhirnya bisa kaya raya.

Jangan lupakan juga soal dalam satu atau dua dekade terakhir, sudah berapa manajer yang akhirnya dipecat oleh Barcelona, Bayern, dan Man City?

Apakah Pep beneran jago? Atau dia beruntung hanya karena menangani tiga kesebelasan besar yang punya banyak uang?

Sekarang bagaimana jika dibalik: Apakah tiga kesebelasan besar tersebut mau memilih Pep jika Pep tidak jago?

Ada banyak pengandaian di dunia ini. Andaikan Pep menangani kesebelasan kecil, andaikan Moyes diberi lebih banyak waktu dan lebih banyak uang di Man United.

Andaikan juga Syeikh Mansour membeli Leeds United alih-alih Man City, dan lain sebagainya.

Kembali lagi ke pertanyaan awal, apakah Pep Guardiola bisa sukses jika menangani kesebelasan kecil? Jawabannya belum tentu.

Namun hal tersebut tak membuat kita dengan enteng lantas mengatakan Pep bukan orang yang hebat lantaran hanya bisa sukses dengan kesebelasan besar.[]

  • Darmansyah adalah wartawan senior, penulis “Kolom Bang Darman”