Messi Cibatu

AKHIR pekan lalu saya ke Karang Parwita. Kampung di kecamatan Cibatu. Garut.

Ada kondangan anak teman, Karang Parwita desa khas Garut. Kontur lahannya berbukit plus lembah hijau luas di telapak gunung.

Indah….

Kali ini saya tidak menulis tentang keindahan itu. Terlalu banyak penulis bercerita tentang indahnya Garut.

Penulis-penulis hebat.

Sejak maw brower hingga teman karib saya don sabdono akrab dipanggil bre redana.

Di kondangan anak teman itu saya menyempal. Sudah menjadi tabiat seorang jurnalis. Tabiat yang sering diumpatin istri tiap kali bepergian. Sehingga saya jadi “mada.” Batat. Kebal.

Batat juga di kondangan itu kala menghampiri lima anak yang sedang ber..ha.ha.ha… di sebuah sudut tikungan lorong jalan menanjak.

Mereka sedang asik ngalor ngidul. Saya nguping. Mereka tak merasa terganggu. Eee.. ngalornya tentang pemain bola. Sedang ngidulnya menyebut.. Neymar ..Messi …Benzema..dan lainnya.

Tidak hanya Neymar..Messi..mereka juga merambatkan celotehan hingga Pep Guardiola sampai Carlo Ancelotti. Lainnya tentang Barcelona, Real Madrid, Manchester City terus Manchester Untied.

Bukan main… Saya seperti terperosok lobang. Tenggelam di bacaan anak-anak karang parwita tentang sepakbola.

Sepakbola seperti materi pelajaran matematik yang mereka hafal untuk ujian semester.

Yang nilai rata-rata kelima anak-anak itu tentang sepakbola dunia di atas angka delapan. Sedangkan saya di hari itu angka matematik sepakbolanya berada di angka jongkok. Tiga… mungkin. Paling tinggi empat.

Angka yang saya dapatkan itu pun sudah jeblok. Gak mungkin mendaki lagi. Sedangkan angka sepakbola anak karang parwita terus naik.

Mungkin, kalau saya bisa datang lagi sudah di angka sempurna: sepuluh.

Walaupun angka sepakbola saya jongkok dan jeblok sok hebatnya gak mau padam. Sok hebat yang menjadi penyakit kaum jurnalis. “Mbong.”

Sombongnya  di atas sombong.

Penyakit ini lantas saya terjemahkan lewat keinginan jadi penguji bagi anak karang parwita itu dengan mencomot sebuah nama di belantara sepakbola sebagai awal pertanyaan: Lionel Messi.

Tahu lanjut ceritanya?

Wuih…. Mereka saling berebutan menjawab bak permainan kuis “siapa cepat akan dapat.”  Rebutan menyebut Argentina…Barcelona..Nou Camp..Paris saint Germain terus Inter Miami. Bukan main…

Tidak hanya detil untuk profil Messi. Kelima anak sekolah dasar itu tahu hingga berapa nilai transfer Messi serta tambahan penolakan sang maestro atas tawaran duit gajah bengkak sebuah klub Saudi.

Di ujung kuis saya mengkomporasi pengetahuan mereka  secara man to man marking.

Messi versus Jokowi. Mereka hanya tahu Jokowi itu presiden. Lanjutnya mereka diam. Menggeleng asal kampung sang presiden dan kiprah kariernya.

Saya gak mau memperpanjang. Takut kena pasal karet undang-undang informasi teknologi. Pasal karet yang dulu ditakuti insan jurnalistik. Haattzaai artikelen. Bisa ke pengadilan diseret jaksa.

Haatzaai artikelen yang Anda perlu tahu merupakan pasal-pasal yang menyangkut penghinaan, kebencian, permusuhan terhadap pemerintah atau golongan tertentu.

Golongan tertentu di kondisi sekarang Anda pasti tahu. Tahu namanya dari buzzer, projo atau apa pun. Mungkin juga golongan panji gumilang.

Pasal-pasal haattzaai artikelen ini dulunya dicantumkan di dalam kitab undang-undang hukum pidana  wetboek van strafrecht voor nederlandsch indie.

KUHP yang bukan singkatan: kasih uang habis perkara. Yang kini sering ditulis dan diorasikan sebagai tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Hehehe…

Saya tak memperpanjang cerita anak-anak Karang Parwita ini. Kuisnya sudah berakhir. Mereka pemenang. Saya kalah dan harus kasih tip. Tip rogoh kantong sembari salam tempel.

Mereka melompat.. berlarian sembari berteriak horee.. Messi.. Messi… Miami … Miami …bukan nama komparasi itu yang Anda gak bisa pura-pura gak tahu……

Untuk kekalahan saya dari anak-anak karang parwita itu.. di sepagi ini saya membalasnya dengan  menulis secuil tentang horee Messi dan hore Miami.

Balasan ini merupakan jawaban saya untuk melawan penyakit minderwaardigheidscomplex.

Penyakit gangguan jiwa yang ditandai dengan rasa tidak nyaman sosial dan penghindaran kontak interpersonal.

Sering dikatakan ahli kejiwaan sebagai gangguan kepribadian avoidant. Orang dengan kondisi ini mungkin sangat malu, takut diejek, dan terlalu khawatir dengan tampak bodoh.

Saya merasakan itu. Takut diejek dan melawannya dengan menulis hore Messi.

Hore Lionel Messi yang seperti ditulis media hebat “us to day”: kuda pun meringkik menyambut kedatangan Lionel Messi di Miami.

Media lainnya menulis: momen Messi maniak dimulai! Inter Miami yang menjadi tempat berlabuhnya Lionel Messi usai menolak tawaran duit gajah bengkak sebuah klub Saudi  Al Hilal mulai mengitung berkah.

Berkah sejak David Beckham gantung sepatu. Dan Amerika jauh lebih siap untuk sebuah ikon sepakbola terbaru hmmm…. Bukan seperti di negeri saya ini. Carut marut sepakbolanya hanya soal rumput lapangan.

Oleh carut marut ini, mungkin dan mungkin, gak suuzon, Messi enggan bertandang dengan timnya ke negeri ini. Dan bikin alasan.. Bla..blaa…blaa…

Bla..bla..bla yang dibalas dengan hihihi dan wkwkwk oleh netizen di banyak media sosial. Anda artikan sendirilah cekikan netizen itu. Yang penting jangan dicekik…akh..akkhh…

Entah ya…

Messi sendiri seperti sepakbola. Sepakbola yang jauh dari politik. Politik tunggang menunggang. Narasi tunggang langgang.

Bagi Messi lebih baik menunggang prestasi. Menunggang bayaran

Seperti yang ia lakukan dalam menandatangani kontrak di klub milik David Beckham Inter Miami.

Inter Miami yang akhirnya mewujudkan mimpinya dengan resmi mengontrak Lionel Messi dengan nilai kontrak antara lima puluh juta sampai enam puluh juta dolar. Kontrak untuk dua setengah tahun.

“Kami membayarnya sekitar lima puluh hingga enam puluh juta dolar  per tahunnya,” ujar pemilik miami, Jorge Mas seperti dilansir Forbes.

Dengan gaji sebesar itu. sebesar sembilan ratus miliar rupiah per tahunnya, Messi akan kembali ke posisi teratas pesepakbola bergaji tertinggi versi forbes.

Miami merupakan salah satu  klub yang secara resmi mampu menggaet  Messi,  setelah melalui proses negosiasi bertahun-tahun.

Untuk itu pula secara resmi pula Messi mengungkapkan perasaannya.

“Saya berada di titik di mana saya ingin sedikit keluar dari sorotan, memikirkan lebih banyak tentang keluarga saya. Saya memiliki dua tahun di mana saya sangat tidak bahagia.”

“Tingkat pribadi yang tidak saya nikmati,” ungkapnya.

Messi juga menceritakan kesulitannya pasca memenangkan piala dunia hal yang spektakuler untuknya dan kariernya.

Karier yang harus dipertegas lagi lewat keinginannya untuk lebih bahagia dengan lebih banyak menikmati waktu dengan keluarganya.

“Saya mengalami bulan yang spektakuler bagi saya karena memenangkan Piala Dunia, tetapi selain itu, itu adalah periode yang sulit bagi saya.”

“Saya ingin menemukan kembali kegembiraan, menikmati keluarga saya, anak-anak saya, sehari-hari … Dan itulah mengapa keputusan untuk Barcelona tidak terjadi,” pungkasnya.

Banyak orang menghormati pernyataan Messi yang ingin menjauh dari sorotan setelah situasi sulit yang dialaminya dua tahun terakhir.

Setelah keluar dari Barcelona dan memperkuat Paris saint-Germain, Messi memang tampak kurang bahagia. Hal ini juga terlihat dari performanya yang menurun setelah piala dunia.

Ia juga mendapatkan sambutan yang kurang baik di akhir pertandingannya bersama tim asal Paris itu.

Selain itu, perpisahan yang kurang baik saat di Barcelona juga menjadi alasan kuatnya lebih memilih ke Miami ketimbang kembali ke Katalunya.

Debut Messi di klub milik David Beckham itu diperkirakan saat bertemu Cruz Azul di laga perdana Leagues Cup – kompetisi yang mempertemukan tim-tim liga amerika dua puluh satu juli mendatang.

Penting dicatat inilah untuk pertama kali “la pulga” dalam karier profesionalnya bermain di luar liga eropa, setelah kontraknya di klub ligue 1 tidak diperpanjang.

Messi secara remi memilih liga sepakbola Amerika dengan bergabung bersama Inter Miami. Miami juga sudah mengumumkan di akun media sosialnya.

Cukup mengejutkan di awalnya. Sebab pilihan Messi sebelumnya penuh misteri dan spekulasi. Usai ia  dikabarkan lebih dekat untuk pergi ke Arab atau kembali ke Barcelona.

Terkait hal itu, kapten Timnas Argentina itu bahkan mengungkapkan niat awalnya adalah kembali ke klub yang membesarkan namanya, Barcelona.

Namun hal itu urung terjadi karena masa lalu yang kurang baik.

“Saya benar-benar ingin dan sangat senang bisa kembali, tetapi di sisi lain, setelah mengalami apa yang saya alami dan cara saya pergi.”

“Saya tidak ingin berada dalam situasi yang sama lagi: menunggu untuk melihat apa yang akan terjadi. dan meninggalkan masa depan saya di tangan orang lain,” kata Leo Messi via Mundo Deportivo.

Messi juga menekankan alasannya memilih pergi ke Miami ketimbang kembali ke Barcelona adalah karena ia tidak ingin kembali mendapatkan tuduhan yang tak beralasan kepadanya.

Saya mendengar bahwa mereka harus menjual pemain atau mengurangi gaji pemain, dan sebenarnya saya tidak ingin melalui itu atau bertanggung jawab atas sesuatu yang berhubungan dengan semua itu.

Saya sudah melakukannya, dituduh banyak hal yang tidak benar dalam karier saya di Barcelona? “Dan saya sudah agak lelah; saya tidak ingin melalui semua itu,” tegasnya.

Terakhir, Messi menyatakan bahwa alasan pribadi juga menjadi hal penting dalam pertimbangan untuk mengambil keputusan. Ia juga mengungkapkan keinginannya untuk keluar dari sorotan.

Saya berada di titik di mana saya ingin sedikit keluar dari sorotan, memikirkan lebih banyak tentang keluarga saya. Saya memiliki dua tahun di mana saya sangat tidak bahagia. Tingkat pribadi yang tidak saya nikmati,” ungkapnya.

Messi juga menceritakan kesulitannya pasca memenangkan Piala Dunia, hal yang spektakuler untuknya dan karierny.

La pulga juga menegaskan keinginannya untuk lebih bahagia dengan lebih banyak menikmati waktu dengan keluarganya.

“Saya mengalami bulan yang spektakuler bagi saya karena memenangkan Piala Dunia, tetapi selain itu, itu adalah periode yang sulit bagi saya.”

“Saya ingin menemukan kembali kegembiraan, menikmati keluarga saya, anak-anak saya, sehari-hari … Dan itulah mengapa keputusan untuk Barcelona tidak terjadi,” pungkasnya.

Barca sendiri  dalam pernyataan resmi klub menghormati keputusan Messi yang ingin bersaing di liga dengan tuntutan lebih sedikit serta jauh dari sorotan setelah situasi sulit yang dialaminya dua tahun terakhir.

Setelah keluar dari Barcelona dan memperkuat Paris Saint-Germain,  performanya menurun. Ia juga mendapatkan sambutan yang kurang baik di akhir pertandingannya bersama tim asal Paris itu.

Selain itu, perpisahan yang kurang baik saat di nou camp juga menjadi alasan kuatnya lebih memilih ke Miami ketimbang kembali ke Katalunya.

Adios Messi Cibatu… heheh Messi Lionel…[]

  • Darmansyah adalah wartawan senior, penulis “Kolom Bang Darman”