.
.
.

Wamen Ghibah…  

SAYA sedang ngopi bareng di outlet starbuck Kota Kasablanka-kokas-lantai empat di hari pelantikan menteri dan wakil menteri hasil reshuffle kabinet itu.

Senin pagi awal pekan ini.

Reshuffle itu bahasa keren untuk kata perombakan. Kata perombakan tak digunakan di keseharian. Penyebabnya, kata reshuffle yang  asalnya dari  kamus britanica gak pernah tercantum di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Selain untuk perombakan kabinet, istilah reshuffle sendiri sering kali digunakan untuk merujuk pada suatu peristiwa ketika posisi orang dalam  sebuah kelompok atau organisasi mengalami perubahan.

Sebuah situs terkenal menulis, istilah reshuffle tidak hanya digunakan pada konteks kabinet atau pemerintahan, tetapi juga dapat digunakan saat mengacak atau menyusun kembali setumpuk kartu.

Jadi reshuffle kabinet di awal pekan ini, menurut saya. idem ditto pengertian dengan mengacak dan menyusun kartu.

Anda kan tahu Kabinet Jokowi kemarin kan ada kartu matinya. Kartu mati nasional demokrat milik Paloh. Kartu Plate yang sudah runtuh.

Yang kemudian dibangun dan disusun kembali dengan kartu “projo.”  Kartu “projo” ini di era Jokowi gak pernah matinya.

Untuk reshuffle kabinet  itu artinya melakukan reorganisasi dengan mendistribusikan kembali elemen yang sudah ada sebelumnya.

Untuk arti lainnya kata reshuffle adalah perubahaan kerja di suatu organisasi, terutama di pemerintahan.

Bahkan dalam kamus  bisnis menyatakan, reshuffle bertujuan untuk memindahkan orang dalam suatu organisasi besar seperti pemerintahan. Dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya.

Gila ….maaf ya…  istilahnya saja kata reshuffle ini ribet .. ampun..

Apalagi isunya. Spekulasinya. Sebelum dan setelah reshuffle-nya sendiri. Belum personelnya, pengumumannya, pelantikan terus usai pelantikannya.

Seperti sebelum dan usai presiden melantik menteri dan wakil menteri kemarin, yang saya terus ngantuk ketika ingin menulisnya.

Alasannya karena bahasannya panjang. Dipanjang-panjang…memanjang. Gak percaya Anda tonton saja chanel televisi berita. Terus di posisi “breaking news.”

Kalau Anda mau nambah ribetnya nambah di-klik google search. Pasangkan kata lantik menteri atau apapun yang ada menterinya…. Blass….

Kalau saya gak mau blas… mem-blas…paling simak aja dugeman kedai kopi seperti pagi tadi di kopi bareng kokas. Kopi bareng dengan gaek jurnalis yang sumber dan bahasannya valid. Terukur.

Validitasnya ada tambahnya. Gak  baca media sosial atau media mainstream online abal-abal. Valid juga karena otak gaek macam saya ini masih bisa mengurai sampah hoaks berita.

Hoaks berita itu di otak penulis pemulung macam gaek bareng ngopi ini masih ada etiknya. Kode etik jurnalistik. Tidak di kertas atau di mulut. Tapi menempel di otak.

Saya sendiri termasuk orang yang skeptis. Jenis manusia yang menjauh dari pragmatis. Sejak dulu. Sejak saya menjadi pengamat mashab “zoon politikon.”

Skeptis itu adalah sifat kurang percaya dan ragu-ragu. Anda boleh mentertawakan saya tentang sikap ini. Sikap yang menjadi basis seorang jurnalis.

Walaupun peragu saya tidak menjadi bagian dari paham skeptisisme. Paham yang memandang segala sesuatu tidak pasti dan harus dicurigai. Skeptis saya hanya menyangkut sebuah informasi.

Informasi yang validitasnya di strata rendah.

Sedangkan pragmatis sebenarnya saya gak perlu jelaskan. Surya Paloh sudah menjelaskan dalam pidatonya di ulang tahun partai Nasdem pekan lalu. Pidato dengan nada tinggi.

Yang mengulang secara menggelegar sampai enam kali. Enam kali keplok massa partai. Keplok yang saya gak tahu apa pengeploknya tahu artian pragmatis itu. Kalau gak anggap saja keplok nyanyian.

Pragmatis itu sendiri adalah sifat yang mengutamakan kepraktisan dan kegunaan atau manfaat. Pragmatis adalah bersangkutan dengan nilai-nilai praktis.

Sedang zoon politicon yang ada dalam alinea saya merupakan istilah popular. Milik Aristoteles. Bukan Sristoteles Onasis yang raja kapal itu. Walaupun sesame Yunani.

Aristoteles ini seorang filsuf. Sufi kalau di kalangan ilmuwan muslim. Zoon politicon-nya Aristoteles menyangkut hubungan antarsesama manusia. Sejatinya, manusia tidak bisa lepas dari manusia lainnya.

Secara kodrati manusia itu hidup bermasyarakat dan berinteraksi dengan manusia lain.

Selain itu, manusia sebagai makhluk sosial juga berarti dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia akan selalu bergantung pada orang lain.

Maaf…!!! Ngaco.

Ngaco saya terkadang gak ketulungan kalau udah menjelaskan arti dan pengertian satu kata. Kebiasaan buruk. Dari dulu. Ingin menjelaskan sejelas-jelasnya.

Tentang reshuffle kabinet Jokowi menyangkut pengangkatan satu menteri dan lima wakil menteri. Tentang pengangkatan menteri tak ada masalah.

Posnya komunikasi dan informasi. Kominfo. Pengganti. Mengisi kekosongan setelah menteri yang dulunya dituduh korupsi. Tapi belum bisa disebut koruptor. Masih proses persidangan di pengadilan.

Nama penggantinya Anda sudah tahu. Dari “partai” projo. Partai ini Anda juga sudah tahu. Gak perlu pengesahan. Gak perlu punya perwakilan di dewan perwakilan. Cukup cuap-cuap. Dapat posisi menteri.

Partai “projo” dan partai “relawan” kini menang banyak. Dapat menteri dan beberapa wakil menteri. Ini pertanda mesin penggerak massa sang presiden akan terus hidup.

Ya.. sudah…Biasa. Menteri balas jasa karena ada jasa. Jasa untuk “giveway.”  Yang dalam istilah seorang teman ngopi: itu mah arah politik.

Arah politik memenangkan relawan. Menang banyak. Itu juga pertanda sang presiden sedang memanaskan mesin sendiri. Mesin projo. Lewat jatah berjibun di kabinet.

Anda kan sudah tahu menteri berbasis relawan jauh lebih mudah berselancar dalam manuver politik. Masak gak pernah dengar presiden tiga periode.

Masak gak tahu bagi-bagi kursi direksi dan komisaris di badan usaha milik negara. Masak gak tahu pula mereka yang dapat jatah tak sesuai dengan kompetensinya. Akhir cerita semua bagi “peng grik.”

Ya sabar saja. Manuver apa lagi yang dilakukan oleh rombongan “peng grik” ini.

Untuk selanjutnya saya kembali ke ngalor dan ngidul kopi bareng starbuck kokas. Lanjutannya kami lebih banyak bahas membahas tentang posisi wakil menteri. Akronimnya wamen.

Salah satu wamen itu seperti ditudingkan oleh seorang gaek jurnalis lewat ujung telunjuk ke saya: orang Anda. Saya cemberut.

Selain ujung telunjuknya hampir menyentuh hidung saya ia sekaligus mem-”bom” dengan mengatakan orang saya.

“Apa urusan,” gumam saya.Kuah gak isi pun jauh. Cuma belangong yang sama. Satu belangong, dulunya, dengan ayahnya. Itu pun sudah kedaluarsa. Kedaluarsa oleh waktu masa pakai.

Setahu saya wakil menteri itu lebih banyak berfungsi sebagai ban serap. Tugas mewakili … dan mewakili. Mewakili menteri pada acara tertentu. Mimpin rapat sesuai dengan penugasan menteri.

Tambah  melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh menteri. Kalau pun ada yang melenceng bisa untuk ke “daleh” melaksanakan tugas khusus yang diberikan langsung oleh presiden. Itupun lewat menteri.

Kalau pun harus dikembalikan pada fungsi tugasnya menurut aturan, tetap namanya pembantu. Membantu menteri dalam perumusan dan atau pelaksanaan kebijakan.

Membantu menteri dalam mengoordinasikan pencapaian kebijakan strategis lintas unit organisasi eselon  kementerian.

Kini wakil menteri beda dengan di era saya ketika masih di posisi wakil…

Wakil di masa saya ada pembagian berdasarkan operasional lembaga. Sekecil apa pun lembaganya. Itu ditujukan untuk efektifitas. Entah sekarang.

Sebab berdasarkan konsep kelembagaan, wakil menteri berkedudukan sebagai pembantu dan mewakili kinerja menteri negara dalam menjalankan tugas dan fungsinya.

Kedudukan wakil menteri  kini tidak lagi setara pejabat eselon satu. Seperti dulu. Yang wamennya diangkat dari aparat sipil negara. Eselonnya juga harus strata satu. Direktur jenderal atau apalah.

Kini wamen bisa datang dari mana saja. Bisa dari …. Bisa juga dari… tapi gak boleh dari comberan. Walau pun ada juga yang dari comberan yang dibalut oleh bau tak sedap..

Hahaha…. sudah… ghibaahhh…[]

  • Darmansyah adalah wartawan senior, penulis “Kolom Bang Darman”
Writer: DarmansyahEditor: Nasir Nurdin