.
.
.

Paham Aceh

Cafe with people sitting by tables and making order by counter vector. Menu of coffee house above barista talking to clients. Coffeehouse interier with people. Restaurant coffe shop with hot drinks

LIDDLE: …”kamu tidak akan pernah memahami Aceh tanpa pernah mendatangi keude kupi.”

Itu kutipan. Saya tak tahu apa itu joke atau tesis. Atau pun hanya sekadar adagium. Sebab yang memberitahunya adalah seorang ilmuwan. Peneliti. Bukan orang Aceh. Tulen bule.

Ia pernah malang melintang berkiprah sebagai pengamat politik di negeri ini. Juga di Aceh sejak tahun enam puluhan.

Apakah sampai hari ini joke, tesis atau pun adagium itu masih valid?

Saya gak tahu. Tanya saja dengan Liddle. Saya sendiri sudah lama tak mendengar actionnya. Mungkin dia sudah uzur.

Saya saja sudah uzur. Tujuh puluh pertengahan. Liddle pasti lebih uzur. Berdasarkan tahun lahirnya sudah: delapan puluh lima.

Liddle yang saya tahu akrab disapa dengan Bill… Orangnya khas. Berbadan ramping. Tinggi. Dengan jenggot bak tanaman tak terawat di dagu. Berkacamata minus dan lain sebagainya…

Khasnya yang lain, selama di Aceh, sering dibonceng ke gampong-gampong. Mungkin nyungsep ke keudee kupi lantas muncul jokes, tesis atau adagium itu.

Saya beberapa kali pernah ketemuan. Ngomong dalam bahasa prokem. Campur aduk. Suaranya gembur. Tapi ramahnya ya ampun. Bukan seperti banyak teman saya yang Aceh. Mbong bak toke bangku.

Anda sudah tahu mbong dan toke bangku. Saya pun khatam. Sudah.

Liddle yang saya tahu lainnya pengajar di Ohio State University. Columbus, Amerika Serikat. Ia profesor emeritus ilmu politik  dan spesialis politik  Asia Tenggara, khususnya Indonesia.

Riset Liddle fokusnya pada kepemimpinan politik, perilaku memilih, dan sikap populer terhadap politik Islam.

Dia telah memenangkan hibah penelitian baru-baru ini dan banyak mempublikasi hasil risetnya. Banyak  sekali… Saya gak ingin menambah cerita ini. Bukan topik tulisan.

Yang perlu Anda tahu publikasi tulisannya banyak di media mainstrean prestesius. Tingkat global maupun negeri ini. Mulai dari The New York Times hingga Kompas dan Tempo.

Setelah saya telusuri ulang gak ada topiknya tentang kopi dikaitkan dengan Aceh.

Mungkin gak ilmiah.. hahaha. Mungkin juga hanya joke…

Saya tahu apa  itu joke. Trik lucu untuk membuat orang tertawa. Bahkan pesan britannica dictionary, jokes jangan pernah dianggap serius.

Jokes itu sendiri ada stratanya. Atas-bawah atau receh. Kalau receh itu strata guyonan rendah atau garing. Paling bisa bikin tersenyum.

Bagaimana kalau ia dikategorikan dengan tesis. Saya jadi mikir. Tesis itu kan pernyataan atau teori yang didukung oleh argumen.

Tesis biasanya dikemukakan dalam karangan untuk memeroleh gelar kesarjanaan pada perguruan tinggi. Terlalu lebay.

Lantas apa adagium? Entahlah…adagium sendiri justru merupakan sinonim dari ungkapan, pernyataan, dan peribahasa.

Puyeng…

Soalnya nama R. William Liddle sendiri sudah merasuk ke otak paling dalam saya sebagai ilmuwan hebat di kampus negeri saya. Dulu…

Dulu sekali ketika warung kopi belum berjibun. Masih satu dua…

Kini jibunannya telah bertimbun. Bahkan sudah menimbun gelar : “aceh serambi mekah” dengan “kota seribu kedai kopi.”  Untung saja gak menimbun “serambi indonesia” Kalau itu ampuunnn … saya. Hanco klaha.

Terhadap kasus ini saya pernah mengadakan riset kecil-kecilan. Di sebuah keudee kupi kawasan Beurawe. Usai sebuah subuh. Respondennya macam-macam.  Acak…. dan bisa diacak.

Kalau “wobaksot,” kembali ke asal, saya menjadi pengunjung tetap keudee kupi Beurawe. Mereka senang saya hadir.

Banyak “haba.: cerita. Setengah dari isian habanya  “sulet.” Bohong. Setengah lagi campuran. Yang benarnya hanya seperempat.

Senangnya mereka saya selalu mendahului membayar, Bisa dua atau tiga meja. Dengan “peng mirah.” Hahaha… bangga juga dianggap ureung kaya.

Ketika saya lontarkan pertanyaan tentang “serambi mekkah” dan “seribu keudee kupi”  ke responden acak itu jawaban mereka hampir serentak: seribu keudee kupi. Hanya dua orang yang menyempal “serambi mekkah.”

Saya terbahak… Berlari ke toilet… Anda tahu kan alasan saya…Basah kantong apa…gitu.

Di keudee kupi Beurawe saya juga bikin riset lain. Menghitung jumlah meja dan komparasi pengunjung lelaki dan wanita.

Wow! Wanitanya sampai lima puluh persen dari tiga puluh enam meja,

Di kesempatan lain saya ke keudee kupi Solong. Kawasan Gampong Keudah. Pinggir Krueng Aceh. Keudee kupi terbuka.

Hanya ada atap dan lantai. Seperti sebuah pujasera. Penuh. Masif. Pria. Wanita. Hingga tengah malam. Anak-anak muda.

Di Solong ini saya mendapat petuah seorang teman ngopi.

Ia mengatakan begini: jika ngon mengambil batu, kemudian memejamkan mata, dan melemparkan batu itu ke arah manapun secara acak, niscaya akan kena warung kopi.

Pesan lainnya. Pergilah ke pedalaman  yang melewati hutan dan kebun-kebun. Saat memasuki kampung, yang paling pertama ngon jumpai adalah warung kopi.

Hahaha…

Saya lanjut tanya:  berapa gelas dia minum kopi sehari.

Jawabannya di luar nurul,  tujuh gelas!

Pernah juga di sebuah kesempatan lain, katanya, habis minum kopi kepalanya kliyengan dan bawaan mau tidur aja.

Saya gak lanjut tanya,  yakin kopi itu ada ‘isinya’. Anda lebih tahu dari saya tentang isinya. Stop….jangan lanjut nulisnya bisa banyak urusan.

Lanjut lainnya saya sisakan saja di otak. Sisa tanya: kok ngopi banyak gak kembung.

Masih tentang gelas kopi. Seorang pegawai pernah cerita ke saya,  Ia aneuk keumuen. Ponakan. Dia rutin ngopi pagi hari di rumah sebelum berangkat kerja. Usai ngisi absensi , ngopi lagi di warung dekat kantor.

Sekitar jam satu-an di kantor ngopi lanjut. Begitu dentang  jam tiga-an sore ngopi lanjut. Terakhir, ngopi di malam hari, bisa di rumah atau di warung kopi. Luar biasa.

Kalau saya gak lah. Untuk kopi, saya lebih memilih kopi scahetan: lebih praktis.

Sedangkan untuk susu, saya milih susu segar yang fresh from the oven, mimik di tempat, langsung. Menurut saya itu lebih menyehatkan.

Selanjutnya saya ingin menulis sejarah awal keudee kupi. Agar lebih klop. Dengan literasi sederhana agar gak membosankan.

Ini dia tulisan lanjutannya.

Masih ingatkah bagaimana sejarah munculnya warung kopi di dunia?

Ya, ia muncul lebih awal di Eropa.

Di Prancis, orang menyebutnya sebagai salon; dan di Inggris, coffee house. Di dalamnya memang menjual kopi siap minum. Oleh karena itu, di negeri ini, tempat-tempat tersebut bernama warung kopi.

 

Awalnya, warung-warung itu menyediakan teh dan minuman lain. Namun, karena negara-negara Eropa berhasil membawa kopi dari negara jajahan seperti Indonesia, maka dengan cepat kopi menjadi popular.

Banyak orang menggemarinya, dan menjadi minuman orang-orang kaya.

Mari kita lihat penikmat kopinya. Tempat ini mulai populer bukan karena kopinya saja, tetapi juga karena fungsinya.

Para penikmat kopi menggunakan tempat ini bukan sekadar untuk minum kopi, mereka juga memanfaatkannya sebagai tempat berdiskusi.

Bahkan, menjadi sentral bagi diskusi-diskusi kultural waktu itu.

Banyak hal yang mereka diskusikan. Pada awalnya, hanya masalah sastra dan seni, termasuk musik. Namun, kemudian dengan diskusi-diskusi ilmiah dan politik.

Bahkan, setiap penulis buku selalu mendiskusikan tulisannya di warkop-warkop sebelum terbit, begitu pun dengan para seniman.

Di negara lainnya, meskipun ada perkumpulan semacam ini, namun tidak menggunakan warkop sebagai alat. Perkumpulan masyarakat di negara ini adalah himpunan masyarakat meja dan sastra.

Sama seperti warung kopi, mereka awalnya fokus pada sastra dan ilmu pengetahuan. Tapi, pada akhirnya menjadi politis juga.

Perkembangan diskusi di warkop kemudian tercium oleh pemerintah sehingga sempat dalam pengawasan dan terlarang karena pemerintah takut kegiatan itu akan mengganggu stabilitas politik.

Bukan hanya karena isi diskusinya saja, masyarakat penggemar warung kopi yang makin besar juga menjadi pertimbangan pemerintah.

Karena mustahil pemerintah memperhatikan sebuah diskusi dengan kualitas tinggi jika kelompok mereka hanya sedikit.

Sejarah mencatat bahwa perjalanan warung kopi memiliki andil besar dalam perubahan sistem pemerintahan di  dunia.

Sistem pemerintahan monarki yang kini berganti dengan sistem demokrasi  merupakan hasil diskusi dan pergerakan para penikmat warung kopi.

Fungsi warung kopi yang tidak hanya sebagai tempat berkumpul, tetapi juga sebagai tempat pengeraman kegelisahan politik, menciptakan kondisi politik yang berbeda.

Dari diskusi di warung kopi, kemudian mengubah pemahaman dan kesadaran masyarakat.

Bahkan, hingga menggerakkan mereka untuk memperjuangkan hak individu yang sudah sejak lama menjadi dambaan setiap warga masyarakat.

Pemerintahan yang awalnya berjalan berdasarkan perhambaan, karena pengaruh warung kopi, semuanya berubah menjadi pemerintahan yang menjunjung tinggi hak-hak individu, yaitu demokrasi.

Sekarang, hampir seluruh negara di dunia menggunakan demokrasi sebagai sistem pemerintahan.

Namun, fungsi warkop yang mampu memengaruhi pemerintahan tidak akan dapat berjalan lancar jika hak individu terbatas. Di negeri ini pun, kejadian yang sama pernah terjadi. Di era lalu.

Era otoriter. Semua hal yang menyangkut negara harus mengikuti kehendaknya.  Kehendak monoloyalitas. Kebebasan individu ditekan dengan alasan stabilitas.

Akibatnya, warkop  waktu itu tidak mampu berbicara banyak dan tampil heroik memperjuangkan hak-hak rakyat. Semua dibatasi dan diawasi dengan ketat. Bahkan anarkis.

Namun, sedikit demi sedikit, masyarakat  menyadari pengaruh otoriter. Mereka menyadari efek dari sikap otoriter ini.

Sebut saja sebuah grup lawak yang dalam pengawasan tak kuasa menahan kegelisahan politik tersebut sehingga para penikmat warung kopi mulai mengekspresikan kegelisahan mereka.

Awalnya, kegelisahan-kegelisah itu terekspresikan dengan samar-samar.

Masih segar di ingatan kita bagaimana grup lawak itu keluar kandang mengkritik pemerintahan dengan sangat jenaka dan lucu sehingga tetap eksis di tengah-tengah kondisi politik otoriter.

Nama ‘warkop’ sendiri sebenarnya merupakan kependekan  dari “warung kopi”, sebuah tempat bagi tiga orang pelawak ini sering berkumpul.

Mereka tidak akan saya gambarkan di sini, tapi bisa Anda tonton dan analisis sendiri. Ada beberapa faktor penyebab warung kopi kehilangan fungsinya. Campur tangan pemerintah.

Kali ini, campur tangan bukan berbentuk pembatasan kegiatan diskusi, namun lebih pada hal-hal yang bersifat legal.

Pemerintah sering menganggap hasil-hasil diskusi masyarakat tidak kompeten karena tidak memiliki informasi memadai dalam suatu masalah.

Akibatnya, hasil diskusi masyarakat tidak dapat legal di dalam undang-undang dan aturan lainnya. Sikap malas, individualis dan peniru menjadi karakternya.

Semua karakter ini dibawa ke dalam warung kopi sehingga warung kopi tidak lagi menjadi tempat berdiskusi, tetapi menjadi tempat pamer penampilan dan materi yang dimiliki.

Warung kopi macam ini telah banyak ditemukan. Setiap orang sibuk bermain laptop, hp, gitar, kartu, atau sekadar lucu-lucuan.

Semua fungsi warung kopi yang menjadi tempat diskusi intelektual, kini menjadi panggung iklan dan penampilan individu hingga kelompok.

Kalau hari ini….

Anda yang tahu…[]

  • Darmansyah adalah wartawan senior, penulis “Kolom Bang Darman”