.
.
.

Oyster Eropa

SAYA memanggilnya Khalik. Nama lengkapnya Mohamad Khalikul. Seorang dokter. Spesialis  yang sudah  subspesialis.

Spesialisnya  neurologi. Cabang ilmu kedokteran yang fokus pada otak dan sistem saraf.

Sedang subspesialisnya strata bedah saraf. Menangani penyakit dan segala jenis pengobatannya pada gangguan otak plus sistem saraf. Bidang yang dikenal dengan neurologis.

Neurologis yang menjadi tempat saya bertanya tentang sistem jaringan otak. Agar bisa memelihara memori untuk tidak hang… Yang nasehatnya selalu saya dengar. Tentang memori agar gak drop out.

Saya tentu tahu tentang memori yang drop out. Sudah menurun keluar garis lagi. Kalau dalam permainan bola namanya off side. Saya gak mau otak saya  off side apalgi drop out.

Menurut Khalik, posisi di usia saya memorinya pasti akan memuai. Cuma lagi, bagaimana pemuaiannya tak terlalu cepat. Ia pun memberi saya jenis vitamin otak. Namanya depakote er lima ratus.

Khalik sendiri kini berada  di usia paruh baya. Artinya berada di umur empat puluhan awal.

Dulunya si neurologis ini anak tetangga. Tetangga rumah kopel. Dua rumah yang dindingnya dempet tapi punya dua pintu. Khas rumah desa.

Bukan kopel seperti rumah di bumi serpong damai atau summarecon yang harganya selangit dan luas bangunannya sejumput.

Khalik kini masih tetanggaan. Tetanggaan satu kota. Saya di barat dia di timur. Kalau nyeberangnya harus lewat toll. Jalan berbayar. Tinggal gesek e-toll. Kalau nyeberang  non toll bisa…amblas waktunya.

Saya sering saling kunjung dengannya. Saling kunjungnya bukan seperti ketika di rumah kopel. Yang pintunya dipisahkan dinding. Yang ngomong tetangga sebelah dinding cukup tempel kuping nguping.

Saling nguping dengan mendekapkan telinga di dinding langsung tahu isian ngomong sana begitu juga ocehan di sini.

Kini, setiap kali ketemuan dengan anak tetangga itu saling bawa topik cerita. Topik miliknya kedokteran. Saya bawa “haba.” Kedua topik ini bak langit dan bumi. Gak pernah ketemu pangkal, tengah dan ujungnya.

Kalau salah satu ngomong lainnya takzim saja dengar. Tapi ada … tapinya. Saya selalu dapat pencerahan darinya tentang macam-macam ghibah seputar kedokteran.

Ghibah biaya kuliah yang mahal, prakteknya yang susah, spesialisnya yang ruwet dan macam-macam lainnya. Khalik sendiri sempat ingin stop lanjut kuliah. Soalnya anak a-es-en. Aparat sipil negara.

Kerjaan ayahnya disapa pe-en-es. Pegawai negeri sipil. Gaji cepek. Pertengahan bulan kas keluarga udah jebol..Aliran  kasnya pasang di awal, surut di tengah dan kering di akhir.

Kalau Anda aparat sipil pasti tahu maksud saya ini.

Kuliah kedokteran penuh derita. Derita biaya. Apalagi kalau ditambah dengan  kuliahan spesialis ribetnya plus and plus…

Untung saja sang ayah banyak hak wareh. Blang gampong.

Sampai Khalik selesai hingga meraih kesarjanaan blang wareh  ayahnya tinggal setengahnya.

Ketika ingin lanjut  ke spesialis ribetnya gak ketulungan. Harus nyembah-nyembah minta rekomendasi. “Untungnya ayah punya pertemanan dengan pejabat. Bisa lebih lancar,” ujar Khalik suatu hari ketemuan.

Derita kuliahan spesialis ribetnya plus and plus…Bagai office boy. Gak di kampus. Cukup di rumah sakit. Di suruh-suruh dokter senior. Dibentak. Dijadwal begadang.

“Pokoknya ribetlah. Datang pagi pulang pagi” katanya.

Oo..alah.. ringkas saja. Kini Khalik udah di strata dokter subspesialis. Bedah saraf.

Gak mau jadi a-es-en. Gakmau “wobaksot.”  Ambil praktek di perkotaan. Beberapa klinik yang rujukan rumah sakitnya elitis. Pasiennya berjubel. Bisa lima belas orang sehari.

Anda kan tahu tentang jenis peyakit neurologis. Penyakit saraf. Penyakit otak yang sarafnya bertimbun-timbun. Banyak diidap orang kaya atau orang sok kaya yang mikirnya Anda gak perlu saya kasih tahu…

Saya gak usah memberitahu berapa bayaran satu pasien bedah saraf yang terhubung dengan asuransi kesehatan, Nilai gepok. Khalik kini duitnya banyak gepoknya.

“Untuk nebus wareh ayah yang hilang dulu om,” katanya dengan tawa ngakak.

Karena gepoknya banyak dua hari lalu ia mengajak saya “diner”an di sebuah resto mahal yang sekali sentuh piringnya di “cas” setengah jutaan  Selain itu ia ingin bikin kejutan menu.

Saya nunut aja. Nunut khas pengangguran. Semua menu disikat saja demi “reuhong.” Sekalian jadi cadangan untuk makan berikutnya.

Menu yang dipesan Khalik sebagai kejutan itu akar katanya amat bule. Oyster justify. Saya sih oke.

Ketika pesanan datang saya sempat tersedak. Tersedak karena yang dihidangkan itu tirom. Tiram. Mentah lagi.

“Ini makanan enak om,” katanya menenangkan “kepanikan”saya yang tergagap melihat isian piring. “Sangat cocok untuk kita  yang sedang bosan dengan lauk,” ujarnya lanjut.

Saya tambah “mumang.” Kok tiram, yang diucapkan dengan lidah ditekuk yang berdesis dengan “tiroum” dalam dialek gampong di panca  terhidang di meja saya.

Tiroum yang sering membuat istri saya menggelengkan kepala sembari mengibaskan tangan sebagai menolak untuk membelinya di gampong Alue Naga menjadi oyster justify. Khas euro.

Saya tahu alasannya itu. Masalahnya cuma di akar otak. Kan di Alue Naga itu ada kluster perumahaan untuk orang… sebelum tsunami. Namanya kawasan itu seperti sebuah pulo. Ada “po”nya untuk tambahan kata “di amat.”

Anda sudah ngertilah. Alasan biasa bagi mak-mak. Gak usah ditanggapi. Soalnya oyster yang tiroum dinner saya dengan Khalik istimewa. Porsinya dalam hitungan dollar. Saya gak mau menyebut rupiahnya. Cari aja di akar google.

Tapi, dengan alasan bayaran peng mirah yang akan ia  gesek dari kartu  kredit premirnya saya berdamai.

Ternyata oyster itu tiram. Tiram yang hari itu hidangan laut  alternatif sajian diner

Ooo ..alah tiram di gampong saya menjadi hidangan spesial dinner di resto yang gak mau saya sebutkan namanya . Yang rasanya setelah saya cicip  ada unik dan khasnya.

“Bisa bikin ketagihan karena resep olahannyan beragam, mulai dari dipanggang, dimasak bersama bumbu-bumbu,” jelas si Khalik.

Kali ini topik kami tiak antara langit dan bumi. Dan bukan cet langet. Tapi tentang “bumi” tiram si oyster.

Tiram yang dikatakan si Khalik sebagai obat rindu gampong. Obat rindu Alue Naga. Gampong yang digulung tsunami

Meratakan tanahnya dan membuat banyak penghuninya tak tahu dimana jiratnya.

Sepanjang dinner itu akhirnya saya dan Khalik terjebak dalam diskusi tiram dikaitkan dengan makanan. Tiram di makan mentah. Tiram yang memiliki resiko kesehatan bila dimakan sembarangan

Dan inilah literasi dari si Khalik tentang tiram dan bagaimana seharusnya ia disajikan

Tiram atau oyster merupakan jenis kerang yang umumnya disajikan tanpa dimasak.

Makanan tersebut populer di beberapa kalangan masyarakat, terutama pecinta seafood karena rasanya yang unik. Selain itu, oyster juga diketahui memiliki berbagai kandungan nutrisi yang penting bagi tubuh.

Menjadi salah satu hidangan laut oyster, menurut literasi,  cocok dimakan saat masih mentah.

Meski aman dimakan mentah perlu memerhatikan kondisinya sebelum diasup. Wajib memastikan kalau oyster masih dalam kondisi segar

Meski mengandung berbagai nutrisi penting yang bermanfaat bagi tubuh, seperti protein, vitamin, mineral, dan asam lemak omega-tiga, nyatanya oyster yang dikonsumsi mentah berisiko bagi kesehatan.

Nah, salah satu risiko dari mengonsumsinya mentah adalah kontaminasi bakteri vibrio pada oyster atau tiram yang dapat berujung pada infeksi.

Tiram yang dikonsumsi mentah atau setengah matang dapat mengakibatkan infeksi bakteri vibrio atau penyakit vibriosis.

Bakteri vibrio ada dua jenis. Kedua jenisnya, baik vibrio vulnificus dan vibrio parahaemolyticus memiliki habitat alami yang sama dengan oyster.

Oyster itu kalau makan  menyaring air Kondisi ini menyebabkan bakteri vibrio dan bakteri lainnya rentan untuk masuk dan mencemari jaringan tubuh oyster.

Lebih mengkhawatirkannya lagi, tiram yang tercemar bakteri vibrio tidak dapat dibedakan dengan tiram yang sehat.

Jika tiram yang tercemar dikonsumsi secara mentah atau kurang matang, maka kuman seperti bakteri yang mengontaminasi tubuhnya akan meningkatkan risiko infeksi.

Hal ini lantaran bakteri vibrio yang mengontaminasi belum mati jika oyster tidak dimasak hingga matang.

Jika seseorang terkena infeksi bakteri vibrio akibat konsumsi tiram mentah, maka dirinya akan merasakan sejumlah kondisi kesehatan sebagai gejalanya.

Misalnya seperti mual dan muntah, diare, kram perut, demam, hingga septikemia atau infeksi darah serius. Meski gejalanya tergolong ringan, tapi infeksi vibrio dapat menyebabkan resiko serius

Tak hanya ancaman infeksi bakteri vibrio yang mengintai dari konsumsi oyster secara mentah, makanan yang satu ini juga berpotensi membawa virus dan enterovirus tipe norwalk.

Perlu diketahui bahwa infeksi virus tersebut diketahui dapat memicu keracunan makanan dan sejumlah gangguan pada saluran pencernaan. Misalnya seperti peradangan di lambung dan usus hingga gastroenteritis akut.

Di samping itu, berdasarkan habitat aslinya oyster juga berpotensi tercemar dengan kontaminan kimia logam berat seperti timbal, merkuri, hingga kadmium.

Maka dari itu, anak-anak, mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah, dan wanita hamil atau menyusui perlu menghindari konsumsi oyster secara mentah.

Oyster juga dikabarkan mengandung senyawa zinc yang sangat tinggi. Meski mineral tersebut penting bagi kesehatan tubuh, tetapi mengonsumsi zinc terlalu banyak dapat menimbulkan dampak negatif bagi tubuh.

Salah satu dampak negatifnya adalah melemahkan respon imun tubuh, sehingga tubuh menjadi lebih rentan terserang peradangan.

Selain itu, mereka yang memiliki alergi terhadap makanan laut juga perlu menghindari mengonsumsi oyster.

Itulah penjelasan mengenai risiko makan oyster mentah yang mengintai bagi kesehatan, yaitu infeksi bakteri vibrio pada oyster yang tercemar.

Sebab, bakteri vibrio secara alami menghuni perairan pantai selayaknya oyster sebagai habitat alaminya.

Tapi dengan modernisasi budidayanya infeksi bakteri vibrio bisa di cegah. Dan oyster yang dihasilkan, terutama di alue naga dan aceh jaya bisa menjadi ekspor ke Eropa.

Permintaannya tinggi…[]

  • Darmansyah adalah wartawan senior, penulis “Kolom Bang Darman”