.
.
.

Pesona Senja di Pantai Anoi Itam

Pesona Pantai Anoi Itam, Kota Sabang. (Foto Ali Mangeu/Portalnusa.com)

DESIRAN angin senja dari laut lepas Samudera Hindia seakan membujuk pengunjung terus berlama-lama. Di kejauhan terlihat sunset menyemburkan sinar kuning emas nan menggoda fotografer untuk bereksperimen di angle matahari terbenam.

Pandangan kian terhipnotis dengan kawanan ikan kecil yang  berloncatan di permukaan ombak. Sesekali muncul burung camar datang menyambar, bertambah indah dengan perahu nelayan yang lalu lalang di tengah laut, alun kecil berkejaran menambah eksotis panorama senja di tepi pantai.

Akan menyenangkan bila menyusuri pantai tanpa beralas kaki, hangatnya pasir dengan ombak  yang menyapu serasa enggan naik ke darat. Pantas saja, majalah Garuda Indonesia menyematkan salah satu pantai tercantik di Nusantara itu karena begitu indah dan menawan.

Itulah Pantai Anoi Itam di Kecamatan Suka Jaya, Kota Sabang, berjarak 13 kilometer dari pusat kota.

Anoi Itam memberikan sensasi berbeda. Pasir hitam tak cuma nama tetapi hamparan di sepanjang pantai itu memang berpasir hitam. Siang hari, bila cuaca cerah akan terlihat perpaduan hitam dengan kilauan pernik-pernik putih terpantul matahari yang memanjakan mata.

Panorama itu kontras dengan catatan tim observasi Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh pada 1997. Pasir di sepanjang pantai  terdapat kandungan nikel pada komposisi mineral tinggi, sehingga memiliki berat jenis yang mencapai 3 kali lipat dari pasir pantai pada umumnya.

Kelestarian ekosistem tempat itu masih tampak utuh, terlihat dari kebersihan pantai dan pepohonan yang masih berjejer rapi. Kotek-kotek kecil berkonstruksi kayu tempat pengunjung berteduh membuat semakin nyaman disinggahi.

Bila ingin bermalam juga terdapat penginapan, hotel dan resort dengan harga ekonomis. Bagi yang suka berkemah, ada hamparan pasir yang nyaman mendirikan tenda.

Gemar memancing tak perlu ragu, hanya berjalan kaki ke spot fishing.

Pecinta  kuliner juga tersedia aneka makanan dan minuman yang menggugah selera, penikmat kopi  juga dapat berbaur di sana, karena tersedia banyak jenis kopi sesuai keinginan.

Tetapi, tak ada angkutan khusus menuju tempat itu,  jika tak punya kendaraan pribadi kita dapat menggunakan jasa rental mobil atau taksi dengan tarif terjangkau. Tak perlu takut, jasa angkutan itu juga bersedia antar jemput kapan pun dibutuhkan.

Sepanjang perjalanan yang menanjak dan menurun, kita terus menikmati pesona yang nyaris tak berujung, tak ubahnya kanvas dengan lukisan raksasa sang maestro. Keindahan Pulau Weh di ujung paling barat Nusantara. Sebuah kesempurnaan yang harus kita lestarikan.[]