Ariani Superstar

SEJUJURNYAsaya sedih. Putri Ariani gagal memenangi america’s got talent session delapan belas. Apa boleh buat. Penentuan juara berdasarkan vote dari penonton.

Secara penampilan Putri cukup bagus.  Saya percaya tampilannya akan lebih bagus di masa depan.

Ia akan jadi superstar. Saya percaya itu.

Menjadi ranking keempat sudah cukup baginya. Itu kan pintu awal menuju superstar dunia.

Suara emasnya di hari penampilan finalnya masih menjadi magnet penonton. Memukau, Standing opinion. Disertai tepuk tangan panjang, hohoho…

Saya kagum kepadanya. Teringat dengan tiga penyanyi ternama dunia. Yang daya pikatnya, daya tarik dan magnet bernyanyi hampir tak berjarak dengan Ariani.

Kedalaman suaranya?  “Mempesona,” komentar Simon Cowel yang menjadi mentornya selama audisi.

Ketiga penyanyi dunia itu yang pesonanya sebangun dengan Ariani adalah Stevie Wonders, Ray Charles dan juga andrea Bochelli.

Ketiganya idem dito Putri Ariani. Memiliki hambatan pada penglihatan mata sejak kecil. Tapi punya karakter suara yang sangat khas. Itu modal.

Modal Ariani. Seperti saya tonton secara berulang-ulang di youtbe  Bakatnya langsung terasa. Kreativitasnya luar biasa.

Meski begitu, memiliki suara nan indah dan kreativitas dalam bermusik belum cukup untuk menadi superstar dunia. Ariani harus terus berusaha.

 

Merambah musik dan mencari peluang untuk menjadi penyanyi kelas dunia. Di sana tersedia jaringan industri musik dunia.

Ia memerlukan adaptasi. Perlu didukung seorang composer atau record produser tingkat dunia. Pilihan terbaik adalah sebuah nama.  David Foster.

Tokoh sentral industri musik ini bisa membantunya untuk membukakan jaringan rekaman. Foster pernah memuji Ariani ketika tampil di Sentul bulan lalu.

Tentu tak hanya itu saja. Ariani juga bisa memanfaatkan jaringan televisi dunia. Sehingga, nantinya dapat diketahui para pemusik dunia. Perlu terkoneksi dengan showbis dunia, jaringan televisi global.

Yang pasti jaringan musisi dunia, tokoh untuk menciptakan penggemar, juga dukungan dari jaringan dana, yang tidak ada di negeri ini.

Saya mengusulkan Ariani bisa menetap sementara di negara yang industri musiknya berkembang pesat Tonjolkan differensiasinya.

Ariani harus menunjukkan kepada dunia bahwa dirinya berbeda dengan penyanyi-penyanyi lainnya di peta dunia.

Ariani bisa tampil dengan kultur negeri ini. Menggunakan alat musik tradisi. Bisa  angklung, suling, atau gendang. Juga menggunakan pakaian khas. Kebaya, atau lainnyayang disentuh designer modern.

Masih bisa ditambah dengan menggunakan tarian khas daerah. Sehingga, dapat menarik daya tarik para penonton. Tarian khas ini tentu tak kalah eksotiknya. Bisa dari mana saja. Bisa dari aceh.. hahah.

Tentang kegagalan Ariani menjadi juara itu adalah pilihan audience. Pilihan yang belum tentu yang terbaik.

Secara kualitas, ajang seperti america’s got talent ketat dalam seleksi awal, sehingga hanya yang memiliki kualitas tertentu yang berhak tampil.

Selanjutnya “pilihan terbaik diantara sekian yang baik itu” diserahkan sepenuhnya kepada audience.

Terlalu banyak faktor yang mempengaruhinya, sehingga pilihan audience hanyalah sebuah pilihan berupa “kesesuaian dengan ketertarikan dan seleranya dalam suatu rentang waktu tertentu”.

Oleh karena itu pilihan audience tidak bisa atau tidak mungkin dijadikan sebagai sebuah acuan akan kualitas yang sesungguhnya. Gak ada parameter yang bisa mendeskripsikannya.

“Masa’ Putri Ariani kalah dari anjing dan pelatihnya.”  Wkwwk……

Saya sendiri gak nonton aksi lainnya. Hanya membaca laporannya. Ternyata banyak yang menarik dan atraktif.

Sebut saja “hurricane.”  Anjing itu memang pintar. Dilatih bermain akrobatik, bahkan bermain drama oleh sang pelatih. Adrian Stoica.

Kata seorang juri. Howie Mandel. American got talent adalah ajang kompetisi multitalenta. Saya yakin, kalau ajang pencarian bakat itu kompetisi nyanyi Ariani juaranya.

Toh ini  selera Amerika. Selera suka hal yang unik. Keunikan anjing peliharaan yang pintar seperti hurricane. Sekali lagi, ini selera Amerika.

Dan di sinilah, barangkali, biang penyebab kegagalan Ariani. Jangan sesali. Saya tak akan pernah menyesali. Seperti banyak videp hoaks dengan judul aneh-aneh.

Kalau video hoaks kayak gitu ditonton orang amerika, kan menggerus simpati  Kasihan Ariani.

Yang semula ingin mendukung lanjutan karirnya  jadi mengurungkannya.

Kegagalan kita meraih apa yang kita inginkan, boleh jadi karena tuhan menyiapkan anugerah lain yang jauh lebih berharga.

Tak masalah Putri kehilangan kesempatan memenangi satu juta us dollar. Insyaallah ke depannya ia bisa mendapatkannya berganda lipat. Amin….

Putri punya modal untuk itu: bakat yang dianugerahkan

Benar, saya sedih. Tetapi kesedihan saya mungkin tak seberapa bila dibandingkan kesedihan Simon Cowell.

Pemenangnya memang bukan Ariani. Adrian Stoica yang tampil bersama anjingnya, hurricane.

Bagi saya, berhasil menempati posisi keempat adalah pemenang sesungguhnya. Keterbatasannya telah berhasil membawa nama negeri  ke pentas internasional.

Anda mungkin alpa menyimak. Dari sebelas finalis itu yang penyanyi solo hanya dua finalis: Putri Ariani dan Lavender Darcangelo asal Massachuset.

Keduanya sama-sama perempuan, sama-sama tunanetra, dan sama-sama penerima lonceng emas. Golden buzzer. Putri menerianya dari Simon Cowell, sementara Lavender dari Heidi Klum.

Anda perlu menyimak pesan Ariani kepada dunia di panggung final.

“I believe that we are able, we are capable, and we are equals, so don’t be afraid to keep reaching your dream, our dream will come true if we believe it….”

Pesan usai ia melantunkan lagu “Don’t Let the Sun Go Down on Me” milik Elton John dan George Michael.

Sangat bagus, tapi jadi monoton jika disanding dengan lagu-lagu sebelumnya. Ke empat juri memberi standing ovation.

Kalau saja voting bisa dilakukan oleh siapapun pemirsa saya yakin Putri Ariani bisa juara.

Tapi, ini Amerika. Views di youtube tidak bisa jadi ukuran.

Semoga Putri benar-benar  menjadi superstar.[]

  • Darmansyah adalah wartawan senior, penulis “Kolom Bang Darman”
Penulis: DarmansyahEditor: Nasir Nurdin