.
.
.

Ini Baru Caleg Sejati, Bagi-bagi Sembako setelah Gagal Dapat Kursi

Foto tangkapan layar dari akun Youtube @affanditay memperlihatkan sosok caleg bernama Aladin Lubis membagikan sembako untuk masyarakat setelah dirinya gagal meraih kursi pada Pileg 2024.

KALAU ada caleg yang bagi-bagi sembako, uang atau bingkisan lainnya sebelum hari pencoblosan, itu sudah dianggap sesuatu yang biasa. 

Di tengah berbagai modus yang sudah dianggap wajar dan biasa itu, tiba-tiba di Kota Lhokseumawe ada seorang caleg yang justru membagi-bagikan sembako setelah pileg selesai dan si caleg gagal mendapatkan kursi.

Kisah unik dan menginspirasi itu dikutip Portalnusa.com dari video berdurasi 4 menit 54 detik yang ditayangkan akun Youtube @affanditay.

Akun Youtube Jurnalis Warga tersebut mengisahkan tentang sosok Aladin Lubis, caleg DPRK Lhokseumawe Dapil 1 Kecamatan Banda Sakti dari Partai Demokrat nomor urut 7.

Aladin gagal mendapatkan kursi empuk DPRK Lhokseumawe karena hanya mengantongi 218 suara.

Hebatnya, dia tidak ngotot mencari kesalahan atau membeli suara untuk mencapai harga satu kursi.

Aladin juga tidak stres sampai berakibat gangguan jiwa.

Aladin baik-baik saja dan tetap tegar. Malah membagi-bagi sembako untuk warga miskin setelah memastikan dirinya gagal. Ini tentu saja mengejutkan banyak pihak.

Aksi bagi-bagi sembako oleh caleg gagal tersebut berlangsung di Gampong Pusong Baro, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, Jumat, 24 Februari 2024. Pusong Baro merupakan salah satu gampong di dapil-nya.

Aladin membagi-bagikan sembako untuk warga kurang mampu sebagai ucapan terima kasih atas dukungan warga, meski hanya mendapat 218 suara.

Kepada wartawan, Aladin Lubis mengatakan, dia mengikuti pemilihan calon legislatif dengan sangat hati-hati sesuai hukum yang berlaku. Dalam melakukan sesuatu dia selalu ingat pesan gurunya, Abu Manan Blang Jruen.

“Yang saya harapkan adalah masyarakat memilih saya dengan keikhlasan hati. Saya tidak mau memaksa masyarakat apalagi dengan memberi sesuatu kepada masyarakat untuk memilih saya,” ujar Aladin.

Menurut Aladin, memberikan sesuatu kepada masyarakat sebelum pemilihan agar masyarakat memilihnya adalah tindakan yang merendahkan martabat rakyat.

“(Praktik) seperti itu adalah jual beli kemiskinan,” ujarnya.

“Mereka (rakyat) ikhlas membantu saya dan saya tidak mau menjual kemiskinan dan tidak mau membeli kemiskinan. Marwah masyarakat lebih mahal dari jual beli suara itu sendiri,” kata caleg Partai Demokrat tersebut.

Dalam sambutannya ketika membagikan sembako kepada warga kurang mampu, Aladin mengucapkan terima kasih kepada yang telah memilihnya meski suara yang diperolehnya hanya 218 sehingga tidak mampu membawanya ke kursi legislatif.

Dia mengakui tidak unggul dalam perolehan suara karena dalam pemilihan dia sangat hati-hati agar susuai dengan hukum syara’.

“Saya tidak mau melanggar hukum. Guru saya (Abu Manan Blang Jruen) mengingatkan kalau ingin mencapai yang mulia jangan lalui jalan yang tidak baik,” kata Aladin.

Ditanya kenapa baru sekarang memberikan sesuatu untuk masyarakat, bukankah kalau sebelum pemilihan bisa menambah perolehan suara, dengan tegas dijawab oleh Aladin bahwa dirinya tidak mau memaksa rakyat dengan memberikan sesuatu baru memilih dirinya.

“Yang saya inginkan adalah keikhlasan masyarakat untuk memilih yang terbaik, bukan atas dasar pemberian sesuatu,” tandas Aladin.

Makanya, lanjut Aladin, pemberian sembako pasca-pileg tersebut adalah sebagai apresiasi kepada masyarakat miskin yang imannya kaya.

Bantuan yang diberikan untuk masyarakat tersebut, menurut Aladin bersumber dari pribadi dan keluarganya.

“Mengenai apa yang saya lakukan ini, sudah saya minta izin ke partai,” kata pria berjenggot yang mengenakan jubah putih dan peci haji ini dengan raut wajah tanpa beban.[]