.
.
.

Oase Pertemanan

SAYA menemukan oase pertemanan baru. Sebulan terakhir. Persisnya, sepekan sebelum saya menulis sebuah note. Tulisan singkat. Note yang juga sering diartikan catatan kaki.

Note itu berbau esai. Narasinya rendah. Kosakata berantakan. Paragraph mencong. Cuma dua setengah halaman word. Ringkas.

Note itu saya share. Di “up” beberapa media online mainstream. Ternyata note itu memberi kesenangan bagi saya. Juga bagi dia.

Ada heboh.

Warna warni comment.

Semarak….

Dahaga saya terpuaskan. Puasnya seperti dahaga seorang avantur usai melewati gurun yang panjang.  Gurun panjang tandus. Dan menemukan oase. Area subur. Ada air jernih pertemanan.

Oase. Anda pasti tahu, Terbentuk dari akuifer yang ada di bawah tanah. Akuifer rembesan air sungai yang bertekanan tinggi, sehingga mampu keluar dari permukaan tanah.

Akuifer sendiri adalah lapisan yang ada di bawah tanah. Mengandung air. Lapisan akuifer dilapisi bebatuan yang juga menyimpan air dalam jumlah banyak.

Saya berani mengkompilasi pertemanan baru saya itu seperti oase. Gak ada beda maknawinya. Bukan sekadar obsesi. Bukan juga sebuah eufumisme. Penghalusan. Saya gak mau menghaluskannya.

Jujur, oase itu membuat dahaga silaturahmi saya bukan sekadar kupi pancung. Jelmaannya sudah menjadi kupi saring. Silaturahmi yang terisi penuh. Untuk saling berbagi.

Dominan salingnya dibanding silangnya.

Mungkin ini yang membedakan oase pertemanan baru saya dengan pertemanan lainnya. Di oase itu saya menemukan banyak pilar penyangga.

Ada zul. Ada putra, bang ben. Ada juga fachrul. Untuk menyebut sebagian kecil penyangganya. Penyangga yang bisa saling berebut cerita berbeda. Penyangga yang eksistensinya sangat kuat.

Saya mendengar dari zul bagaimana ia bisa menjadi salah seorang pilar oase pertemanan itu.

Ada kisah Blang Peutek. Kebun alpukat. Entah dari jenis apa. Mungkin sidar. Yang kalau umurnya akilbaliq bisa berproduksi satu ton per pohon per tahun.

Zul juga yang bercerita dengan enteng tentang kompos alpukat Blang Peutek. Kompos kampung jawa. Yang datang dari buangan. Ampas yang saya menahan diri untuk tidak menulis jenisnya.

Kompos yang membuat istri saya mules. Meluak. Mencari toilet. Ya salahnya sendiri. Kenapa harus nguping.

Zul juga yang hari-hari kemarin terus menyapa saya. Menanya posisi. Mengajak ngopi. Memberitahu jadwal ngumpul berikutnya…

Lain lagi dengan fachrul. Dua kali saya ketemuan. Ketemuan pertama hebohnya berderai tawa. Ada selfie bak remaja. Padahal selfie khas gaek-gaek. Anda bisa lihat di foto master tulisan ini.  Ho.ha..ho..ha…

Panjang ceritanya. Bisa menenggelamkan isi tulisan ini. Maaf….

Temu kedua  fachrul seperti melepas kangen. Memperlihatkan postingan gawai… Membacakan teks pertukaran sapa. Suasananya hang..hing..hong..

Fachrul bercerita tentang tour “kumbang cari.” Menyusuri nagari “bareh solok.”  Asik…

Masih ada bang pen. Yang datang ke Blang Padang usai gowes. Menyeruput gelas air putih. Bang pen yang barewok. Kami ketawakan sebagai ilalang kering. Bang pen yang tiap ketemu dan pisah cipika-cipiki.

Tak ketinggalan putra. Putra yang saya datang ke rumahnya numpang pajero sport. Pajero yang selalu ngumpet di belakang honda jazz saya sebagai absensi kehadirannya usai subuh di Blang Padang.

Putra inilah yang saya hardik di pagi buta usai tayangan pesannya yang dimulai dengan: ”innalillah……”

Saya gak percaya. Tapi dia memang sudah pergi. Memenuhi takdirnya. Takdir yang gak bisa ditunda.

Takdir si sumbu pertemanan baru saya. Dia yang memberi roadmap-arah jalan-bagi saya menuju oase ini. Terima kasih …… Tarmizi bin Thaeb. Bang Midi….

Bang Midi yang membuka cakrawala saya untuk menulis tentang arti pertemanan. Sebuah tulisam dengan narasi sederhana.

Inilah dia:

Mereka yang datang pada kita. Menghabiskan waktu bersama. Membagi cerita. Saling mendengar.

Pertemanan ini akan lebih kuat jika itu dilakukan sebagai pilihan bebas. Pilihan suka rela. Bukan karena tradisi atau kewajiban.

Pilihan ini akan tumbuh subur bersamaan dengan menuanya usia, Pertemanan alami ini lebih menentukan dibanding hubungan keluarga.

Anda tentu akan bertanya: mengapa?

Semakin bertambah usia, keluarga datang kadang lebih karena tradisi dan kewajiban. Tapi teman datang karena pilihan bebas dan suka rela.

Saya selalu mencatat di lingkaran teman dan persahabatan yang penting adalah kualitas. Bukan  jumlah. Bukan banyaknya teman, tapi keakraban. Ia mampu memberi efek kebahagiaan dan kesehatan.

Pertemanan yang berkualitas intensitasnya akan baik jika berlangsung percakapan personal.

Semakin kita berjumpa seseorang yang kita nyaman membagi kisah yang sangat pribadi, bahkan kadang berupa kelemahan dan kekurangan kita, semakin personal hubungannya.

Semakin kita nyaman dengan seseorang berbagi cerita yang sedih hingga teteskan air mata, bahkan kebodohan pribadi yang membuat kita menertawakan diri sendiri, semakin akrab hubungan persahabatan.

Kepada sahabat itu, kita tak sungkan telanjangkan diri, atau setengah telanjang. Kita nyaman membagi kegelisahan, rencana hidup yang mungkin tak seharusnya.

Kepadanya, kita nyaman tampil apa adanya, melepas topeng, menanggalkan kepura-puraan.

Kedua, hubungan teman yang berkualitas juga hubungan yang suportif, yang saling mendukung.

Tak peduli apapun yang kita lakukan, ketika kita membagi kisah itu kepada teman, ia mendengar dan mendukung. Ia membesarkan hati dan memberi harapan baru.

Ia tidak menjadi hakim yang justru membuat kita tak nyaman.

Sahabat itu seperti bangku di taman. Kita dapat duduk di sana dengan nyaman. Dan bangku itu menyediakan diri agar kita melepas beban dan rileks.

Hadirnya percakapan personal dan sifat mendukung itulah yang menentukan kualitas persahabatan. Kualitas itu yang memberi efek pada kebahagiaan dan kesehatan.

Berapa jumlah teman yang kita perlukan untuk kebahagiaan dan kesehatan?

Soal ini ada pula risetnya. Dikenal istilah Dumber’s number: jumlah teman yang ditemukan oleh Dr. Robin Dunbar. Ia psikolog dari university of Oxford.

Menurut Dunbar, dari kapasitas otak manusia, kita memiliki kemampuan terbatas soal jumlah teman atau jaringan yang mampu kita rawat.

Paling banyak sekitar 150 orang yang bisa kita rawat untuk regular melakukan komunikasi. Lebih dari angka 150 orang, kita tak lagi memiliki waktu yang cukup dan sehat untuk berkomunikasi.

Namun untuk hubungan yang lebih dalam lagi, merawat persahabatan dan berjumpa face to face, temu darat, bercakap mendalam, jumlahnya jauh lebih sedikit.

Berdasarkan riset Dunbar, jumlah orang terdekat kita paling banyak hanya 15 orang. Di dalam jumlah itu sudah termasuk anggota keluarga yang kita merasa akrab.

Tapi berapa jumlah minimal sahabat yang kita butuhkan untuk kesehatan dan kebahagiaan? Jumlah minimal, menurut riset sekitar tiga hingga lima  orang saja.

Dalam hidup, jika kita memiliki sahabat, yang benar- benar sahabat, sekitar tiga orang hingga lima belas orang, itu sudah sangat membantu rasa bahagia dan kesehatan.

Sahabat yang sangat akrab memang tak perlu banyak.

Namun justru di titik itu terjadi ironi budaya post modern. Di era media sosial, teknologi membantu kita berkomunikasi dengan siapapun secara lebih mudah, cepat, murah.

Ada video call yang membuat kita dapat bertatap wajah dalam jarak jauh dan mudah. Banyak aplikasi instagram yang memudahkan kita membangun persahabatan.

Tapi temuan riset menemukan data sebaliknya. Era sekarang semakin sulit kita memiliki sahabat.

Kasus ini terjadi di mana-mana. Di aneka wilayah. Jumlah manusia yang mengaku tak punya sahabat berlipat tiga dalam dekade terakhir.

Saya sendiri tak punya sahabat di suatu hari. Jumlah sahabat saja nol. Tak ada. Itu jawaban dari diri saya ketika makin hingar bingarnya media sosial.

Ia seperti ancaman. Dan saya mencari tahu. Ketemu riset terbaru. Orang dewasa sangat sulit menemukan dan merawat persahabatan.

Di media sosial, percakapan yang terbentuk umumnya dangkal dan tidak personal.

Berada di posisi yang tidak tepat itu memang membuat tidak nyaman. Ada yang bilang sih istilahnya tidak sevibrasi, atau tidak sefrekwensi.

Pernah terjebak berada di sekitar orang yang gemar ngomong tinggi banget, hingga nggak takut mulutnya ditabrak pesawat membuat saya jadi makhluk asing.

Karena saya bingung mau mengikuti obrolan mereka yang kebangetan tingginya.

Padahal saya kenal mereka secara personal. Tidak ingin berlama-lama terjebak di lingkungan demikian, saya pun menarik diri. Rasanya itu plong banget. Seperti perut lega habis ritual toilet.

Pun demikian di dumay ini. Saya banyak masuk grup-grup macam-macam. Banyak yang diundang teman juga, membuat saya banyak belajar jenis karakter manusia. Setiap grup punya cirinya masing-masing.

Ada yang isinya manusia koplak, manusia aneh, manusia lucu, manusia serius, manusia baperan, manusia munafik, manusia gengsi, manusia pamer, manusia tukang bully, manusia curhat, manusia gemar hoax, dll.

Satu per satu sahabatku berpulang. Berpulang karena dipanggil Tuhan. Seperti sahabat baruku. Sahabat zul, bang ben, putra dan fachrul.

Atau ada sahabat saya yang  menghilang karena masuk bui.

Entahlah…[]

  • Darmansyah adalah wartawan senior, penulis “Kolom Bang Darman”