.
.
.

Egalitas Aceh

ACEH itu etnis. Bangsa.

Ia tak pernah beranjak dari keyakinan itu. Sejak dulu. Sejak ia mulai menemukan banyak fakta di banyak literasi. Di banyak bacaan.

Baginya Aceh sebagai etnis sudah final. Gak pernah tergoyahkan.

Kalau ia ngomong tentang Aceh sebagai bangsa aksentuasinya tinggi. Ia mempertahankan setiap jengkal argumennya. Seperti seorang doktoral mempertahankan sebuah tesis di depan senat guru besar.

Beberapa hari lalu kami duduk bareng di sebuah hajatan. Begitu datang di khanduri itu ia melirik saya. Reflek. Saya menjauh dari kursinya. Takut ketularan virus bacaan terbarunya.

Alasan saya sepele. Setiap kali ketemuan ia selalu membawa virus baru tentang eksistensi etnis Aceh. Ada dan ada saja. Sejak lama. Sejak saya ketemuan pertama kainya di keude “atjeh connection” kawasan Jalan Sabang, Jakarta Pusat.

Dulunya sekali.

Betul saja. Dalam hitungan menit ia bergeser posisi. Menarik kursi kosong. Merapat. Langsung blass….

Ada bacaan baru bak virus corona mutasi terakhir yang ia tularkan kepada saya tentang kebangsaan Aceh.

Bukan virus bendera yang sudah daluarsa. Bukan juga virus dana otonomi khusus yang sudah hang..hing… hong… terbang ke langit tujuh.

Juga bukan virus tentang undang-undang otonomi khusus yang mangkrak dan tak pernah diagendakan selama satu dasawarsa era presiden n-jowo.

Mungkin mangkraknya bisa lanjut  di era si wowo nantinya.

Undang-undang otonomi khusus yang terus meninggalkan remah “prang” menyebabkan tekad merdeka gak pernah padam. Tekad merdeka lewat suara cekikan. Referendum.

Referendum yang tinggal gertak sambal basi ketika suara cekikikan di gedung pokir makin nyaring berbagi raseuki. Yang pecahan piringnya melukai kepala junior saya. Yang menyebabkan luka kepala dan luka hati. Sakit kepala dan sakit hati.

Setelah celingak celinguk kiri-kanan dan depan-belakang si gam batat yang egaliter itu memonyongkan mulutnya menyampiri telinga saya dan berbisik tentang eleganitas “prang aceh.”

“Prang” yang diadopsinya dari literasi baru. “Prang” yang ia namakan antarbangsa. Antaretnis.  Bukan seperti perang jawa. Perang pemberontakan yang hanya berlangsung selama lima tahun.

Anda pasti tahu. Pasti sudah baca perang jawa. Perang yang dibanggakan oleh orang sana. Perang yang diakhiri dengan pengasingan panglima dan komandannya.

“Beda dengan perang aceh bang…,” katanya dalam volume bisik yang digemborkan. “Perang aceh adalah perang antarbangsa.”

Perang bangsa Belanda dengan bangsa Aceh. Perang terbuka. Perang sesama negara kerajaan. Perang egaliter. Setara.

Ia sangat ngotot kalau sudah bicara tentang eksistensi bangsa Aceh. Permainan narasinya dalam penyusunan kosakata seperti ketika menghunus rencong. Ingin menikam. Tikamannya datang dari uap kosakata yang terlempar.

Padahal ia tahu kini tak ada perang pakai tikam-tikaman. Tak ada lagi perang jarak dekat menggunakan rencong. Ia sadar benar perang sekarang sudah pakai drone.

Kesadarannya ini sering ia bantah sendiri. “Ingat, konflik-konflik lokal juga tidak akan pernah pakai drone.” Di akhir ucapannya ini kami terbahak.. hahaha…

Selain itu ia ingin abis-abisan kalau bicara tentang egaliter etnis Aceh. Sulit dijinakkan. Mungkin kalau pun seorang ilmuwan Belanda itu masih hidup saya yakin gak akan mampu membungkamnnya.

Ilmuwan itu Anda pasti tahu. Sampai belajar ke Mekah untuk mencari cara menundukkan Aceh. Terlalu sulit untuk mengeja namanya. Cristiaan Snouck Hugronje….. begitu.

Snouck yang menyandang nama Abdul Ghafar setelah menjadi muslim. Entah betul atau gak muslimnya saya gak tahu. Bukan ahli sejarah.

Yang saya tahu memberi nama untuk Snouck adalah seorang bergelar raden. Raden Aboe Bakar. Bukan teungku meunasah.

Masuk Islamnya Snouck ini pernah heboh. Di lingkungan orientalis.

Sebagai muslim yang ilmuan ia tebiet tamong gampong. Ngaku sebagai ustadz. Yang pembelajaran fikih dan tafsirnya tuntas-tuntasan. Berdebat agama secara garis lurus dan garis tegak.

Tentang si egaliter pembawa virus etnis yang ngotot-ngototan itu mengaku punya segepok bacaan tentang Snouck.

Secara garis turunan ia memiliki persambungan trah dengan ulee balang. Masih menyandang gelar “ampon” di pangkal namanya.

Sahibul hikayatnya garis persambungannya sampai ke Teuku Oemar Djohan Pahlawan. Bangganya terhadap Tjoet Njak Dhien gak ketulungan. Hingga punya ziarah tetap ke Sumedang setiap kali pakansi.

Lulusan Institute Teknologi Bandung. Kemudiannya ke Cambridge mengambil ekonomi internasional. Bekerja di financial consultan-konsultan keuangan. Melanglang buana ke banyak negara dan berumah tinggal di Singapura.

Cilakanya si egaliter, gak ingin namanya ditulis. Ia wanti-wanti dengan saya. “Jangan pernah nulis nama saya. Abang boleh nulis apa saja. Dari hoaks hingga halusinasi. Tapi jangan ya….”

Ia tahu permintaan itu pasti akan saya anggukkan. Karena ia tahu seorang jurnalis sejati gak akan pernah melanggar etika. Ia hafal bunyi kode etik. Tahu seorang jurnalis pasti menghormati privacy.

Sifat ini generik.  Walaupun saya tahu asal-usulnya.

Saya gak ingin ada sengketa, konflik maupun pertikaian untuk pertemanan ini. Bukankah secara kasuistik persoalan ini mudah terjadi.

Ya…. Di ujung temu kami di rumah walimah itu ia berpesan tentang kesejahteraan hidup yang makin meningkat menjadi simalakama.

Seperti simalakama Aceh hari ini adalah ketika para pemimpinnya adalah…..maaf saya gak ingin menuliskannya… dan rakyatnya….

Begitulah karakter etnis dalam arti seluas-luasnya.

Saya sendiri di beberapa kesempatan sempat meriset perbandingan antaretnis ini. Seburuk-buruknya etnis Aceh, ternyata jauh lebih egaliter dibanding etnis sana.

Di mana puak sana selalu menuntut “diistimewakan” dibanding etnis-etnis yang lainnya. Tidak sekadar secara pergaulan sosial yang normatif, namun tertera dalam primbon jawinya.

Bagi saya, sikap ini tidak menyebabkan melawannya dengan rasisme  Dalam konteks inilah, seperti dikatakan si teman, kita gagal menjaga kelestarian etnis egaliter.

Apa lacur, penyebabnya sederhana, ya karena kita latah. Ikut-ikutan. Hanya karena dorongan solidaritas. Atau kalau dalam kasus hari-hari ini jelas karena ada sponsor dan bayarannya…

Mengapa orang dengan mudah menggadaikan kedaulatan dirinya kepada seseorang atau sekelompok orang?

Jawabannya ada beberapa alasan. Bisa karena susah melihat kebenaran. Hatinya sudah penuh dengan penyakit.

Bisa juga karena hidupnya penuh dengan kepentingan dunia, harta, status sosial dan lainnya sebagainya.

Sebagai etnis, bangsa Aceh seperti kehilangan  jati diri. Watak dan pembawaannya. Sebagian besar penduduk bangsa ini masih miskin

Sebagian besar rakyat negeri ini berpendidikan rendah. Menerima keadaan dengan pasrah. Pasrah dalam artian menjalani apa yang mereka bisa. Untuk makan dan hidup. Tak sekalipun mereka berharap untuk mati untuk menanggalkan kesulitan hidup.

Pemimpin berganti. Mereka yang perutnya lapar mengamini. Semoga kehidupan mereka lebih baik. Namun mereka tertawa asin melihat para pemimpin berubah jumawa dan tidak peka. Sudah biasa.

Korupsi atas nama entah apa.. mencolok mata. Semua kita sudah kebal dengan janji surga. Karena mereka tahu mereka akan dilupakan setelah pembuat janji merengkuh kekuasaan.

Kebanggaan etnis bagaikan lontong. Bisa panjang bisa pendek.

Saya tidak tahu untuk jawaban selanjutnya….[]

  • Darmansyah adalah wartawan senior, penulis “Kolom Bang Darman”