.
.
.

Rentetan Kematian Akibat Tenggelam Harus Jadi Pelajaran Bagi Pemkab Aceh Barat

Hajat Saputra. (Foto Rico Maharsi/Portalnusa.com)

PORTALNUSA.com | MEULABOH – Penemuan jenazah bocah 13 tahun di pingiran pantai Desa Suak Nie, Kecamatan Johan Pahlawan (Meulaboh), Aceh Barat semakin memperpanjang rentetan kematian akibat tenggelam di daerah itu.

Banyak pihak berharap Pemkab Aceh Barat punya solusi agar kematian akibat tenggelam tidak terus terjadi.

Penelusuran media ini, dalam dua tahun terakhir ada puluhan korban meninggal akibat tenggelam di Kabupaten Aceh Barat. “Itu yang terekspose oleh media,” kata Anggota Komisi Penelitian dan Penjaminan Mutu Pendidikan, Majelis Pendidikan Daerah (MPD) Aceh Barat, Hajat Saputra kepada Portalnusa.com di Meulaboh, Senin, 26 Februari 2024.

Kasus yang sangat memprihatinkan itu seharusnya menjadi dasar yang harus diperhatikan oleh pemerintah daerah, misalnya mengedukasi serta meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kawasan-kawasan yang membahayakan untuk mandi-mandi atau aktivitas lainnya. Juga perlu diberikan pemahaman mengenai dampak tenggelam dan cara-cara penyelamatan diri saat tenggelam.

“Dari banyak kasus yang terjadi selama ini mengindikasikan kurangnya pemahaman masyarakat tentang pengetahuan dasar cara-cara penyelamatan diri untuk mencegah tenggelam,” kata Hajat Saputra.

Dikatakannya, dua kasus terbaru yang terjadi di Aceh Barat korbannya adalah anak-anak. Dengan fakta itu maka sudah saatnya renang masuk dalam kurikulum pendidikan di Aceh Barat.

Menurut Hajat, Pemkab Aceh Barat harus berkaca pada pengalaman negara maju seperti Belanda yang sebagian besar wilayahnya berada di bawah permukaan laut. Dengan kondisi alam seperti itu mengharuskan warganya mampu berenang.

Hal tersebut diterapkan oleh Belanda melalui peraturan yang mewajibkan anak-anak sejak masih Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) mengikuti pelatihan renang dan memberikan pemahaman cara-cara menyelamatkan diri saat tengelam.

“Itu juga menjadi salah satu kampanye World Health Organization (WHO),” ujar Hajat.

Kenapa harus berkaca pada belanda, menurut Hajat karena Aceh Barat memiliki kemiripan geografis dan topologi (sungai dan laut) dengan Belanda. Ditambah lagi Aceh Barat menjadi daerah rawan bencana banjir.

Data dari WHO, dalam 10 tahun terakhir lebih dari 2,5 juta kematian akibat tenggelam di mana 90% terjadi di negara negara berkembang. Korban terbanyak adalah anak-anak usia 1-4 tahun dan 5-9 tahun.

“Renang menjadi salah satu keterampilan yang dianjurkan Rasululah SAW untuk diajarkan kepada anak-anak kita. Manfaat renang selain menyehatkan tubuh, merangsang motoric kasar dan meningkatkan kecerdasan anak, juga disarankan dokter untuk recovery (penyembuhan),” sebutnya.

Keselamatan anak-anak dari bahaya tenggelam dan meminimalisir angka kematian akibat bencana menjadi tanggung jawab bersama, terutama pemerintah daerah dan jajarannya.

“Pemkab Aceh Barat harus segera membuat regulasi termasuk dukungan anggaran dalam upaya meningkatkan kesadaran tentang dampak tenggelam dan cara-cara penyelamatan diri,” demikian Hajat Saputra. []