Orang Buangan

Screenshot

Oleh Darmansyah

NAMANYA Don Sabdono. Saya memanggilnya Mas Don. Nama pangkal tambah sapaan hormat untuk seorang lelaki walaupun secara tahun dan tanggal lahir saya lebih tua darinya.



Untuk menyebut nama Don Sabdono bagi saya, hingga hari ini, masih ada ganjalan. Sebuah nama yang penuh misteri.

Untuk membuka misteri nama itu saya sering berupaya lewat jalan memintas: mencandainya dengan minta diperlihatkan katepe-nya.

Gak pernah ada respons. Jawabannya cuma ketawa cekikan.kik..kik lewat desis lembut, hahaha.

Kalau udah begini saya gak lanjut. Gak ingin membentur karang personal. Karang adab. Yang bagi Mas Don dan saya merupakan harga mati. Harga dari jalan profesi yang kami tempuh: kode etik.

Ya… apalah arti sebuah nama…

Tentang misteri nama ini bisa lebih seru lagi. Muasal serunya, gak banyak geng juniornya tahu nama Don Sabdono

Geng junior itu menyapanya dengan Mas Bre. Dari nama kepenulisannya :Bre Redana.

Nama ini tenarnya tinggi dan tinggi. Hingga menggapai arash. Arash komunitas penulis. Penulis berbagai genre. Jurnalis, cerpenis, novelis, dan lain-lainnya kaum yang lis-lis.

Saya pernah mendehemkan tentang mutasi nama Don ini, kok menjadi Bre. Nama mutasi?  Entahlah.. mungkin nama metafora. Yang pasti bukan mutasi nama  seperti virus.

Kalau pun mutasinya di lingkup virus namanya mungkin virus pesta atau pora.

Mas Don sendiri penganut paham pesta pora. Dari cekikan sampai dengan sapanya yang sangat khas. Cekikan dan sapa khas pesta. Yang pora-nya amat menyenangkan.

Seperti sapa terakhirnya lewat aplikasi whatsapp di sebuah waktu tanpa didahului dengan ba..bi..bu.. dan tembak langsung dengan sebaris kalimat pendek: “lupa daratan kalau ketemu ini.”

Dari gambar yang ia kirim ke saya ada hidangan ayam tangkap, nasi putih yang ada kerupuknya serta semangkok “kuah beulangong.”

Yang saya balas: ”Kuah beulangong tambah ayam tangkap daratan hang..hing..heng…

Ia membalas dengan tempelan gambar bocah ketawa…

Mas Don yang Bre itu adalah sahabat. Sudah lebih dari tiga dekade. Ia seorang penulis hebat. Alumni Satya Wacana. Perguruan tinggi beken di Salatiga. Jurusan  sastra inggris.

Pernah belajar jurnalisme di School of Jounalism and Media Studies, Darlington Terkenal dan dikenal dari tulisan-tulisannya yang mengangkat tema kaum urban dan pergulatannya.

Saya gak ingin menulis daftar panjang karya sastra maupun karya jurnalistiknya. Cerpen, novel, nota, esai dan sebagainya… dan sebagainya. Bisa terlalu panjang.

Bre ehehe… Mas Don lahir sebagai  anak ketiga dari empat bersaudara. Ia tak pernah menyebut tanggal lahirnya. Alasannya: enggan saja. Tapi tahunnya ia buka. Enam puluh tujuh tahun silam.

Kepada saya ia pernah secara terbuka menuturkan latar belakang kehidupan keluarganya.

“Ayah saya kader partai terlarang. Di posisi tokoh, ” demikian pengakuannya tanpa mau mengejakan nama sang ayah. Yang kemudian saya tahu dari sebuah literasi.

Nama ayahnya, Gondo Waluyo. Seorang yang sangat terpelajar di eranya. Gondo yang ketika prahara enam puluh lima dijemput dan ditahan di tempat yang tidak diketahui.

Kala itu Bre … ah salah lagi, Mas Don berusia delapan tahun. Masih duduk di bangku sekolah dasar.

Sejak penjemputan paksa itu, ia tidak pernah lagi bertemu dengan ayahnya. Keluarganya kemudian menjadi bulan-bulanan teror.

Mas Don sendiri, menurut pengakuan jujurnya,  tumbuh menjadi laki-laki pemalu dan cenderung minder. Selanjutnya, kehidupan keluarganya sepenuhnya ditopang sang ibu, Yutinem.

Berkat upaya ibunyalah, Mas Don berkenalan dengan dunia kepenulisan lewat bacaan kanak-kanaknya. Bacaan bergenre sastra maupun keilmuwan.

Kegemarannya membaca mengantarkannya pada minat yang kuat untuk menulis. Dunia karang-mengarang. Padahal jenjang pendidikannya serong-merong.

Dari sekolah umum hingga sekolah kejuruan dan akhirnya milih spesialis sastra. Di kampus Mas Don berkenalan dengan dunia jurnalistik dan ia aktif di pers mahasiswa.

Ketika lulus sarjana muda Mas Don diterima sebagai wartawan di Harian Kompas.

“Media itu sebelumnya gak pernah menerima satu pun tulisan saya,” kata Mas Don di sebuah waktu ketika kami menghabiskan malam-malam yang panjang di Rex.

Rex pusat jajanan kawasan Peunayong. Rex yang begitu berarti dalam perjalanan hidupnya. Rex yang menghapus masa redup mood-nya. Dan Rex yang ia cemplungkan menjadi nama kumpulan cerpennya.

Sebagai jurnalis pemula, Mas Don memulai kiprahnya di Kompas sebagai jurnalis di desk ilmu pengetahuan dan teknologi.

Selanjutnya ia pindah ke bagian kota, olahraga, dan luar negeri, sampai akhirnya bertugas di desk kolom budaya. Yang baginya, sangat menyenangkan. Sesuai bakat dan minatnya.

Mas Don memang tumbuh dari sana. Dari kesenian tradisi, seperti kethoprak, tarling, dan tayub. Ia pernah mengatakan: “Kalau saya menulis hal itu lagi, seperti merasa kembali ke mata air saya lagi.”

Fokus tulisan Mas Don kemudiannya memang beralih ke masalah sosial di seputar kehidupan masyarakat elitis ibukota. Seperti gosip artis, tren body shop, sampai toko mewah mark and spencer.

Tulisannya dikemas dalam laporan kerja jurnalistik yang dapat dibaca oleh berbagai kalangan. Puncak piramida dari penulisannya terjadi ketika ia dipercaya menangani Kompas minggu.

Kompas minggu yang pernah menjadi sebuah “majalah hiburan” yang yang seperti saya tirukan ucapan seorang teman seperti melepaskan diri dari edisi harian. Saking populisnya.

Pada banyak perjumpaan Mas Don selalu mengingatkan saya tentang pekerjaan jurnalistik yang bukan sekadar sumber pendapatan.

Ia berpesan pekerjaan ini merupakan sebuah panggilan. “Saya menghayati pekerjaan jurnalistik. Saya merasa ada dimensi yang sakral dari pekerjaan menulis ini.”

Ketika di akhir delapan puluhan rezim represif yang Anda sudah tahu eranya kembali mengangkat isu ‘bersih lingkungan’.  Ia dinyatakan orang yang ‘tidak bersih’.

Mas Don pun terpukul.

Akan tetapi, ia tidak menjadi patah arang. Sama dengan gak patah arangnya seorang senior saya di majalah berita mingguan dulu.

Senior yang rajin mengantar jemput saya dari Wisma Seni di Taman Ismail Marzuki, Senior yang membawa saya jogging ke gebeka. Senior yang masih sehat di usia delapan puluhan.

Marthin Aleida yang nurlan. Yang masih eksis. Hingga hari ini. Marthin yang juga seperti Mas Don yang terus mencari strategi lain untuk tetap dapat menulis.

Sebagai sesama jurnalis saya sangat menghargainya. Ia berusaha masuk sedalam-dalamnya, tetapi tetap ada jarak. “Karena dengan berjarak, kita bisa tetap kritis,” ujarnya.

Selain seorang penulis ia menggemari pencak silat. Aliran “bangau putih.” Pencak silat yang telah membawanya sebagai seorang suhu. Ia telah mendalaminya selama lebih dari lima belas tahun.

Mas Don sering mengirim postingan gambar dan video saat ia latihan ke saya. Bisa dari Ciawi, rumah pasanggarahannya, maupun kala dia nyungsep ke Bintaro, rumahnya yang lain.

Pasanggarahan Ciawi yang ia selalu banggakan ke saya adalah sebagai rumah meditasi dan kontemplasi. Sudah beberapa kali ia janji akan membawa saya ke sana. Tapi wkwkwk…

Ciawi yang wkwk… macetnya jika hari-hari libur dan week and.  Yang saya ketawakan sebagai neraka jalanan.

Mohon jangan diteruskan sebagai “neraka….. sebagai lanjutan dari sumpah serapah macetnya.

Sebagai seorang penulis liga dua saya sering terpengaruh oleh ide esais-nya. Posisi Mas Don di esais ada di liga utama.

Esais yang mampu menjelaskan problem yang ada di masyarakat dengan sangat bagus dan disampaikan dengan sangat ringan.

Pernyataan saya ini bukan tanpa alasan. Dia sendirilah yang menyuruh saya memberi nilai. Lewat kiriman blog pribadinya. Yang di sana berhimpun tulisan esai, nota, cerita pendek dan sebagainya.

Terakhir yang saya tahu cita-citanya yang belum bisa terwujud adalah menghasilkan sebuah karangan dari genre yang lain. “Saya ingin menulis novel,” katanya tentang keinginan itu.

Ia merindukan mempunyai waktu khusus. “Saya banyak menghabiskan waktu sebagai pekerja jurnalistik yang sangat sibuk. Membuat kreativitasnya mandek,” katanya kala ketemu di sebuah mall.

Kompas akhirnya menjadi tempat perhentian akhir kariernya. Ia ingin bertualang di tempat lain. “Usai pensiun saya nggak mau kerja di mana-mana lagi. Saya ingin pensiun, lalu menulis,” katanya.

Kata-kata yang kalimatnya saya tertawakan ketika ia membalas sapaan: “saya lagi transit di Singapura..” Atau disapa lainnya ia membalas: “lagi di Magelang”

Entah besok  kalau saya menyapa lagi tak tahu ia sedang di mana. Hihihi…

Saya sendiri menjalin pertemanan dengan Mas Don ketika ia menjadi orang “buangan,” Ia pernah menuturkan dirinya mirip pahlawan kemerdekaan. Diasingkan.

Di pengasingan itulah saya dan Mas Don memintal benang pertemanan. Di sebuah media lokal. Yang dia katakan sebagai sebuah pengasingan yang menyenangkan. Dari sisi mana pun.

Orang “buangan” yang diberi kemudahan untuk hidup enak.  “Orang dibuang lewat sebuah surat jalan atas nama dinas luar kota. Digaji penuh dan lain sebagainya.

Yang di sebuah kesempatan lain saya tertawakan ada gak enaknya. Tidur di meja kantor dari deadline hingga menunggu selesai cetak di percetakan…. Hingga melewati malam-malam menjelang subuh.

“Hidup enak ini bukan hanya dari sisi batin. Tapi “m’bathin,” pesannya.

Yang dari sisi “m’bathin” itu dia ungkapkan ke saya: bisa beli tanah luas di Bintaro. Yang dibanggakan ke saya sembari memperlihatkan foto sebuah sanggar.

Dari sisi batin ia tetap terikat dengan negeri “buangan” itu. Seperti postingan terakhir yang ia kirim ke saya dengan judul: ilmu-ilmu sosial, martabak dan nasi goreng.

Sebuah esai yang Anda sudah tahu ke mana arahnya. Esai “udar rasa” yang penulisnya Don … eee.. bukan. Maaf… Bre Redana.

Dan inilah kutipan-kutipan gak utuh dari esais seorang “pemain” liga utama itu yang lead-nya langsung menohok ke persoalan:

“Perhatian orang terhadap survei, statistik dan angka-angka belakangan ini mengingatkan saya pada pengalaman pribadi tatkala belajar peneltian ilmu-ilmu sosial di Banda Aceh.”

“Waktu itu pertengahan tahun delapan puluhan. Ilmu-ilmu sosial dan humaniora masih berjaya, tidak seperti saat ini dimana laku ilmu apa saja pokoknya bisa mendatangkan uang.”

Ia lantas menyebut sebuah nama. Dosen utama. Ahli ilmu politik. Dari Ohio. Prof  William Lidle yang membimbing.  William Lidle yang akrab saya kenal dan menyapanya dengan Bill.

Don dalam esai itu menulis, ia bersama dengan sepuluh orang mahasiswa belajar teori dan melakukan praktek penelitian di sebuah lembaga yang sangat kesohor waktu itu.

Kesohor karena dipimpin oleh seorang bintang peneliti senior. Dr. Alfian. Yang kemudiannya digantikan oleh bintang lainnya dengan nama yang juga ada Alfian-nya. Tapi depannya Ibrahim.

Ibrahim Alfian.

Bergaul dengan banyak mahasiswa, tulis Mas Don, ia lantas memilih topik penelitian mengenai persepsi anak muda Aceh mengenai pusat. Pusat dalam artian Jakarta. Indonesia.

Alasan Mas Don, hingga saat itu Aceh masih punya persoalan dengan Jakarta.  Tertarik pada angka-angka, tulisnya lanjut, yang dianggapnya seksi, ia melakukan penelitian kuantitatif.

Membagikan kuisioner selain wawancara. Hasilnya angka-angka yang kemudian dianalisis, dibahas, didiskusikan secara kelompok di bawah bimbingan Bill.

Terus terang Don mengatakan gak puas dengan hasil kajian akademisnya. Gak seperti cerpen, novel dan lain-lainnya seperti yang pernah ia tulis.

Baginya bergulat mencari kebenaran adalah “never ending process.” Sekali kita menemukan di situ kita tamat. Mungkin juga kiamat ya..Mas…

Selang beberapa tahun kemudian Mas Don kembali ke Aceh. Gak lagi sebagai belajar penelitian. Tapi tuas. Tugas menyusun bata sebuah media. Yang saya ikut bersamanya. Bersama sebagai teman.

Lantas ia dengan riang menulis: “pekerjaan jurnalistik bagi saya adalah kongko dengan teman-teman wartawan, kesana kemari bersama-sama, mendiskusikan apa saja. Bahkan soal senyuman dan lirikan di analisis”.

Dakik-dakik dengan pendekatan pskologi fenomenologis. Lantas muncratlah ceritanya tentang malam-malam usai deadline.

Malam nongkrong di Rex..yang ikut gabung seniman lokal, aktifis, dokter dan tukang parkir yang piawai bikin puisi. Ngobrol disertai martabak telur, nasi goreng adonan si Busuk plus sate padang ajo.

Hasilnya? Di sana ia dapat kesimpulan tentang apa jawaban dari hasil penelitian yang pernah dilakukannya dulu. Penelitian rasa hambar.

“Apa itu?”  tulisnya di “udar rasa” lewat tanya yang ia jawab sendiri,” perasaan-perasaan mendalam yang sulit terungkap lewat asumsi-asumsi penelitian, terlebih oleh angka-angka.”

Ia ingat bagaimana sejarah panjang Aceh dalam “beulangong republik.” Sejarah kepedihan. Sejarah terpincutnya harga diri. Sejarah yang bisa dipahami kalau kisahnya disertai “kuah pliek u.”

Belum lagi trauma masa-masa berikutnya. Yang Mas Don sendiri tahu. Dan saya juga tahu bagaimana tragisnya tragedi Simpang KKA, Rumoh Geudong, Jambo Kapok dan penampakan Krueng Keureuto.

Dari situ, tulis Mas Don, “saya menemukan pengertian baru mengenai penelitian.”

Angka-angka tidak punya arti dan makna dibanding kompleksitas manusia dengan sejarahnya, kepahitan hidupnya, kesedihan, penderitaan, cinta, dan sebagainya…

Sekarang, tulisnya lanjut, yang digunakan sebagai kebijakan publik telah bangkrut. Ia menegaskan di akhir tulisan yang diposting ke saya dengan sebuah pertanyaan:

“Inikah yang namanya dengan zaman big data dan algoritma yang dirayakan semua pihak. Dimana kegagalan kemanusiaan disulap dengan angka-angka?”

“Yang jelas ini bukan lagi zaman naratif. Rex berikut martabak dan nasi goreng kenangan usang dari sikap kepenulisan yang saya jalani sampai hari ini.”[]

  • Darmansyah adalah wartawan senior, penulis “Kolom Bang Darman”