Jamee Asin

Oleh Darmansyah

JAMEE….. dengan dua huruf e di ujung kosakatanya. Jamee yang dari dulu saya ingin menulisnya secara utuh. Tapi gak pernah kesampaian. Selalu menggelantung.



Ke atas gak pernah berpucuk … ke bawah enggan mengakar. Di tengah-tengah..  heng. Rapuh dimakan kumbang.

Ya.. seperti itulah…Seperti tulisan saya hari ini. Tulisan hambar gak terasa asinnya. Padahal sudah saya taburi  garam Lhok Pawoh. Garam dari gampongnya Hasyim Kaliane Sing. Hasyim ks.

Garam yang asinnya “nauzubillah…”

Jamee itu hambar. Sehambar harfiahnya: tamu. Tamu dari makna sesungguhnya. Tamu kalau ditarik dari kosakata berdasarkan arti leksikal: bunyinya tang..ting…tong..

Itu bukan dari kata saya. Tapi pesan teman yang memanggil saya abang dan guru. Bustamam Aly. Yang saya memanggilnya: Bus.

Secara makna harfiah grammatical jamee itu  bisa berubah-ubah. Terserah Anda untuk mengubahnya.

Perubahan makna itu sesuai dengan konstruksi kosakata jamee itu sendiri. Bisa dimelarkan menjadi pendatang.

Jamee yang saya tulis ini adalah sebuah “sub” suku.  Sub yang harus ditulis bersamaan dengan rangkaian kata yang mengikutinya. Seperti sub spesialis untuk profesi dokter atau sub-sub lainnya.

Sub suku jamee ini bisa diartikulasikan sebagai tamu-pendatang. Tamu sepanjang garis miring tegakan peta pantai belahan barat Aceh.

Tamu di banyak kota-kota pluralnya. Dan bisa juga tamu di kota singular. Kota majemuk atau pun kota wadah tunggal.

Di kota majemuk sub etnis ini berhimpitan dengan  sub etnis lain. Bisa mayoritas dan minoritas. Saya sendiri menjalani kehidupan di kota singularnya. Kota mayoret-nya jamee…

Baik di kota-kota plural maupun kota singular keberadaannya tetap dianggap sempalan oleh etnik besar “de acheher.”  Penyebabnya tunggal. Datang dari dialek minang-nya yang gemburnya.

Minangnya Pariaman yang menggelinding dalam akulturasi barus. Akulturasi kehidupan al singkili. Humble. Terbuka.

Humble khas anak pantai. Yang hembusan angin dan debur ombaknya membuat volume suaranya tinggi.

Untuk  “depth”-nya saya dari dulu selalu gelagapan ketika menulis jamee ini. Literasinya minim. Kalau gak percaya buka saja mesin pencari google. Tulis kosakata jamee. Anda akan menemukan banyak tulisan ber-antene pendek. Selain itu antenenya gak nyambung ke satelit jumlah judulnya pun dalam hitungan jari.

Saya pernah memberi tantangan kepada para jamee antene panjang untuk membuat kajian akademis untuk eksistensi sub suku ini lengkap dengan lanskap kullturnya.

Mereka gak tertarik. Mengabaikan. Mungkin juga minder. Khas “penyakit” anak-anak sub suku.

Anak-anak yang mendegradasikan dirinya sebagai warga “minderheid complex.” Kalau dijalarkan kepengertian kejiwaan namanya: inferiority complex atau kompleks inferioritas.

Sebuah kondisi ketika seseorang memiliki perasaan rendah diri. Perasaan yang muncul secara terus-menerus dan meyakini dirinya secara fisik dan psikologis tidak sebaik orang lain.

Perasaan ini terbentuk dari benturan budaya dengan etnis besarnya. Etnis besar yang gak pernah menggeser eksistensi  jamee sebagai tamu atau pendatang.

Apa sikap itu bisa dikatakan rasis?

Saya bisa merasakan tapi sulit membuat rumusan. Saya pernah protes atas sikap ini pada seorang teman yang sangat Aceh.

Protes yang tidak menuduhnya rasis. Saya tak ingin  sikap ini  diartikan ’tidak menyukai seseorang karena beda suku. Protes ini  saya katakan tak lepas dari situasi yang ada.

Saya gak ingin mengatakan ada unsur rasis dalam hirarki persukuan. Bisa ruwet. Bisa mengalahkan akal sehat –bahkan mengalahkan hukum sekali pun.

Begitu yang pernah saya dapatkan dalam pengalaman sentimen ras. Saya juga tak mau bergurau maupun setengah bergurau dalam menyederhanakan definisi rasis.

Gak cocok lagi dengan kenyataan di lapangan. Gak sesuai dengan sifat-sifat dan kapasitas manusia. Ujungnya menghasilkan rasa keunggulan yang melekat pada ras tertentu.

Eksplisit dan implisit. Yang eksplisit adalah: ekspresi bias institusional terhadap orang lain yang disebabkan perbedaan ras.

Yang implisit adalah: ekspresi bias implisit yang sangat luas yang juga bisa menghasilkan struktur kekuasaan yang asimetris.

Haha… masih ruwet juga. Baca sendiri sajalah aslinya. Cari sendirilah akar katanya. Fungsikan mesin pencari. Baca sendiri dan komentari sendiri. Plaass….

Saya meyakini rasis sebenarnya adalah apabila masih ada sikap ras tertentu lebih unggul dari ras lain, Itulah rasis. Rasis harus dibedakan dengan perbedaan budaya.

Saya tidak percaya ada ras tertentu lebih unggul dari ras lainnya. Kenyataannya itulah yang dikembangkan di negeri ini sejak dulu. Orang begitu emosional soal ras.

Orang begitu ingin tahu: saya ini orang apa.

Sepanjang kehidupan saya etnis atau suku merupakan suatu kesatuan sosial yang dapat dibedakan dari kesatuan yang lain berdasarkan akar dan identitas kebudayaan, terutama bahasa.

Dengan kata lain etnis adalah kelompok manusia yang terikat oleh kesadaran dan identitas yang sering kali dikuatkan oleh kesatuan bahasa.

Suku adalah golongan orang-orang dalam keluarga yang seturunan atau golongan bangsa sebagai bagian dari bangsa yang besar.

Sementara suku bangsa adalah kesatuan sosial yang dapat dibedakan dari kesatuan sosial lain berdasarkan kesadaran identitas perbedaan kebudayaan, khususnya bahasa.

Dari titik ini bahasa yang  saya gunakan bukan bahasa padang lagi tapi bahasa jamee. mirip tapi tidak persis sama..

Bahkan di banyak kota dan gampong setingkat kecamatan digaris tegakan lurus bagian barat Aceh itu hampir semua masyarakat bisa berbahasa jamee dan Aceh.

Bahkan cara berkomunikasi antarsesama mereka sudah campur baur. Lep-lap dalam penggunaan.

Secara umum jamee ini terkonsentrasi di Kabupaten Aceh Selatan, Barat Daya, Nagan Raya, dan sebagian kecil di sekitar Aceh Barat.

Yang dulu sebelum kabupaten-kabupaten dan kota-kotanya mekar sering disapa dengan abas atau pe-em-a-be-es. Pe-em-a-be-es “moto kope” yang trayeknya Koetaradja-Tapaktuan.

Umumnya aneuk jamee di selatan sana menempati daerah-daerah pesisir yang dekat dengan laut. Ini bisa disimpulkan sebagai jalur perpindahan nenek moyangnya dulu.

Komunitas jamee ini muasal kehidupannya berkebun dan melaut.

Tapi. seiring perkembangan zaman, seiring dengan kemajemukan, hidup terus berkembang. Ada pengusaha, pedagang, pejabat dan lain sebagainya.

Komunitas jamee tidak terkonsentrasi pada tempat tertentu, melainkan menyebar.

Misalnya dalam suatu kecamatan tidak semuanya disitu hanya oleh suku aneuk jamee saja. Mereka sudah bercampur dengan Aceh.

Paling hanya desa saja membedakan komunitasnya. Namun di desa itu dapat juga kita jumpai orang berbicara dual bahasa. Aceh dan jamee.

Ini dimungkinkan karena ada hubungan kekerabatan yang berbahasa Aceh di desa lain.

Khusus di  Kecamatan Tapaktuan,  di kota ini, aslinya memang semuanya dari aneuk jamee, kecuali pendatang yang bekerja dan menetap dari kecamatan lain.

Soal bahasa bukanlah halangan untuk hidup bersama di negeri ini. Bagi saya inilah kekayaan budaya lokal.

Dalam interaksi sehari-hari, bahasa yang digunakan oleh suku jame berbeda dengan bahasa Aceh pada umumnya.

Bahasa suku ini cenderung lebih mirip dengan bahasa orang-orang Manang, tetapi setiap kecamatan memiliki dialek masing-masing.

Jamee sebagai entitas memang berbeda dengan “de acheher” yang kelat dengan “pliek u” dan “sie reuboh.” Jamee itu merupakan “kuah beulangong” dalam struktur masyarakat Aceh dengan “that”-nya.

Beda kultural. Untuk itu saya minta izin untuk selanjutnya menuliskan jamee ini dengan kosakata tanpa diapit dalam tanda dua petik. Kosakata sebagai peneguhan  eksistensi  itu sendiri.

Sebagai salah seorang jamee, identitas itu gak akan pernah berubah. Jamee yang idem dan dito dengan minoritas. Jamee minoritas yang membuat saya enjoy. Menikmatinya.

Dulu dan dulu… dan dulu sekali kosakata jamee ini pernah menjadi kecamuk paceklik di persambungan otak dan hati saya. Jamee ketika saya masih mengangkat goni balang.

Goni balang yang saya hempaskan lewat desah mengaum untuk menghadang sapaan pedih itu. Tapi kini semuanya sudah berlalu.

Seperti tadi pagi. Ketika saya disapa jamee di sebuah keude kupi. Sapaan yang saya anggukkan dengan melempar sebuah sungging senyum. Adem..Damai.. ada hahaha..hihii di ujungnya.

Sekali lagi, di pagi itu, sapaan jamee ini tetap saya kukuhkan tanpa tanda dua petik. Seperti yang saya tulis ini. Sapaan yang gak ada heng rasis-nya. Sapaan yang melenggang dengan tawa..

Saya tak ingin sapaan jamee ini dikaitkan dengan rasis. Rasis yang diartikan “tidak menyukai seseorang karena beda sub etnis.” Beda sub etnis  yang sering mengalahkan akan sehat.

Sub etnis yang mengalahkan hukum sejarah dari kedalaman sentimen.

Saya tahu persepsi tentang sub etnis. Persepsi yang menyederhanakan defiinisi. Yang semuanya gak sesuai lagi dengan kenyataan perbauran kehidupan.

Bagi saya perbedaan sub etnis hanya bersifat temporar. Ia hanya sebuah kepercayaan untuk bandul dari sifat-sifat dan kapasitas manusia. Perbedaan itu akan menghasilkan keunggulan.

Orang jamee suka pakasamnya,  saya suka hamburger, itu bukan karena perbedaan.

Saya sendiri gak akan menolak sebagai tamu di rumah milik bersama “de acheher.” Ada rayeuk, pidir, utara dan timur. Juga ada gayo dan alas dan banyak lagi kalau dirunut.

Tapi semua mereka elegan dengan kosakata masing-masing.

Elegan karena gak menyandang mante. Mante yang sudah migrasi maupun mutasi. Migrasi dan mutasi dalam bentuk dna-deoksiri bonukleat. Molekul yang memuat  seluruh instruksi genetik.

Hingga kini secara statuta saya gak pernah “change.” Berubah… Tetap penyandang jamee bak disabilitas. Status ini mungkin masih akan tersampir sampai besok.. besok lagi dan lagi besoknya…

Untuk anak..cucu…cicit… dan  entahlah…

Sapaan itu sudah menjadi “trade mark.” Jauh sebelum era saya. Era saya yang kini berada di strata tujuh puluh pertengahan hanya sebagai penerus. Wareh.

Terminologi jamee ini sering berdengung serba minor hendaknya jangan menjadi stigma. Seperti penyakit yang Anda sudah tahu.

Penyakit yang menyebabkan mereka di-asingkan nun di muara Alue Naga sana. Di sebuah daratan tapi dinamai “pulo”… Yang penyandangnya wajib dikucilkan.

Saya tahu, di era modern ini, banyak di antara kita mengucapkan salam selamat tinggal segala hal yang merendahkan, memarginalkan, serta upaya menjadikan etnis penghuni asli bumi.

Juga selamat tinggal untuk jamee  sebagai objek komodifikasi sensasi.

Saya ingin menulis jamee yang telah bermetamorfosis sebagai sebuah etnis yang berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan etnis lainnya.

Ditilik dari berbagai macam sudut, bagi saya, jamee kini luar biasa berkembang di aras puncak.

Bahkan, tidak sedikit orang jamee jadi “raja” di negerinya.

Mereka sudah tidak ingin lagi raja dari luar memerintah dan menguasai daerahnya karena di antara mereka memang ada yang mampu dan cakap dalam banyak hal,  termasuk pemerintahan.

Mengamati fenomena keberkembangan jamee dari waktu ke waktu, sungguh sangat memikat. Jika boleh digambarkan, perkembangannya berlangsung cepat dan demikian massif secara deret ukur.

Sebuah transformasi yang menakjubkan. Meski demikian, etnis yang populasinya tetap guyub, dan dalam berbagai hal tetaplah tidak kehilangan identitas.

Betapa rasa kebersamaan dan hidup sebagai saudara tumbuh demikian alami.

Lalu siapa peduli nasib dan keberlangsungan etnis jamee di masa datang?

Tidak ada!. []

  • Darmansyah adalah wartawan senior, penulis “Kolom Bang Darman”