Ziarah ke Makam Panglima Turki, Relawan UAR Serap Spirit Kepahlawanan di Aceh
PORTALNUSA.com | BANDA ACEH – Langit Aceh tampak teduh ketika langkah-langkah para relawan Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) berhenti di sebuah makam tua yang sunyi.
Di tempat itulah Tgk Dibitai, seorang panglima perang asal Turki Utsmani, dimakamkan.
Tak ada dentuman meriam, tak ada pekik perang. Yang ada hanya doa, hening, dan perenungan panjang tentang arti pengabdian kepada rakyat.
Ziarah yang dipimpin Mardi, ketua rombongan itu, dilakukan di sela-sela misi kemanusiaan UAR di Aceh Tamiang.
Bagi para relawan, pusara Tgk Dibitai bukan sekadar situs sejarah, melainkan ruang batin untuk menautkan masa lalu dengan hari ini, antara perjuangan bersenjata melawan penjajah dan kerja kemanusiaan di tengah bencana yang saat ini melanda Aceh.
“Di tempat ini kita diingatkan, membela rakyat adalah panggilan lintas zaman,” ujar Mardi, saat memberikan arahan singkat kepada 14 relawan lainnya yang ikut berziarah ke makam tersebut.
Jejak Tgk Dibitai, Panglima dari Seberang Laut
Nama Tgk Dibitai hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Aceh sebagai panglima perang Turki yang datang membantu Kesultanan Aceh pada abad ke-16.
Ia dipercaya sebagai bagian dari pasukan dan ahli militer yang dikirim Kesultanan Utsmani untuk membantu Aceh menghadapi tekanan kolonial Portugis yang kala itu menguasai Malaka dan mengancam jalur perdagangan serta kedaulatan wilayah.
Sejarah mencatat, Aceh tidak berdiri sendiri. Di bawah kepemimpinan Sultan Alauddin Riayat Syah Al-Qahhar, Aceh menjalin hubungan diplomatik dengan Istanbul.
Dari sanalah bantuan meriam, senjata api, teknisi, dan prajurit dikirim menyeberangi samudra.
Tgk Dibitai merupakan satu dari mereka yang tak sekadar datang berperang, tetapi menetap, menyatu dengan masyarakat, dan mengabdikan hidupnya untuk membela Aceh. Dalam tradisi lisan, ia digambarkan sebagai ulama dan panglima yang tegas di medan laga, namun lembut terhadap rakyat.
Hubungan Aceh dan Turki Utsmani sering disebut para sejarawan sebagai bentuk awal solidaritas internasional dunia Islam.
Sejarawan Anthony Reid menyebut Aceh sebagai mitra strategis Utsmani di kawasan Asia Tenggara, sementara Azyumardi Azra menegaskan bahwa hubungan ini bukan hanya militer, tetapi juga religius dan kultural.
Bagi masyarakat Aceh, Turki bukan sekadar negara jauh di barat sana. Ia adalah simbol persaudaraan dan keberpihakan pada bangsa yang terjajah. Jejak itu masih terasa hingga kini, hidup dalam kisah-kisah rakyat, situs sejarah, dan makam para panglima seperti Tgk Dibitai.
Ziarah ke Makam Tgk Dibitai, para relawan UAR merefleksikan peran mereka sebagai relawan hari ini.
Jika dahulu para panglima mengangkat senjata untuk melindungi rakyat, kini para relawan mengangkat tandu, kotak logistik, dan perlengkapan medis untuk tujuan yang sama: menjaga martabat manusia.
“Perjuangan hari ini bentuknya berbeda, tapi nilainya sama, keberanian, pengorbanan, dan keberpihakan pada yang lemah,” ujar Mardi
Relawan UAR regu ketiga telah berada di Aceh Tamiang selama satu bulan, 14 Januari para relawan kembali ke daerah masing-masing dengan menumpang Kapal Kemanusiaan PMI yang berlabuh di Pelabuhan Malahayati, Aceh Besar setelah sebelumnya berlayar dari Belawan-Lhokseumawe untuk menurukan logistik bantuan berupa 500 ton beras bagi warga korban banjir di Aceh.
Ziarah tersebut menjadi pengingat bahwa kerja kemanusiaan bukan aktivitas teknis semata, melainkan lanjutan dari sejarah panjang pembelaan terhadap rakyat.
Dari pusara seorang panglima Turki di Aceh, para relawan membawa pulang spirit kepahlawanan yang sunyi, namun kuat, bahwa pengabdian sejati selalu menemukan jalannya, di zaman apa pun.
Kepulangan relawan UAR melalui Pelabuhan Malahayati dilepas dan didoakan oleh penjaga Makam Tgk Dibitai, Azimah.
Sebelumnya, Azimah memberikan penjelasan sejarah singkat tentang makam tersebut kepada para relawan, termasuk jejak Laksamana Malahayati, pahlawan wanita Aceh yang belajar di Akademi Militer Baitul Maqdis yang dipimpin Tgk Dibitai.[]




