Hari Ini 30 Tahun Lalu, Tragedi KMP Gurita di Teluk Balohan

Masyarakat dan keluarga korban tragedi KMP Gurita berdoa di titik lokasi tenggelamnya feri tersebut pada 19 Januari 1996. (Foto: habapublik.com)

PORTALNUSA. Com | BANDA ACEH – Hari ini, 19 Januari 2026, tepat 30 tahun KMP Gurita tenggelam dalam pelayaran dari Pelabuhan Krueng Raya, Aceh Besar ke Balohan, Sabang.

Kapal feri yang melayani penyeberangan dari Aceh Besar-Banda Aceh tujuan Sabang maupun sebaliknya tenggelam pada Jumat malam, 19 Januari 1996 menyebabkan ratusan korban jiwa. Musibah itu sendiri diyakini karena kapal kelebihan muatan yang ekstrem, dan merupakan salah satu musibah laut terbesar di Aceh.

KMP Gurita berangkat dari Pelabuhan Malahayati, Krueng Raya, Aceh Besar pukul 18.45 WIB menuju Balohan, Sabang. Menurut rencana, kapal seharusnya nyandar di Balohan pukul 21.00 WIB.

Kapal ini menurut penuturan saksi mata memang kelebihan sekaligus sarat muatan, karena kapal yang memiliki kapasitas 210 orang, ternyata disesaki hingga mencapai 378 orang (282 orang warga Sabang, 200-an warga luar Sabang, serta 16 WNI).

Data muatan kapal antara lain muatan barang yang mencapai 50 ton, meliputi 10 ton semen, 8 ton bahan bakar, 15 ton tiang beton listrik, bahan sandang-pangan kebutuhan masyarakat Sabang serta 12 kendaraan roda empat dan 16 roda dua.

Tidak ada yang aneh ketika sejumlah penumpang bergerak memasuki kapal yang tergolong tua tersebut. Hanya muatan yang penuh sesak dan seakan ini sudah menjadi kelaziman. Jadwal pelayaran pada Jumat sore, 19 Januari 1996 itu bertambah padat karena menyambut masuknya bulan suci Ramadhan yang jatuh pada 22 Januari 1996.

Dalam tradisi masyarakat Aceh, satu atau dua hari menjelang Ramadhan adalah meugang, di mana pada saat-saat itulah semua anggota keluarga sedapat mungkin bisa berkumpul.

Saksi mata yang tak jadi berangkat dengan KMP Gurita karena melihat kondisi kapal yang sarat penumpang mengakui, pada saat meninggalkan Pelabuhan Malahayati, kapal yang naas tersebut sarat penumpang dan barang.

Di kegelapan malam yang mencekam itu, KMP Gurita mengalami gangguan cuaca dan angin kencang dari arah timur.

Terjadinya gangguan, ditambah muatan yang melebihi kapasitas, mengakibatkan kapal tersebut menjadi oleng.

Nakhoda tak dapat menguasai kapal yang oleng ke kiri dan ke kanan. Saksi mata mengatakan pada pukul 20.15 WIB, kapal penyeberangan itu masih terlihat dari pelabuhan Balohan.

Sanak keluarga yang datang menjemput tak memperkirakan kapal tersebut sedang mengalami gangguan dan tengah berjuang melawan badai. Lampu masih terlihat jelas dari KMP Gurita.

Namun sekitar pukul 20.30 WIB, kapal penyeberangan itu sudah tidak terlihat lagi. Sampai saat itu, belum ada satu pun pejabat di pelabuhan Sabang yang menyatakan kapal mengalami musibah.

Pencarian terus dilakukan, hubungan dengan kapal terputus. Tak ada tanda-tanda apa pun yang bisa diterima dari kapal feri itu.

Kepastian musibah baru diketahui empat jam setelah kejadian, yakni pada saat salah seorang penduduk Pasiran, Kota Bawah Timur, Hanla (22), penumpang KMP Gurita mampu berenang mengarungi lautan dengan ombak yang ganas dan terdampar di Teluk Keuneukai.

Kabar yang dibawa Hanla itulah yang memastikan bahwa KMP Gurita tenggelam di dekat teluk Balohan. Tragedi itu pun menyebar cepat ke seantero negeri. Duka berkepanjangan menyelimuti Aceh.[]

Berikan Pendapat

Copyright © 2025. Portalnusa.com – All rights reserved