Dosen FTK UIN Ar-Raniry: Alquran Ajarkan Tanggung Jawab Ilmiah Menjaga Alam, Banjir Sumatra Jadi Alarm Ekologis
PORTALNUSA.com | BANDA ACEH – Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Tgk. H. Rahmadon Tosari Fauzi, M.Ed., Ph.D, menegaskan bahwa Alquran, khususnya Surat Lukman ayat 20, memberikan landasan teologis sekaligus ilmiah tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam.
“Ketika kita mengejar Proyek Ramadhan dalam bentuk Tadarus Ayat Qur’aniyah, kita mendapati pelajaran berharga bagaimana integrasi iman, ilmu, dan aksi lingkungan.” sebut Rahmadon.
Allah Swt berfirman: “Tidakkah kamu perhatikan bahwa Allah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu, dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, lahir dan batin?” (QS. Lukman: 20).
Menurut Rahmadon, frasa “menundukkan langit dan bumi” dapat dipahami secara ilmiah sebagai bentuk fine-tuning kosmologis yang memungkinkan kehidupan di bumi.
Atmosfer, misalnya, menyerap hampir seluruh radiasi ultraviolet berbahaya, medan magnet bumi melindungi dari angin matahari dan konstanta gravitasi berada pada kadar presisi yang menjaga stabilitas orbit.
Semua ini menunjukkan keseimbangan fisika, kimia, dan biologi sebagai prasyarat ontologis kehidupan.
Nikmat lahir bukan hanya udara dan air, tetapi juga siklus hidrologi global yang menjaga distribusi air di bumi.
“Sementara nikmat batin tampak pada kapasitas akal manusia, neuroplastisitas otak, yang memungkinkan kesadaran etis dan refleksi rasional,” jelasnya.
Rahmadon mengaitkan ayat tersebut dengan peristiwa banjir besar yang melanda sejumlah wilayah Sumatera pada November 2025.
Curah hujan ekstrem di beberapa daerah, seperti Aceh Tamiang, Tapanuli Utara, dan Agam, diperparah oleh kerusakan daerah aliran sungai (DAS) akibat deforestasi.
Ia menjelaskan, hilangnya tutupan hutan secara signifikan meningkatkan limpasan permukaan (surface runoff) dan erosi tanah.
“Ketika hutan di hulu rusak, hujan yang semula nikmat berubah menjadi bencana hidrometeorologi. Ini bukan sekadar faktor cuaca, tetapi gangguan antropogenik terhadap keseimbangan alam yang telah Allah tundukkan untuk kemaslahatan manusia,” tegasnya.
Rahmadon juga mengkritik mentalitas menyalahkan pihak lain tanpa dasar ilmu.
Dalam ayat yang sama, terdapat peringatan terhadap orang yang membantah tanpa pengetahuan.
“Sikap blame-shifting, menyalahkan cuaca atau pemerintah semata, tanpa solusi berbasis data seperti restorasi ekosistem DAS, adalah bentuk pengabaian terhadap amanah ilmiah,” ujarnya.
Dalam momentum Ramadhan 1447 H, Rahmadon mengajak umat Islam mengoperasionalkan pesan Alquran Surat Lukman melalui integrasi ibadah dan aksi nyata.
Ia mendorong gerakan sedekah untuk reboisasi, penguatan literasi sains berbasis masjid, dan perencanaan program lingkungan berkelanjutan.
“Ramadhan bukan hanya ritual lapar dan haus. Ini momentum eco-theology, refleksi batin atau tafakkur yang melahirkan perilaku prolingkungan,” katanya.
Ia memaparkan sejumlah langkah konkret yang bisa dilakukan umat, seperti waktu sahur melakukan tafakkur atas nikmat air dan merencanakan sedekah untuk program reboisasi.
Ketika tarawih, berdoa untuk korban banjir dan penggalangan bantuan sosial.
“Demikian pula ketika berbuka puasa, kita dapat berbagi makanan dengan para pengungsi dan keluarga terdampak. Waktu i’tikaf dengan menyusun program penanaman pohon dan rehabilitasi DAS secara kolaboratif,” ungkapnya.
Alarm sistemik
Rahmadon menekankan, banjir Sumatera 2025 bukanlah “hukuman ilahi”, melainkan alarm sistemik atas kelalaian manusia dalam menjaga keseimbangan ekologis.
“Nikmat lahir dan batin menuntut stewardship ilmiah, bukan ritual kosong. Allah Swt telah memudahkan langit dan bumi untuk kita, maka kita pun wajib memudahkan kehidupan saudara-saudara kita,” tegasnya.
Ia berharap, dari masjid-masjid lahir gerakan nyata berupa satu pohon ditanam, satu kehidupan diselamatkan.
“Inilah jawaban umat terhadap panggilan Lukman, iman yang berbuah aksi, ilmu yang melahirkan solusi,” tutup Wakil Ketua Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) Aceh ini.[]





