Kejahatan Perang Trump
Oleh: Cak AT – Ahmadie Thaha*
SEJARAH menulis tragedi dengan tinta yang terlalu jelas untuk disangkal. Bahkan orang yang rabun pun masih bisa melihat garis besarnya. Tetapi di panggung politik modern, rupanya masih ada cabang olahraga baru, yaitu menyangkal sesuatu yang terlihat seterang matahari pukul dua siang.
Tragedi di Kota Minab, Iran selatan, pada 28 Februari 2026 — adalah contoh sempurna bagaimana realitas bisa dipelintir seperti karet gelang oleh para penguasa yang terlalu percaya diri pada kemampuan mereka mengarang cerita.
Sebuah rudal Tomahawk menghantam kompleks dekat pangkalan angkatan laut Garda Revolusi Iran. Sayangnya, atau mungkin tragisnya, ledakan itu juga menghancurkan bangunan Sekolah Dasar Syajarah Thayyibah. Di situlah sekitar 175 hingga 180 anak perempuan sedang belajar.
Mereka bukan tentara. Mereka bukan milisi. Mereka bahkan belum cukup umur untuk memahami apa itu geopolitik. Mereka hanya siswi SD yang mungkin pagi itu masih sempat mengeluh tentang PR matematika — namun sebuah kesalahan koordinat membuat pelajaran matematika mereka berubah menjadi statistik kematian.
Investigasi awal militer Amerika Serikat sendiri, sebagaimana dilaporkan The Guardian dan dikutip pula oleh The New York Times, menyimpulkan bahwa serangan tersebut berasal dari Amerika Serikat. Penyebabnya bukan konspirasi canggih, bukan teknologi misterius, melainkan sesuatu yang jauh lebih manusiawi namun fatal, yakni data target yang usang.
Koordinat target disusun oleh perwira di US Central Command menggunakan informasi lama dari Defense Intelligence Agency. Data tersebut tampaknya tidak memperhitungkan perubahan fungsi bangunan di lokasi tersebut.
Dahulu kawasan itu memang bagian dari kompleks Garda Revolusi Iran, tetapi selama setidaknya sembilan tahun terakhir, bangunan sekolah itu telah dipisahkan dengan tembok dari kompleks militer di sebelahnya. Bahkan dari citra satelit pun bangunan itu tampak sangat “tidak militer”. Dindingnya penuh mural warna-warni. Ada lapangan kecil untuk bermain. Persis seperti sekolah dasar di mana pun di dunia.
Sulit membayangkan ada batalion tank Iran berlatih di antara gambar bunga matahari dan kartun, lalu layak dihancurkan.
Tetapi tragedi tidak berhenti di situ. Setelah ledakan terjadi, video-video dari lokasi mulai beredar di media sosial Iran. Setidaknya empat rekaman memperlihatkan lokasi yang sama dari sudut berbeda. Tampak mural sekolah, reruntuhan bangunan, dan asap tebal yang mengepul dari arah pangkalan militer di seberangnya.
Di sinilah teknologi geospasial memainkan peran seperti detektif digital abad ke-21. Kelompok investigasi independen Bellingcat melakukan proses geolocation. Mereka berupaya mencocokkan elemen-elemen visual dalam video, seperti menara air, jalan, pepohonan, dan bentuk bangunan, dengan citra satelit yang telah diverifikasi.
Setelah setiap detail dicocokkan seperti menyusun puzzle raksasa, mereka berhasil menentukan lokasi kamera dan arah datangnya rudal. Hasilnya menunjukkan bahwa rudal menghantam kompleks IRGC tepat di sebelah sekolah.
Jenis rudal dalam rekaman itu kemudian dianalisis oleh pakar persenjataan. NR Jenzen-Jones, direktur Armament Research Services, lembaga analisis militer yang sering bekerja dengan pemerintah dan organisasi internasional, mengidentifikasi rudal tersebut sebagai Tomahawk.
Tomahawk adalah rudal jelajah buatan Amerika Serikat. Israel diketahui tidak memilikinya. Iran jelas tidak memilikinya. Karena, seperti ironi geopolitik yang sering terjadi, Iran justru berada di bawah embargo Amerika Serikat yang membuatnya mustahil membeli persenjataan Amerika. Membeli saja tidak bisa, apalagi memelihara sistem persenjataan kompleks buatan negara yang justru memblokade Anda.
Di tengah semua bukti itu, Presiden Donald Trump tampil dengan versi realitas alternatifnya sendiri. Menurut Trump, serangan itu dilakukan oleh Iran.
“Dalam opini saya, berdasarkan apa yang saya lihat, itu dilakukan oleh Iran,” katanya.
Dia mengatakannya tanpa bukti. Tanpa data. Tanpa penjelasan bagaimana Iran bisa menembakkan rudal Tomahawk yang bahkan tidak mereka miliki.
Logika ini kira-kira seperti menuduh tetangga mencuri mobil Anda dengan kunci yang masih berada di saku Anda sendiri.
Pentagon sendiri tampak jauh lebih berhati-hati. Mereka hanya mengeluarkan pernyataan lima kata: insiden ini sedang diselidiki. Bahasa birokrasi militer memang sering terdengar seperti haiku Jepang. yang pendek, dingin, dan penuh makna tersirat.
Tragedi Minab tidak berhenti pada soal salah koordinat militer. Dalam perspektif hukum humaniter internasional, peristiwa ini berpotensi melangkah jauh lebih serius. Human Rights Watch menyatakan bahwa serangan terhadap Sekolah Dasar Syajarah Thayyibah tersebut patut diselidiki sebagai kemungkinan kejahatan perang.
Ya, kejahatan perang, yang bisa dikenakan pada Donald Trump. Betapa tidak. Serangan yang terjadi menjelang tengah hari itu dilaporkan menewaskan banyak warga sipil, termasuk anak-anak sekolah. Jumlah mereka hingga 180 orang, tewas dalam sekali sapu oleh Tomahawk.
Hukum perang secara tegas melarang serangan terhadap objek sipil seperti sekolah. Itu berlaku terutama jika kerugian terhadap warga sipil diperkirakan jauh lebih besar dibandingkan keuntungan militer yang ingin dicapai dari serangan tersebut.
Dalam analisis awalnya, para peneliti Human Rights Watch memverifikasi sedikitnya 14 video dan foto dari lokasi serangan serta menelaah sekitar 40 citra satelit dari berbagai periode.
Citra satelit resolusi tinggi setelah serangan menunjukkan sedikitnya delapan hingga sepuluh titik dampak munisi di kompleks tersebut. Termasuk salah satunya yang menghantam langsung bangunan sekolah yang telah lama dipisahkan dengan tembok dari kompleks militer di sekitarnya.
Pola lubang masuk munisi yang relatif kecil dan presisi menunjukkan penggunaan senjata berpemandu dengan akurasi tinggi, bukan senjata yang meleset secara acak. Artinya, struktur yang dihantam kemungkinan besar memang dipilih sebagai target penghancuran, sebuah kesengajaan.
Human Rights Watch menegaskan bahwa Amerika Serikat dan Israel perlu segera menyelidiki tanggung jawab mereka secara transparan serta memastikan bahwa siapa pun yang terbukti bertanggung jawab atas serangan yang melanggar hukum perang dapat dimintai pertanggungjawaban. Termasuk melalui proses hukum atas kemungkinan kejahatan perang.
Perang moderen sering digambarkan sebagai operasi presisi tinggi. Rudal pintar. Drone cerdas. Sistem navigasi satelit yang mampu menghantam jendela rumah dari jarak ribuan kilometer. Tetapi tragedi Minab mengingatkan kita pada satu hal sederhana. Teknologi boleh semakin pintar, tetapi kesalahan manusia tetap setua peradaban.
Kadang hanya satu koordinat yang salah. Kadang hanya satu data lama yang tidak diperbarui. Kadang hanya satu keputusan yang diambil di ruang kendali ber-AC ribuan kilometer jauhnya. Dan di ujung koordinat itu, yang berubah menjadi angka statistik, adalah anak-anak yang seharusnya sedang belajar menulis masa depan mereka.
Ironinya, sejarah mungkin akan mencatat peristiwa ini bukan hanya sebagai tragedi militer — tetapi juga sebagai pelajaran klasik tentang kekuasaan: bahwa bom bisa dijatuhkan dalam satu detik, tetapi kebenaran selalu membutuhkan waktu untuk menemukan jalannya. Meski terkadang harus melewati reruntuhan sekolah terlebih dahulu.[]
*Jurnalis Senior, Kolumnis dan Editor Sejumlah Buku Azyumardi Azra
Sumber: Pijarberita.com/Editor: Jufri Alkatiri






