Mata Air Jeulanga di Pidie Jaya, dari Legenda Bak Jreung sampai Kebutuhan Korban Bencana

Jamaluddin

Laporan Jamaluddin, S.Pd., MM*)

BENCANA hidrometeorologi pada akhir November 2025 telah memunculkan dampak luar biasa termasuk di Kabupaten Pidie Jaya yang memiliki 222 desa (gampong) dalam delapan kecamatan.

Kolam Mata Ie Jeulanga selain sebagai sumber air bersih juga menjadi objek pemandian masyarakat yang berwisata ke lokasi yang berada di Gampong Jeulanga, Kecamatan Bandar Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh. (Sumber Youtube Taufik Bireuen)

Bencana banjir bandang dan longsor tersebut telah mengungkap banyak hal baik penyebab maupun berbagai fenomena di balik fakta yang dialami. Salah satu yang terungkap ke permukaan adalah keberadaan sumber air bersih yang menjadi salah satu kebutuhan utama korban bencana.

Dari 222 desa (gampong) di Kabupaten Pidie Jaya, salah satu gampong di antaranya ternyata menyimpan potensi air bersih yang sangat luar biasa, baik kualitas maupun debitnya. Sumber air bersih itu tersimpan dalam satu kolam abadi berukuran sekitar 7×20 meter dengan kedalaman lebih kurang 1,5 meter.

Lokasi kolam berada dalam wilayah Ganpong Jeulanga, Kecamatan Bandar Dua (Ulee Gle), Kabupaten Pidie Jaya.

Jeulanga yang merupakan nama gampong sekaligus ditabalkan sebagai nama mata air (mata ie) kolam tersebut, yaitu Mata Ie Jeulanga.

Mata Ie Jeulanga yang airnya tak pernah kering—meski di musim kemarau—bukan saja menjadi sumber kehidupan tetapi juga berpeluang besar dijadikan destinasi wisata karena pesonanya.

Banyak pihak berharap pemerintah jeli melihat potensi ini dan tidak membiarkan anugerah alam tanpa pengeloaan secara profesional berbasis kepariwisataan.

Masyarakat luar yang ingin menikmati sensasi berbeda Mata Ie Jeulanga, tidak sulit untuk menuju lokasi tersebut.

Jarak dari ibu kota kecamatan (Bandar Dua) sekitar 1,5 kilometer ke arah selatan melewati jalanan aspal dengan pesona persawahan di kiri kanannya.

Kini, potensi Mata Ie Jeulanga juga dimanfaatkan oleh masyarakat Gampong Jeulanga sebagai sumber air kemasan (Air Mineral Gelas) yang diproduksi oleh Badan Usaha Milik Desa (Bundes) dengan merek dagang Ie Jeulanga. Hasil usaha ini menjadi sumber pendapatan asli desa (PAD) yang memberikan dampak secara ekonomi bagi masyarakatnya.

Legenda bak jreung

Sulit ditemukan catatan tertulis mengenai asal muasal terbentuknya kolam Mata Ie Jeulanga, selain cerita dari mulut ke mulut antar-generasi.

Menurut penuturan masyarakat dan tokoh-tokoh adat yang sempat penulis wawancara, konon pada awalnya di lokasi mata ie sekarang tak ada sumber air. Hanya hamparan kebun dan balai tempat masyarakat menggelar pengajian rutin yang dipimpin oleh seorang ulama yang sangat dihormati.

Seiring bertambah ramainya jamaah dan padatnya kegiatan peribadatan, kebutuhan air bersih menjadi sesuatu yang vital. Maka, pada suatu hari, sang ulama mecabut sebatang pohon (bahasa Aceh bak jreung) yang ada sekitar balai pengajian.

Maka, dengan izin Allah, dari lokasi bak jreung itu dicabut, terbentuklah mata air yang mengeluarkan air melimpah sehingga membentuk kolam dengan debit air yang terus bertambah. Air yang bening, bersih, dan menyucikan menjadi warisan turun temurun hingga saat ini.

Sumber air korban bencana

Ketika musibah banjir bandang dan longsor pada akhir November 2026, nyaris semua sumber air bersih masyarakat terimbas. Tak bisa lagi digunakan. Maka, krisis air bersih bagi korban bencana tak terelakkan.

Dalam kondisi darurat itu, tiba-tiba informasi tentang keberadaan Mata Ie Jeulanga di Gampong Jeulanga, Kecamatan Bandar Dua merebak cepat ke seantero Pidie Jaya.

Masyarakat korban bencana—utamanya dari Kecamatan Bandar Dua berbondong-bondong menuju Mata Ie Jeulanga untuk mendapatkan air bersih sebagai sumber kehidupan di tengah prahara.

Keberadaan sumber air tersebut juga dimanfaatkan oleh para relawan untuk kepentingan korban bencana. Nama Mata Ie Jeulanga semakin santer dibicarakan.

Mata Ie Jeulanga menjadi catatan tersendiri dalam lembaran sejarah Pidie Jaya yang terimbas bencana tak terperi.

Sumber airnya yang secara turun temurun diam dalam sunyi berubah menjadi penyambung hidup korban bencana dan sumber ekonomi masyrakat. Semoga, kisah dan keberadaan Mata Ie Jeulanga tetap abadi sebagai sumber kehidupan.[]

Sekilas tentang Penulis:

Jamaluddin, S.Pd, MM kelahiran Paru Cot, Kecamatan Bandar Baru,  Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh. Dia dikenal sebagai Pemerhati Situs Budaya Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya pernah manjabat sebagai Kepala Bidang Kebudayaan Kabupaten Pidie. Sekarang Jamaluddin sebagai Kepala Sekretariat Majelis Pendidikan Daerah (MPD) Kabupaten Pidie.

Copyright © 2025. Portalnusa.com – All rights reserved