Mengenang Jejak Kepemimpinan Abu Doto: Revitalisasi Masjid Raya Baiturrahman Jadi Warisan Abadi Aceh

(Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh / Foto : grafis portalnusa.com)

PORTALNUSA.com|BANDA ACEH – Aceh kehilangan salah satu putra terbaiknya. Mantan Gubernur Aceh periode 2012–2017, dr. Zaini Abdullah atau yang akrab disapa Abu Doto, wafat pada Sabtu, 13 Juni 2026 di usia 86 tahun. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, sekaligus menghadirkan kembali kenangan tentang berbagai jejak pengabdian yang telah ia wariskan untuk Tanah Rencong.

Di antara sejumlah capaian yang masih dirasakan manfaatnya hingga kini, adalah revitalisasi Masjid Raya Baiturrahman menjadi salah satu karya monumental yang paling melekat dalam ingatan masyarakat Aceh.

Pada masa kepemimpinannya, kawasan masjid kebanggaan rakyat Aceh itu mengalami perubahan besar melalui pembangunan payung elektrik raksasa di pelataran masjid serta area parkir bawah tanah yang modern. Proyek tersebut tidak hanya meningkatkan kenyamanan jamaah, tetapi juga mengubah wajah Masjid Raya Baiturrahman menjadi ikon religi yang dikenal hingga mancanegara.

Payung-payung hidrolik yang terinspirasi dari Masjid Nabawi di Madinah tersebut kini menjadi ciri khas tersendiri. Selain memberikan perlindungan bagi jamaah dari terik matahari dan hujan, fasilitas ini juga memperkuat citra Masjid Raya Baiturrahman sebagai pusat syiar Islam dan destinasi wisata religi unggulan di kota Banda Aceh dan umumnya di Aceh.

Bagi banyak masyarakat, revitalisasi masjid tersebut bukan sekadar pembangunan fisik. Proyek itu menjadi simbol bagaimana Aceh bangkit pascatsunami dan terus bergerak maju tanpa meninggalkan identitas keislaman serta nilai sejarah yang melekat kuat dalam kehidupan masyarakatnya.

Semasa menjabat gubernur, Abu Doto dikenal memberi perhatian besar terhadap pelestarian warisan budaya dan sejarah Aceh. Ia meyakini pembangunan harus berjalan seiring dengan upaya menjaga identitas daerah agar tetap menjadi kebanggaan generasi mendatang.

Selain dikenal sebagai kepala daerah, Abu Doto juga merupakan tokoh penting dalam perjalanan perdamaian Aceh. Sebagai mantan Menteri Luar Negeri Gerakan Aceh Merdeka (GAM), ia menjadi bagian dari proses diplomasi yang melahirkan MoU Helsinki 2005, yang mengakhiri konflik berkepanjangan di Aceh dan membuka jalan bagi pembangunan daerah yang lebih stabil.

Setelah perdamaian terwujud, masyarakat Aceh memberikan kepercayaan kepadanya untuk memimpin provinsi ini bersama Wakil Gubernur Muzakir Manaf pada periode 2012–2017.

Kini, sosok Abu Doto telah berpulang. Namun jejak pengabdiannya tetap hidup dalam berbagai karya yang masih dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Salah satunya adalah kemegahan Masjid Raya Baiturrahman yang setiap hari menjadi pusat ibadah, aktivitas sosial, dan kebanggaan rakyat Aceh.

Masjid yang berdiri megah di jantung Kota Banda Aceh itu menjadi saksi bahwa kepemimpinan tidak hanya dikenang melalui jabatan, tetapi juga melalui warisan yang memberi manfaat bagi banyak orang.

Kepergian Abu Doto memang meninggalkan duka, namun dedikasi dan karya yang ditinggalkannya akan terus menjadi bagian dari perjalanan sejarah Aceh.[]