350 KK Terdampak Banjir, Yahdi Hasan Desak BWS Sumatera I Bangun Tembok Penahan Permanen di Lawe Bulan
Laporan: Azhari | Kutacane
PORTALNUSA.com|ACEH TENGGARA – Jebolnya tanggul Sungai Lawe Bulan kembali memperlihatkan kerentanan wilayah Aceh Tenggara terhadap banjir. Luapan sungai bukan hanya merendam permukiman warga, namun juga menggenangi jalan nasional. Sebanyak 350 kepala keluarga (KK) atau 1.387 jiwa di tujuh desa terdampak, memunculkan desakan agar penanganan tidak berhenti pada perbaikan darurat.

Anggota DPR Aceh dari Fraksi Partai Aceh, Yahdi Hasan, M.I.Kom., mendesak Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I segera membangun tembok penahan sungai permanen untuk mengurangi risiko banjir berulang. Menurutnya, pengerahan alat berat dan pemasangan bronjong diperlukan dalam kondisi darurat, tetapi belum cukup menjawab persoalan apabila tidak diikuti pembangunan infrastruktur pengendalian banjir yang lebih berkelanjutan.
Desakan tersebut, disampaikan Yahdi saat meninjau langsung tanggul Sungai Lawe Bulan yang jebol, Selasa, 13 Oktober 2026. Ia menilai, kerusakan tanggul harus segera ditangani secara serius dan menyeluruh, mengingat dampaknya menyentuh keselamatan warga sekaligus mengganggu akses transportasi di lintas nasional.
“Penanganan tidak boleh hanya dilakukan ketika banjir terjadi. Kita membutuhkan solusi permanen agar masyarakat tidak terus dihantui ancaman luapan sungai setiap kali hujan deras,” demikian penekanan Yahdi dalam mendorong percepatan penanganan kawasan tersebut.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tenggara, banjir berdampak pada tujuh desa, yakni Bambel Gabungan, Terutung Seperai, Lawe Kihing, Terutung Megakhe Asli, Biak Muli, Kute Antara, dan Kuning I. Secara keseluruhan, 350 KK atau 1.387 jiwa terdampak
Besarnya jumlah warga yang terdampak menjadi alasan kuat bagi pemerintah dan instansi teknis untuk mengevaluasi efektivitas penanganan tanggul selama ini. Tanpa penanganan yang menyasar sumber kerentanan, masyarakat berisiko kembali menghadapi persoalan serupa ketika debit air sungai meningkat.
Yahdi mengakui, pemasangan bronjong dan pengerahan alat berat untuk menutup bagian tanggul yang jebol merupakan langkah awal yang penting. Namun, ia meminta BWS Sumatera I tidak berhenti pada upaya tersebut. Perencanaan teknis, penanganan titik rawan, dan pembangunan pelindung sungai yang sesuai dengan kondisi lapangan perlu menjadi bagian dari solusi jangka panjang.
Di tengah penanganan infrastruktur, kebutuhan mendesak warga juga harus dipenuhi. Yahdi menyatakan telah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) untuk meminta dukungan tenda pengungsian. Ia juga mengupayakan bantuan bagi masyarakat terdampak melalui Dinas Sosial dan Dinas Pangan Aceh.
Pengajuan bantuan tersebut, menurutnya, perlu disampaikan secara resmi melalui surat Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara agar dapat diproses sesuai mekanisme yang berlaku.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Aceh Tenggara, Yusrizal, S.T., M.T., mengatakan pemerintah kabupaten telah mengerahkan lima unit excavator untuk menangani tanggul yang jebol. Armada tersebut terdiri atas tiga unit milik pemerintah daerah, satu unit milik swasta, dan satu unit dari BWS Sumatera I.
Pemerintah daerah juga mendirikan dapur umum melalui Dinas Sosial untuk menyediakan makan siang dan malam bagi warga terdampak. Selain itu, Pemkab Aceh Tenggara telah menyurati Dinas Sosial dan Dinas Pangan Aceh guna meminta tambahan bantuan bagi masyarakat yang membutuhkan.
Yusrizal menegaskan, penanganan banjir memerlukan koordinasi lintas sektor, melibatkan pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, BWS Sumatera I, serta DPR Aceh. Ia berharap pembangunan infrastruktur permanen di Sungai Lawe Bulan dapat segera direalisasikan, terutama untuk mengurangi risiko banjir berulang di Kecamatan Bambel.
Meski pengerahan alat berat dan penyediaan bantuan darurat menjadi langkah penting, persoalan mendasar belum selesai hanya dengan menutup tanggul yang jebol. Diperlukan kepastian mengenai rencana teknis, pembiayaan, dan jadwal pelaksanaan pembangunan agar upaya perlindungan warga tidak berhenti pada penanganan sesaat.
Dengan 1.387 jiwa terdampak, tuntutan pembangunan tembok penahan permanen kini menjadi bagian penting dari agenda pemulihan dan mitigasi bencana di Aceh Tenggara. BWS Sumatera I bersama pemerintah daerah dan pemerintah provinsi perlu memastikan bahwa penanganan Lawe Bulan tidak sekadar merespons banjir yang telah terjadi, tetapi juga mengurangi risiko bencana berikutnya.
Bagi warga di sepanjang aliran sungai, ukuran keberhasilan penanganan bukan semata-mata surutnya air atau tertutupnya tanggul yang rusak, melainkan adanya perlindungan yang memadai ketika hujan deras kembali mengguyur wilayah mereka. []












