Ia Ingin Pulang ke Aceh

Alm. R. Manmagilan, S.E., M.Si., yang akrab disapa Pak Man.Alumni Save the Children Aceh Indonesia (Foto: Dok. Imran/Alumni Save the Children Aceh Indonesia/Kolase: Portalnusa.com)

Secangkir Kopi Gayo dan Kenangan Terakhir Bersama Pak Man

Dari dunia industri di Lhokseumawe hingga pengabdian kemanusiaan bersama Save the Children, R. Manmagilan meninggalkan jejak persahabatan dan kerinduan yang tak sempat dituntaskan: pulang ke Aceh.

Oleh: Imran, S.E., M.S.M.

Alumni Save the Children Aceh Indonesia

PORTALNUSA.com | BANDA ACEH – Ada kenangan yang baru terasa begitu sangat berharga setelah seseorang pergi. Bagi saya, salah satunya adalah secangkir kopi Arabika Gayo bersama R. Manmagilan, S.E., M.Si., yang akrab disapa Pak Man.

Di sela-sela pekerjaan, kami kerap berbincang tentang kehidupan, pengalaman di lapangan, dan gagasan membantu masyarakat. Dari percakapan sederhana itu, saya mengenalnya sebagai sosok yang tegas, teliti, sekaligus hangat dalam persahabatan.

Foto Kenangan Relawan Kemanusiaan, Tsunami Aceh pada 26 Desember 2004, Pak Man.Alumni Save the Children Aceh Indonesia (Foto: Dok. Imran/Alumni Save the Children Aceh Indonesia)

Kini, ada satu percakapan yang terus membekas. Pada 27 Juni 2026, melalui sambungan telepon, Pak Man menyampaikan keinginannya untuk kembali ke Aceh.

Tak seorang pun menyangka, kerinduan itu akan menjadi salah satu kenangan terakhir yang begitu berarti.

Dari Dunia Industri ke Pengabdian Kemanusiaan

Perjalanan Pak Man di Aceh bermula ketika ia merantau dari Medan dan bekerja di PT Arun NGL, Lhokseumawe. Setelah mengikuti program pensiun dini pada 2002, ia memasuki babak baru dalam hidupnya.

Foto Kenangan Relawan Kemanusiaan, Tsunami Aceh pada 26 Desember 2004, Pak Man.Alumni Save the Children Aceh Indonesia (Foto: Dok. Imran/Alumni Save the Children Aceh Indonesia)

Tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 menjadi titik penting perjalanan tersebut. Ia menawarkan diri membantu Save the Children dalam kegiatan koordinasi pangan dan distribusi bantuan di Lhokseumawe.

Sejak 2005, ia menjalani berbagai tanggung jawab di Save the Children, mulai dari bidang rantai pasok, pengelolaan program di Pidie dan Bener Meriah, hingga posisi manajerial di sejumlah wilayah Indonesia.

Pengalaman industri membentuknya menjadi pribadi yang disiplin dan teliti. Baginya, pekerjaan bukan sekadar menyelesaikan tugas, melainkan memastikan setiap program berjalan baik dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Saya mengenal Pak Man sejak 2005, ketika kami bekerja bersama dalam distribusi bantuan di Lhokseumawe. Hubungan itu semakin erat saat kami kembali bekerja bersama di Bener Meriah pada 2011.

Dalam berbagai kesempatan, kami menikmati kopi Gayo sambil bertukar cerita. Ia kerap mengingatkan pentingnya kemauan belajar, kedisiplinan, dan tanggung jawab.

Salah satu ucapannya masih saya ingat:

“Saya tidak peduli tamatan pendidikan dan terlalu pintar, tapi yang saya butuh adalah orang atau staf yang mau belajar dan ikut arahan.”

Ketegasannya selalu disertai keinginan agar orang-orang di sekitarnya berkembang. Di luar pekerjaan, ia tetap seorang sahabat yang hangat. Sapaan khasnya, “Pue haba droe neuh?”—apa kabar kamu?—sering disertai tawa yang mudah dikenali.

Ada pula kalimat yang tak pernah saya lupakan: “Droe keuh Imran nyang loen peucaya.”

Kurang lebih artinya, “Kamulah Imran yang saya percaya.”

Bagi saya, kepercayaan itu adalah amanah yang tumbuh dari perjalanan panjang bekerja bersama.

Aceh, Rumah yang Dirindukannya

Kedekatan Pak Man dengan Aceh tetap terjaga meski ia berpindah tempat tugas. Menurut Jafar Hanafi, sesama alumni Save the Children, sejumlah kawan lama di Pidie masih menanyakan kabarnya dan berharap bisa kembali bertemu.

Pada 2021–2022, Pak Man dan saya juga berdiskusi tentang gagasan membangun lembaga yang berfokus pada anak-anak. Gagasan itu kemudian melahirkan Akshara Linia Indonesia, yang pada 2022 menjalankan program dukungan bagi anak-anak PAUD dan TK di salah satu kabupaten di Bali.

Namun, dari sekian banyak kenangan, percakapan pada 27 Juni 2026 menjadi yang paling membekas.

Saat itu, Pak Man bercerita ingin mengunjungi Banda Aceh, Lhokseumawe, Bener Meriah, dan Takengon. Ia ingin bertemu sahabat lama, mantan rekan kerja di PT Arun NGL, serta keluarga besar alumni Save the Children Aceh Indonesia.

Lalu, ia mengucapkan kalimat yang terus melekat dalam ingatan saya:

“Bagaimanapun, Aceh rumah saya yang tidak bisa dipisahkan, kecuali hanya waktu yang memisahkannya.”

Kalimat itu bukan sekadar ungkapan rindu. Aceh adalah tempat ia membangun karier, mengabdi kepada masyarakat, menjalin persahabatan, dan menyimpan begitu banyak kenangan.

Kami berharap suatu hari bisa kembali duduk bersama, bertukar cerita, dan menikmati kopi seperti dahulu.

Sayangnya, waktu memiliki jalannya sendiri.

Selamat Jalan, Pak Man

Pada September 2026, Pak Man sempat menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di Jakarta Selatan. Kami berharap ia segera pulih. Namun, kabar duka datang pada Senin, 19 Oktober 2026.

R. Manmagilan berpulang pukul 12.45 WIB di Rumah Sakit Haji Pondok Gede. Ia dimakamkan pada Selasa, 20 Oktober 2026, di TPU Kebon Nanas, Jakarta Timur.

Kepergiannya meninggalkan kenangan tentang secangkir kopi Gayo, diskusi pekerjaan, teguran yang mendidik, sapaan bahasa Aceh, dan percakapan tentang keinginannya pulang.

Kepada istri dan anak-anak beliau, kami menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan.

Kerinduan Anda untuk kembali ke Aceh akan selalu kami ingat. Perjalanan pulang yang Anda rencanakan memang tak sempat terlaksana, tetapi jejak pengabdian dan persahabatan yang Anda tinggalkan akan tetap hidup di hati kami.

Dan setiap kali aroma kopi Gayo mengepul dari sebuah cangkir, kami akan kembali mengingat seorang sahabat yang pernah bekerja, mengabdi, berbagi ilmu, dan menyebut Aceh sebagai rumahnya.

Salam hormat dan duka dari keluarga besar Alumni Save the Children Aceh Indonesia. []