Pembangunan Jalan Jantho-Lamno: Belajar dari Jalan di Kawasan Seulawah

Teuku Muhammad Zulfikar

Oleh: Teuku Muhammad Zulfikar*)

PEMBANGUNAN infrastruktur, khususnya jalan penghubung antarwilayah, merupakan salah satu indikator kemajuan dan aksesibilitas daerah.

Jalan Jantho-Lamno adalah salah satu proyek strategis yang menyimpan harapan besar untuk membuka isolasi wilayah, mempercepat mobilitas masyarakat, dan mendorong pertumbuhan ekonomi di pedalaman Aceh Besar hingga ke pesisir barat Aceh Jaya.

Namun, pembangunan jalan ini tidak bisa dilepaskan dari konteks ekologis yang kompleks. Jalur ini melintasi kawasan hutan lindung, lereng-lereng curam, serta ekosistem penting yang menjadi habitat satwa liar, termasuk gajah Sumatra. Jika tidak dipantau dan diawasi secara baik dan hati-hati, pembangunan ini berpotensi mengulangi kesalahan yang pernah terjadi pada jalur jalan di kawasan Seulawah.

Pelajaran dari Seulawah
Pembangunan jalan di kawasan Seulawah beberapa tahun silam menunjukkan bahwa keterburu-buruan dalam membuka akses jalan di kawasan ekosistem sensitif dapat berdampak panjang. Selain dapat memunculkan konflik antara manusia dan satwa, yang mulai memasuki perkebunan warga, degradasi hutan pun terjadi secara masif karena pembukaan lahan liar yang memanfaatkan akses jalan baru.

Selain itu, kondisi jalan yang rentan rusak akibat tanah labil dan curah hujan tinggi memperlihatkan lemahnya perencanaan teknis dan pengawasan konstruksi. Akibatnya, anggaran perawatan membengkak dan manfaat jangka panjang yang diharapkan tidak maksimal.

Pembangunan Berbasis Konservasi
Maka, pembangunan jalan Jantho-Lamno harus menjadi contoh bagaimana pembangunan infrastruktur bisa selaras dengan konservasi lingkungan. Beberapa langkah penting yang patut diperhatikan antara lain adalah Kajian Lingkungan Hidup yang Kuat.

Studi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan maupun Kajian Lingkungan Hidup Strategis harus dilakukan secara komprehensif dan transparan, termasuk keterlibatan masyarakat dan pakar lingkungan. Langkah lainnya adalah Pengawasan yang Ketat.

Tim independen atau multipihak perlu dilibatkan dalam pengawasan agar praktik-praktik merusak, seperti illegal logging atau alih fungsi hutan, tidak menjamur di sepanjang koridor jalan, serta pembangunan yang dilakukan secara bertahap dan responsif. Tidak semua segmen jalan harus dibuka sekaligus. Uji coba segmen dan evaluasi dampak lingkungan serta sosialnya dapat menjadi pendekatan bertahap yang lebih bijak.

Pembangunan Jalan Jantho-Lamno harus menjadi cerminan dari wajah pembangunan Aceh yang tidak hanya mengejar konektivitas, tetapi juga menjaga harmoni dengan alam. Jalan ini bukan sekadar jalur transportasi, tetapi juga simbol bagaimana Aceh bisa tumbuh tanpa harus mengorbankan warisan ekologisnya. Belajar dari pengalaman Seulawah, mari kita dorong agar pembangunan ini tidak hanya cepat, tapi juga cerdas dan berkelanjutan.[]

*)Penulis adalah Pemerhati Lingkungan Aceh, Dosen Universitas Serambi Mekkah dan Doktor Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial pada Sekolah Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

Berikan Pendapat