Fenomena Algoritma; Ketika Sosok Redaktur bukan Lagi Penyaring Informasi
Dikutip Portalnusa.com dari kanal YouTube Strategic Communication Center/Fikom Unisba
PERNAH merasa membuka media sosial yang sama, tetapi melihat konten yang sangat berbeda dengan orang lain.
Fenomena ini bukan kebetulan. Di era digital, peran penyaring informasi tidak lagi sepenuhnya di tangan redaktur media, melainkan diambil alih oleh algoritma.
Isu ini dibahas dalam tayangan edukatif yang diproduksi oleh Strategic Communication Center/Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung (Fikom Unisba) melalui kajian Teori Algoritmik Gatekeeping dalam Komunikasi Digital.
Algoritma bekerja membaca jejak perilaku pengguna—klik, tontonan, suka, dan komentar—untuk menentukan konten apa yang dianggap paling relevan dan menarik.
Akibatnya, publik tidak lagi mengonsumsi agenda informasi yang sama, melainkan hidup dalam realitas informasi yang personal.
Di satu sisi, konten terasa lebih sesuai minat. Namun di sisi lain, muncul risiko filter bubble, ketidakterlihatan isu kepentingan publik, hingga pembentukan opini yang tidak seimbang karena algoritma lebih mengutamakan perhatian dan emosi.
Kajian ini menegaskan bahwa kekuasaan informasi kini bergeser dari ruang redaksi ke ruang server. Karena itu, literasi algoritmik menjadi penting agar publik menyadari bahwa apa yang tampil di layar bukanlah gambaran utuh realitas.
Selengkapnya di tautan berikut:
https://www.youtube.com/watch?v=5KWk08jmWxQ




