Feri Amsari Blak-blakan soal Capres Alternatif, Dosen IPB Bilang Ahok Paling Sempurna

Pakar Hukum Tata Negara, Feri Amsari; Dosen IPB University, Meilanie Buitenzorgy; dan Basuki Thahaja Purnama alias Ahok yang menurut Meilanie sosok Ahok paling sempurna sebagai capres alternatif. (Sumber foto: wikipedia/tagar.co/detik.com)

PORTALNUSA.com | JAKARTA – Pakar Hukum Tata Negara, Feri Amsari, blak-blakan mengenai wacana munculnya calon presiden alternatif apabila terjadi perubahan kepemimpinan nasional.

Pernyataan tersebut memantik diskusi di media sosial, termasuk respons dari sejumlah akademisi dan warganet.

Feri menekankan pentingnya figur baru yang tidak berasal dari lingkaran kekuasaan sebelumnya.

Ia juga menyinggung sejumlah kriteria yang berkembang dalam diskusi publik.

“Ketika saya bicara calon presiden alternatif yang baru. Tidak loe lagi-loe lagi,” ujar Feri dikutip fajar.co.id, Rabu, 8 April 2026.

Ia menyebut, pembuat film dokumenter Dandhy Laksono turut mengemukakan kriteria tertentu untuk sosok alternatif.

“Dandhy Laksono menyebutkan kriteria penting, yaitu bukan orang dari lingkaran Presiden Jokowi dan Prabowo,” ucapnya.

Feri juga menyinggung sejumlah kriteria lain yang muncul dalam diskusi warganet.

“Beberapa juga sebut kriteria lain, harus S3 ijazah jelas, Profesor, tau konsep bernegara, humanis, dan suka sepakbola haha siapa ya? Kriteria kalian apa?,” tukasnya.

Dosen IPB Soroti Lima Modal Dasar Presiden

Menanggapi diskusi tersebut, Dosen IPB University, Meilanie Buitenzorgy, menyampaikan pandangannya mengenai kriteria pemimpin di masa krisis.

Ia menyebut ada lima modal utama yang harus dimiliki seorang presiden.

“Lima modal dasar yang wajib dimiliki Presiden di masa-masa genting ini, menurut gue, Competence, Brain, Value, Heart, dan Nerve,” kata Meilanie.

Ia kemudian menyindir kepemimpinan saat ini yang disebut tidak memenuhi kriteria tersebut.

Let’s admit that, Lurah (Presiden) Konoha (Plesetan Indonesia) ter-update nggak punya semuanya. Sekaligus!,” tukasnya.

Meilanie menekankan bahwa aspek kompetensi menjadi salah satu yang tidak terpenuhi.

“Nggak punya kompetensi (competence) bahkan tak mampu memilih orang-orang yang kompeten untuk membantunya,” beber Meilanie.

Ia juga menyinggung penggunaan kemampuan berpikir dalam pengambilan kebijakan.

“Punya otak (brain) tapi entah kenapa jarang dipakai. Anti sains. Nggak punya common sense,” imbuhnya.

Menurutnya, kebijakan yang diambil justru menimbulkan persoalan baru.

“Kebijakannya mostly ngawur, bikin masalah baru, bertentangan dengan akal sehat publik,” Meilanie menuturkan.

“Memiskinkan kaum menengah dan kaum miskin, dll dst you name it lah,” tambahnya.

Meilanie juga menyinggung aspek nilai dan ideologi kepemimpinan.

“Nggak punya prinsip, gak punya nilai, gak punya ideologi (values),” tegasnya.

Ia turut mengkritik pendekatan yang disebut represif dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

“Represif, diktator, nggak punya hati nurani (heart). Insiden penyiraman air keras didesain di rumah Kementerian nganu. Iya iya iya kita percaya kagak ada hubungannya ama lurah, kagak ada,” terangnya.

Selain itu, ia juga menaruh perhatian pada keberanian dalam menghadapi kekuatan besar.

“Nggak punya keberanian (nerve) untuk melawan hegemoni global, oligarki nasional maupun mafia lokal, coz he is an oligarch himself,” jelasnya.

Singgung Nama Alternatif

Meilanie juga menanggapi komentar di kolom unggahan Feri Amsari yang banyak menyebut nama Anies Baswedan.

“Okelah Anies punya kompetensi, punya brain dan mungkin punya heart/empati,” beber dia.

Namun ia mempertanyakan aspek nilai dan keberanian dengan berkaca pada Pilkada DKI Jakarta.

“Pilkada Jakarta bukti nyata. Liberal kek Anies bisa sante aja nunggangin gelombang radikalisme cuma gegara dia gak mampu compete essentially dengan lawannya,” timpalnya.

Anies juga gak pernah terbukti punya nerve melawan oligarki dan mafia, justru cenderung kompromistis,” tandasnya.

Lebih jauh, Meilanie bilang bahwa terdapat satu nama yang dianggap memenuhi seluruh kriteria tersebut.

“Lalu siapa yang punya semuanya, competence, brain, values, heart (empati) dan nerve (saraf baja)? The one and only, Ahok kata gue sih,” kuncinya.[]

Berikan Pendapat