Sentuhan Baitul Mal Aceh dan Kisah Kebangkitan Muallaf di Perbatasan
Laporan Portalnusa.com dari FDP
DI sebuah kios sederhana di wilayah perbatasan Aceh, aroma gorengan hangat menguar, mengundang pembeli yang datang silih berganti. Tangan yang dulu ragu kini sigap melayani, wajah yang dulu cemas kini mulai tenang.
Berita lainnya: Kisah Asiong, Mualaf 61 Tahun di Banda Aceh Berjuang Hidup tanpa Bantuan Sosial
Di balik kesibukan itu, tersimpan kisah perjuangan seorang muallaf yang pernah berada di titik paling sederhana: bertahan hidup dari penghasilan seadanya.
Kini, perlahan hidupnya berubah. Perubahan itu tidak hanya dirasakan oleh satu orang. Sejumlah muallaf di wilayah Kota Subulussalam dan Aceh Singkil juga bangkit, menata ulang kehidupan mereka melalui usaha kecil yang kini tumbuh dan memberi harapan baru.
Perubahan ini hadir melalui program Pendampingan Pemberdayaan Ekonomi Muallaf yang dijalankan oleh Baitul Mal Aceh bersama Forum Dakwah Perbatasan (FDP).
Program ini menyasar muallaf binaan yang telah memiliki usaha, namun terhambat oleh keterbatasan modal sehingga penghasilannya belum mampu mencukupi kebutuhan harian.
Di Aceh Singkil 10 muallaf menerima bantuan usaha tersebut, sementara di Subullussalam ada dua mualaf, dan di Banda Aceh dua muallaf penerima.
Di Desa Buloh Duri, Kecamatan Simpang Kiri, Subulussalam, Teringat Zega dulunya hanya bisa menjalankan usaha seadanya. Kios kecil berisi gorengan dan jajanan itu menjadi satu-satunya sumber penghidupan, dengan penghasilan Rp150.000 hingga Rp200.000 per hari.
Jumlah yang cukup untuk bertahan, tetapi tidak memberi ruang untuk berkembang.
“Dulu cukup untuk makan saja, tapi tidak bisa berkembang. Sekarang alhamdulillah, dagangan sudah banyak, pembeli juga makin ramai,” ujarnya.
Bantuan modal yang ia terima menjadi titik balik. Ia mulai menambah variasi dagangan, memperbanyak produksi, dan menarik lebih banyak pelanggan.
Kini, pendapatannya melonjak menjadi Rp500.000 hingga Rp700.000 per hari.
“Setelah ada bantuan modal, saya bisa tambah jualan. Pendapatan pun jauh lebih baik dari sebelumnya.”
Dari kios sederhana, ia tidak lagi sekadar bertahan—tetapi mulai membangun masa depan.
Kios Penopang Hidup
Perubahan serupa dirasakan Junita Simanulang, muallaf asal Desa Situbuh-Tubuh, Kecamatan Danau Paris, Aceh Singkil.
Ia telah lama berjualan kebutuhan pokok, namun keterbatasan modal membuat kiosnya tak pernah benar-benar berkembang.
Pendapatannya bertahan di angka Rp500.000 per hari, tanpa banyak perubahan.
“Kalau barang sedikit, pembeli juga terbatas. Sekarang stok sudah banyak, jadi orang lebih sering belanja di kios saya.”
Setelah mendapatkan bantuan, ia mampu menambah stok barang secara signifikan. Rak-rak kiosnya kini lebih penuh, dan pembeli datang lebih rutin.
Pendapatannya pun meningkat menjadi sekitar Rp700.000 per hari.
“Alhamdulillah, sekarang penghasilan sudah lebih stabil untuk kebutuhan sehari-hari,” kata Junita.
Bagi Junita, perubahan itu bukan hanya soal angka, tetapi tentang kepastian hidup yang dulu terasa jauh.
Dari Keterbatasan Bahan Kini Penuh Pesanan
Di Desa Napagaluh, Kecamatan Danau Paris, Kartika Sialoho menjalani hari-harinya dengan mesin jahit sederhana.
Ia memiliki keterampilan, tetapi tidak memiliki cukup modal untuk membeli bahan dalam jumlah memadai. Akibatnya, penghasilannya hanya sekitar Rp50.000 per hari.
“Dulu mau jahit lebih banyak tidak bisa, karena kainnya terbatas,” ujar Kartika.
Bantuan modal yang ia terima membuka peluang baru. Ia mulai membeli bahan lebih banyak, menerima lebih banyak pesanan, dan mengembangkan usahanya.
Kini, pendapatannya meningkat menjadi Rp150.000 hingga Rp200.000 per hari.
“Sekarang sudah bisa beli bahan lebih banyak, pesanan juga mulai bertambah.”
Perlahan, dari rumah sederhana, ia membangun harapan baru lewat setiap jahitan.
Program ini menjangkau empat muallaf binaan di wilayah perbatasan Aceh, Kota Subulussalam dan Aceh Singkil.
Mereka sebelumnya telah memiliki usaha, namun tidak berkembang karena keterbatasan modal.
Dengan pendampingan dan bantuan ekonomi, mereka kini memiliki kapasitas lebih besar untuk menjalankan usaha. Modal bertambah, usaha berkembang, dan pendapatan meningkat secara nyata.
Namun lebih dari itu, perubahan terbesar terlihat pada cara mereka memandang hidup.
Dari yang sebelumnya hanya bertahan, kini mereka mulai percaya bahwa usaha kecil pun bisa menjadi jalan untuk mandiri.
Dari kios kecil, lapak sederhana, hingga mesin jahit di rumah, para muallaf ini membuktikan bahwa perubahan tidak selalu datang dari langkah besar—tetapi dari kesempatan yang tepat, pada waktu yang tepat.
Di wilayah perbatasan yang jauh dari hiruk-pikuk kota, harapan itu kini tidak lagi sekadar angan.
Ia tumbuh, nyata, dan terus menguat, pelan, tapi pasti.[]




