.
.
.

Wonderfull Sabang…

Darmansyah

EVENT-NYA di tangan orang event ..Seorang event organized. Akronim kerennya “e-o”

E-o plat merah…yang produknya melebihi e-o plat hitam…sebab ia memakai takaran progress…progres….dan progres. Takaran progress yang nggak bisa ditelan otak era saya.

Kali ini ia bukan hanya e-o…tapi juga pemilik dan penyelenggara  event. Pemilik ketiganya…yang bisa menjungkirbalikkan apa yang ia mau.. Hahaha…bercanda….

MenjungkirbaliKkan untuk kualitas event.

Sang event organized itu teman. Teman saling sapa. Yang janjian terus untuk ketemu. Yang jawabnya kalau disapa: maaf…maaf…

Yang dilanjutkannya, di tengah kebisingan loudspeaker :”sedang di bromo..kotabaru.. balikpapan..belitung atau labuhan bajo.”

Yang di sebuah malam “tertangkap” lewat sebuah foto kiriman seorang jurnalis sedang ngopi di Medan. Lantas saya kerjain abis….

Saya maklum aja “keudaleh”-nya itu. Ia orang sibuk. Usai hijrah ke Jakarta. Sebagai pejabat di kapal kementerian sandiaga uno. Di posisi direktur yang menangani event. Yang itu kemarin-kemarinnya.

Dan kini ia wobaksot. Wobaksot ke Sabang. Sebagai penjabat. Yang sibuknya masih seabrek karena dalam dua posisi. Dua kaki. Kaki penjabat dan direktur.

Yang ketika saya layangkan sebuah pesan di WhatsApp tak ada jawaban. Hingga saya menurunkan tulisan ini.

Padahal pesannya sumir. Bertanya apakah event Sabang Marine Festival itu sama sebangun dengan “sail sabang.”

Sebab dialah yang pantas untuk menjawabnya. Jawaban seorang Penjabat Wali Kota. Jawaban dari Reza Fahlevi.

Penyebab tanya ini juga sumir. Sail Sabang itu pernah saya datangi enam tahun lalu. Sail Sabang yang tempelan logonya masih menjadi jiplakan Sabang Marine Festival.

Masih ada bulatan logo wonderful dsb-nya. Yang hanya berubah logo sponsornya. Yang kini ada bsi-nya.

Yang event-nya akan berlangsung selama tiga hari mulai hari ini, Jumat  hingga Minggu.

Event yang menjengkelkan seorang teman saya yang datang dari Medan karena tak kebagian hotel.

“Saya hanya bisa booking satu malam. Hari ini disuruh angkat koper,” umpatnya dengan nada terkekeh.

Terkekeh karena senang Sabang Marine Festival melimpahkan rezeki ke banyak sisi di negeri vrij haven yang pernah dikelola maatschaappij zeehaven en kolen station.

Yang saya tambah dengan kekehannya, kenapa nggak nginap di masjid dan tidur sambil duduk di warung kopi. Bisa hemat. Ada em-ce-ka-nya.

Dia mengiyakan. “saran bung saya terima,” wakwkwk….

Sebagai event bahari, Sabang Marine Festival ini terbesar. Persiapannya seperti konsepnya yang saya dengar udah matang. Aktivitas bahari dan budaya masyarakat  weh. Tinggal ces…

Ada atraksi budaya juga  pameran dan bazar ekonomi kreatif. Selain itu Sabang Marine Festival yang saya dulu selalu menulisnya dengan Sail Sabang merupakan event terbaik nusantara

Apakah terbaik hingga ia ditutup… entahlah..

Saya nggak mau berandai-andai. Andai-andai itu bisa mendatangkan suuzon. Suuzon dosa.. mengada-ada.

Yang mengada-ada adalah pengalamannya saya ketika ikut sail sabang dulu. Sail Sabang yang berimbas ke wisata selamnya. Yang pamornya ngehits.

Bahkan menjadi salah satu persinggahan wajib para wisatawan saat bervakansi. Menyebabkan spot-spot snorkling, diving, juga freediving, makin banyak diminati wisatawan.

Karena semua potensinya diangkat. Dipromosikan. Ketika itu ada freediving competition yang membuat weh viral ke mana-mana.

Dari dunia nyata hingga dunia maya, semua kompak membicarakan kedahsyatan spot diving. Sebut saja  nama Wiiliam Trubridge, atlet freediving pemegang rekor dunia asal New Zealand yang  terpesona dengan Teluk Balohan

Ia bersama empat puluh atlet freediving dunia lainnya ambil bagian kala itu dengan acungan jempol tentang ombaknya yang cukup baik, kejernihan airnya juga bagus.

“Yes.. happy,” katanya ketika diwawancarai jaringan televisi cnn.

“Semua kondisi itu sangat menyenangkan buat kami para freedivers,” ujar pemecah rekor dunia untuk kategori  free immersion and constant weight without fins.

Dengan kedalaman lebih dari  seratus tiga puluh meter di tengah arus laut yang bersahabat, Sabang  pun bakal menjadi incaran para atlet freediving.

Sebab para atlet akan berlomba memecahkan rekor dunia yang saat ini mencapai seratus dua puluh sembilan meter.

Sabang memang punya spot terbaik di dunia. Kalau ingin memecahkan rekor dunia di sinilah tempatnya.

Tidak hanya untuk freediving, Aceh juga punya lebih banyak spot untuk diving.

Sedikitnya ada tiga puluh  titik diving terbaik.

Sebut saja Batee Tokong. Daratan dalam laut yang memanjang ke permukaan dan membentuk tebing setinggi dua puluh lima meter.

Di sinilah lokasi favorit kawanan hiu. Tak pelak di sini pula favorit para diver.

Ada juga Pante Peunateung. Rumah bagi terumbu karang sedalam 30 meter ini laiknya akuarium hidup. Setelah itu Arus Balee. Spot diving ini berada di tengah-tengah dua pulau kecil.

Pulau Rubia dan Seulako. Di sinilah lokasi bagi para diver bisa bertemu makhluk penghuni Samudera Hindia.

Dengan arus ombak yang tak begitu kuat, Arus Balee jadi spot diving yang cocok untuk pemula.

Kalau belum cukup, masih ada spot diving lainnya seperti Batee Gla, Limbo Gapang, Sophie Rickmers dan Sumur Tiga. Semuanya juga menawarkan eksotisme bawah laut yang oke punya.

Tone-nya sangat positif.  Dan bisa  langsung action membuat program untuk mengembangkan prestasi selam dari Aceh.

Aceh itu keren. Olah raga selam jangan hanya sebatas pada olahraga, tapi juga harus berkembang pada tatanan rekreasi. Khususnya wisata selam.

Aceh punya misi yang besar dalam memajukan olahraga selam di daerahnya. Termasuk mengembangkannya menjadi wisata yang diminati para wisatawan.

Saat ini olah raga selam di Aceh terus berkembang dan peminatnya terus meningkat. Aceh ini pun akan terus mengembangkan olah raga selam dan mengombinasikannya dengan pariwisata.

Di antaranya adalah dengan menggandeng komunitas selam yang ada di Aceh untuk bersama-sama memajukan wisata selam. Termasuk juga penyelenggaraan event-event selam baik skala nasional maupun internasional

Sebagai daerah paling barat Indonesia, Aceh dinilai menyimpan banyak potensi.

Itu artinya, daerah ini butuh banyak pemikiran-pemikiran kreatif untuk dapat mengembangkannya melalui berbagai kegiatan. Termasuk di dalamnya memasukkan nilai komersial.

“Ini namanya Indonesia Incorporated. Semua lini bergerak memajukan wisata selam di Aceh. Kalau semuanya kompak bersatu memajukan pariwisata, kita akan “Bigger-Broader-Better together”.

“Jika kita maju serentak dan solid, maka kemenangan demi kemenangan bisa kita wujudkan,” ujar  seorang teman penggila diving. Ia juga minta ke depan bisa mengusung  tema yacht.

Semua warna dan kemasan eventnya pernah langsung diarahkan ke kantong-kantong komunitas yachter dunia.

Saya pernah mengutip sebuah edisi terbitan majalah yachting magazine yang menurunkan artikel special report Pulau Weh dalam satu halaman.

Selain itu saya juga ingin weh kembali ke konsep awal pengembangannya. Marine tourism triangle cooperation. Langkawi-Phuket-Sabang.

Marine yang ada juga festivalnya. Festival bukan hanya kopi aceh. Arabica dan robusta,. Tapi juga mie aceh, nasi kari, sate gurita, sayur pliek u, kue karah.

Saya mendengar dan membaca juga ada geliat wisata di Sabang Marine Festival ini. Geliat travel dan kuliner. Geliat yang menghidupkan raseuki usaha travel.

“Kan setiap wilayah punya kekhasan sendiri, termasuk kulinernya. Rasanya belum lengkap jika datang ke sebuah daerah tanpa menikmati kuliner khas daerah tersebut,” ujar sang teman medan saya.

Wonderful Sabang… []

  • Darmansyah adalah wartawan senior, penulis “Kolom Bang Darman”