Broker Caleg

Darmansyah

IA mengaku ke saya sebagai “broker”. Pengakuan itu ia ungkapkan dengan volume suara dikecilkan plus acungan telunjuk ke mulut.  Bikin saya tergelak. Tapi tidak berderai. Takut dipelototi meja tetangga.

Takut meja tetangga nguping.

Takut juga ceritanya terputus dan blass…kehilangan angle..Anda kan tahu kalau sebuah cerita kehilangan angle…bisa ngelantur. Seperti berita yang Anda sering baca. Ngawur..tambah ngelantur.

“Out” fokus bahasa pakemnya.

Saya nggak mau cerita itu “out” fokus. Untuk itu pula saya menahan tawa berderai.

Pengakuan si “broker” ini datangnya tidak sengaja. Seperti juga ketidak-sengajaan saya jumpa dengannya. Jumpa di sebuah warung kopi dekat rumah saya. Warung kopi yang segala urusan bisa dituntaskan.

Warung kopi yang sepagi itu saya sambangi. Padahal saya bukan manula “hobiter” ngopi. “Hobiter”  yang selalu mendengungkan istilah “ekstraksi” untuk kaum urban ini.

Istilah asing dalam perkamusan kaum penghirup aroma kopi lewat menu espresso, latte, machiato, dan lain-lain. Sepantaran Istilah agar lebih mudah menyampaikan pesan mereka terkait perkopian.

Saya sendiri nggak gaul dengan kosakata itu. Apalagi ada tambahan kosakata acidity, aeropress, affogato, americano dan entah apa lainnya…

Bagi saya jargon kopi sejak dulunya hanya satu. Pahit dan manis. Yang kedua kata ini kalau disambungkan  yang jadi pesakitan tetap kopinya. Padahal pahit dan manis kopi itu biang penyebabnya gula.

Terlalu banyak gula manis dan sedikit gula pahit. 

Untuk ketidak-sengajaan ketemuan saya dengan si “broker” itu jangan dipatutkan dengan kata kebetulan. Sebab nggak ada dalam hidup ini yang kebetulan.

Dari ketidaksengajaan inilah datangnya kata “broker” yang padanannya bisa makelar ataupun pialang. Terserah dengan Anda mau memakainya untuk mengartikulasikan tulisan ini,

Sedangkan “broker” itu sendiri sering dikaitkan sebagai pedagang perantara yang menghubungkan pedagang satu dengan yang lain dalam hal jual beli.

Dalam tulisan ini kata “broker” lebih saya tekankan untuk individu yang berperan sebagai perantara yang melayani pesanan  Individu trader jasa. Seperti kerjaan si dia itu.

Si dia yang sudah beralih profesi dari agen koran menjadi “broker.” Bukan sembarang “broker.”

“Broker” keren. Yang menjual jasa ke bakal calon, calon dan calon terpilih. Sampai di sini Anda pasti bisa mafhum ke mana arah mata angin tulisan saya ini.

Arah embusan angin di musim pencalegan. Musim yang menjadikan si “broker” itu punya kerjaan lembur berintensitas tinggi.  Siang malam. Datang dan didatangi si pemesan.

“Ya, itu pekerjaan saya,” katanya. Kata lelaki berbadan tinggi berambut tipis dengan wajah tirus. Yang tampangnya  agak masam dengan garis kaku di wajahnya yang menyebabkan saya ngah  basa-basi.

Itu di awal. Ketika ia tak banyak bicara. Menjawab seperlunya ketika ditanya.  Yang dari jawaban seperlunya itulah  ia mengaku “broker”.

“Broker” yang di awal kariernya ditawari iming-iming oleh si pemesan. Iming-iming  kendaraan. Lanjut ke program lalu pokir. Lantas paket proyek.

Sampai sekarang. Sebagai “broker” anggota legislatif yang punya pokir dan bisa menggunakan dana itu dengan wewenang penuh. Cukup ada pengajuan program dari kelompok masyarakat.

Yang disebut kelompok masyarakat itu cukup enam orang. Bisa lebih. Yang  dimanfaatkan si “broker” lewat kepala desa.

Dana itu bisa dibuat proyek apa saja. Mulai pengaspalan jalan, plengsengan parit, pendidikan, dan apa pun yang diminta kelompok masyarakat.

Yang pekerjaanya diserahkan ke “broker” untuk kemudian marginnya bisa untuk dibagikan dengan nama fee atau  komisi.

Kini, kata si dia, “broker” makin tertantang. Karena mendapat saingan kontraktor yang juga mengincar dana pokir.

Kontraktor, menurutnya, lebih berani. Berani membayar fee dan komisi di muka tanpa menawar persentasenya.

Hebatnya lagi si kontraktor bisa membantu mencarikan lokasi  pokirnya. Di desa mana. Juga bisa membantu membentuk kelompok masyarakat.

Malah bisa membantu mencarikan yang pandai bikin proposal.

Program ini kian lama kian maju: tidak hanya fee dan komisi di depan. Tapi bisa di-ijonkan. Si pemilik pokir dapat uang lebih dulu.  Pun sebelum proyek dikerjakan. Bahkan sebelum ada proposal.

Kan proposal sama sekali bukan halangan. Proposal bisa dibuat cepat. Banyak yang bisa di-“copy paste.”

Dalam pertemuan itu saya menyalin banyak pengalaman si “broker” di awal kariernya menapak profesi ini.

“Semula saya gabung ke tim pemenangan seorang bakal calon bupati, Lanjut jadi calon. Untuk kemudian terpilih,” katanya menambahkan, ”hanya sebagai relawan.”

Lantas, usai pemilihan kepala daerah, dan si calon terpilih, ia banyak belajar. Belajar dari “broker” si terpilih.

Si terpilih yang punya  banyak “broker.” Mereka bergelantungan. Menyemak. Padahal, kata si “broker” teman saya berbagi cerita, ada bakal calon legislatif yang perlu “broker.” Ia menyempal.

“Saya masuk. Mencarikan dana, mencarikan pemilih di daerah pemilihannya. Lantas jadi anggota legislatif.

Tentu jalannya tidak seringkas itu. Dia juga jualan visi si caleg, Dikemas. Diarahkan. Mau bangun pendidikan, infrastruktur atau apa pun kemasannya adalah pembangunan ekonomi dengan pemberdayaan

“Inilah kemasan seorang broker,” katanya melempar senyum.

Ada kekhususan yang ia kemas. “Saya lebih memprioritaskan tim perempuan. Alasannya: perempuan bekerja dengan lebih militan. Mereka sangat loyal tidak akan melompat untuk mendukung kandidat lain.”

Lantas ia belajar untuk menjadi “broker”  yang bagus. Agar dilirik oleh mereka yang ingin menjadi caleg.

Menyeleksi caleg yang punya modal. Modal politik  elektoral klientelisme. Posisi perempuan di dalam relasi klientelis ini biasanya dibahas dari aspek sebagai objek eksploitasi ketimbang agen politik yang aktif.

“Saya terus  menganalisis dengan perspektif yang berbeda dan justru menunjukkan bahwa perempuan memiliki agensi yang signifikan sebagai ‘broker’ – yaitu perantara atau “calo.”

Sekaligus membangun kekuatan yang memberi ruang bagi perempuan di dalam politik serta memberikan kesempatan baru sebagai agensi terlepas dari struktur dan ekspektasi yang patriarkis.

Untuk menambah penjelasannya ini saya tahu kandidat caleg atau apapun namanya secara umum cenderung bersifat patronase dan bergantung pada metode klientelisme.

Banyak di antara mereka menggunakan broker untuk mendistribusikan uang atau barang untuk ‘mengamankan’ suara.

Namun, di antara banyak studi tentang broker dan strategi, cara mendistribusikan sumber daya, dan loyalitas relatif mereka, hanya sedikit akademisi yang meneliti fenomena perempuan sebagai broker.[]

  • Darmansyah adalah wartawan senior, penulis “Kolom Bang Darman”