.
.
.

Kerusakan Jalan Ulee Kareng Makin Parah, Perbaikan Menunggu Jatuh Korban?

Lapisan aspal jalan di pusat pasar Ulee Kareng semakin rusak hingga membentuk lubang yang sangat membahayakan pengendara apalagi saat lubang jalan tersebut tertutup genangan ketika musim hujan. Kondisi begini sudah berlangsung lama namun belum ada juga tanda-tanda untuk diperbaiki. Foto direkam Sabtu, 1 Juli 2023. (Foto Muslem Ulka)

PORTALNUSA.com | BANDA ACEH – Kerusakan jalan di pusat pasar Ulee Kareng (Simpang Tujuh), Kota Banda Aceh terpantau semakin parah namun hingga saat ini belum ada tanda-tanda diperbaiki.

Salah satu titik jalan yang makin parah kerusakannya berada persis di Simpang Tujuh—arah Jalan Blang Bintang Lama. Lapisan aspal yang dibiarkan rusak akhirnya membentuk lubang jalan yang sangat membahayakan pengendara, terutama sepeda motor.

Kondisi di jalur lainnya, masih di kawasan Simpang Tujuh Ulee Kareng, lapisan aspal semakin rusak sehingga membentuk lubang jalan yang sangat merepotkan pengendara. (Foto Muslem Ulka)

“Setiap hujan lubang jalan itu tertutup genangan sehingga tidak kelihatan oleh pengendara. Sudah sangat sering pengendara sepeda motor jungkir balik akibat terperosok ke lubang yang tertutup genangan. Apakah harus menunggu ada yang meninggal dulu baru diperbaiki?,”  kata Muslem Ulka, seorang warga Ulee Kareng.

Berita terkait: Sedikit Hujan, Jalan Blang Bintang Lama Berubah Layaknya Kolam

Kerusakan jalan di pusat pasar Ulee Kareng juga ditanggapi oleh seorang tokoh Ulee Kareng, Usman Lamreung.

Seharusnya, kata Usman, Pemko Banda Aceh atau dinas terkait—termasuk di tingkat provinsi harus cepat tanggap dengan permasalahan yang terkait langsung dengan kepentingan masyarakat.

“Jangan tunggu viral dulu atau ketika jatuh korban baru sibuk. Ruas jalan di kawasan Ulee Kareng semakin padat dan sibuk sehingga menyebabkan kesemrautan, ditambah lagi dengan kondisi kerusakan yang terkesan dibiarkan,” tandas Usman Lamreung.

Pantauan Portalnusa.com, setiap kali titik kerusakan di Simpang Tujuh itu tertutup genangan, masyarakat menempatkan rambu di lubang yang tergenang. Tujuannya bukan saja untuk menghindari terjadinya kecelakaan tetapi juga memberi isyarat kepada mobil agar berhati-hati supaya tidak mencipratkan air ke tempat usaha (pertokoan)—termasuk kedai kopi di pinggiran jalan tersebut.

Lubang jalan yang membahayakan pengendara bukan hanya di Simpang Tujuh tetapi terdapat belasan titik lainnya di sepanjang Jalan T Iskandar hingga kawasan Beurawe. Masyarakat berharap persoalan ini menjadi perhatian serius, baik Pemko Banda Aceh maupun PUPR Aceh yang bertanggung jawab terhadap jalan provinsi. []

Writer: Meylida AbdaniEditor: Nasir Nurdin