.
.
.

“Félicitations Parisiens”

Flag football club FC Paris Saint-Germain, France

HARI ini saya ingin kembali ke habitat. Sebagai penulis sepakbola. Habitat sejati saya di awalnya memang sebagai penulis sepakbola. Dulunya.

Pembaca surat kabar di era itu tahu. Tapi, generasi itu kini tinggal sisanya. Termasuk saya.

Itunya dulu sekali… ketika menjadi penulis ecek-ecek  di media regional terbitan Medan. Penulis olahraga yang kala itu di-istimewa-kan oleh pengasuh media karena bisa meningkatkan oplah.

Bisa menambah suplemen halaman. Halaman khusus. Dari liputan khusus. Ujungnya bisa nambah duit dari iklan.

Anda pasti tahu halaman khusus dari liputan khusus ini. Sebut saja liputan pekan olahraga. Liputan enam besar perserikatan dan banyak khusus-khusus lainnya.

Sebagai penulis olahraga saya masuk lebih dalam ke liputan khusus sepakbola. Tambah lagi khususnya.

Khusus lainnya butuh literasi berjibun. Bacaan taktik. Bukan tak tik boom.

Taktik  “keeping” hingga man to man marking. Tahu tentang zona per zona. Tahu tentang zona marking. Polarisasi dan eksplorasi permainan. Dari pola empat-empat-dua maupun empat-tiga-tiga.

Tahu juga tentang bagaimana seharusnya tim bermain dengan striker tunggal atau double striker. Begitu juga bagaimana fungsi full back dalam permainan.

Positioning saat bertahan dan menyerang. Lanjut distribusi bolanya. Umpan silang. Umpan panjang. Serangan zig zag.

Lainnya tahu bagaimana fungsi gelandang menyerang maupun gelandang bertahan. Tahu juga tentang-tentang sebagainya.

Namun begitu, sejak lama pula, saya melupakan habitat itu.

Saya gak tahu apakah lupa itu oleh kepikunan sebagai tanda demensia atau lupa karena titik..titik..

Bisa saja juga lupa karena amnesia. Amnesia ….hilangnya ingatan terhadap  fakta, pengalaman atau informasi. Ya..amnesia literasi bakunya hilangnya ingatan sementara.

Kan saya masih tetap mempertahankan informasi tentang diri dan tetap memiliki kemampuan motorik yang baik. Contohnya, pekan-pekan lalu, saya mulai lagi menulis sepakbola.

Untuk tidak terus berada di area amnesia saya ingin lanjut menulis sepakbola. Kali ini tentang les parisens. Sebuah klub milik kota paris yang mulai meninggalkan pragmatism.

Pragmatism untuk meraih juara lewat jalan pintas. Short cut.

Ternyata short cut yang ditempuh klub milik “qatar sport investmen” bermarkas di parc des princes mentok. Mentok di final laga final champion liga. Liga paling tinggi sepakbola klub eur.

Les Parisiens yang juga menyandang nama lain Les Rouge et Bleu- si merah biru-mulai meninggalkan pragmatism dalam membangun tim.

Sebagai klub yang dihakikahkan dua belas agustus seribu sembilan ratus tujuh puluh dua dari dua klub. Paris FC dan Stade Saint Germain. Yang kemudian dari nama itu lahirlah Paris Saint Germain.

Mereka meninggalkan “penyakit gila” dalam membangun tim. Penyakit gila ingin membeli juara dengan mendatangkan pemain lewat transfer duit gajah.

Mengobrak-abrik  pasar dan gaji pemain. Termasuk mendobrak pasar transfer Lionel Messi. Messi yang Barca kala itu. Yang bisa didatangkan ke stade.

Yang awalnya menjanjikan tidak berarti dari segi prestasi di lapangan. Terutama di laga euro. Kesepakatan di dua musim kompetisi itu ternyata tidak berarti apa-apa.

Bagi Messi dan Rouge at Blues, inilah mungkin yang bisa menjadi alasan perubahan kebijakan dari klub kebanggaan masyarakat Paris itu.

Jika ingin mendapatkan apa yang menjadi impian mereka selama ini – liga champions, ini sudah bukan saatnya untuk menghamburkan uang untuk mega bintang dan menghancurkan proyek klub.

Parisens harus fokus membangun tim untuk masa depan yang kuat. Seperti proyek jangka panjang yang dilakukan Manchester City dengan Josep “Pep” Guardiola.

Ini berarti tim biru merah itu  harus bisa mencari sosok pelatih tepat untuk proyek jangka panjang mereka.

Tak hanya bagus dari taktik, tapi juga bisa mengontrol ruang ganti mereka yang diisi banyak pemain bintang top.

Tim harus sepenuhnya mempercayakan tim kepada sang pelatih, agar perselisihan seperti dengan Tuchel tidak terulang kembali.

Les Parisiens  juga harus lebih percaya dengan proses karena kejayaan tidak bisa diraih dengan instan. Mereka bisa belajar dari kesuksesan City.

Klub Manchaster biru itu, meski pernah gagal di final atau semifinal liga champions tetap mempercayakan tim kepada Guardiola dan kesuksesan akan datang jika tiba waktunya.

Sejatinya, bagi saya klub paris itu sudah mendapatkan segalanya. Ketenaran dengan mendatangkan banyak bintang  yang seharus sudah saatnya fokus pada impian.

Jika mereka tidak bicara banyak di euri liga, mereka tidak akan mendapatkan pengakuan seperti yang didapatkan the citizen.

Et Rouge Bleus harus belajar bahwa pada akhirnya, sama sekali tidak ada yang berkesan untuk klub maupun fans dari semua pemain mega bintang yang mereka datangkan.

Termasuk dengan mendatangkan Messi.

Rasanya percuma jika mendatangkan pemain-pemain mega bintang namun tidak diproyeksikan dalam kepelatihan jangka panjang.

Sejak kedatangan Qatar Sport Investment, raksasa investasitim juara ligue 1 menjadi salah satu klub sepak bola yang sangat menonjol.

Salah satu ketenaran dan kemenonjolannya adalah  kebijakan transfer yang pesong hanya demi meraih kesuksesan. Barisan bintang sepak bola didatangkan.

Namun impian mereka untuk meraih gelar tertinggi di liga euro selalu nihil.

Mereka pernah sangat dekat dengan impian di musim tiga tahun lalu ketika berhasil melangkah ke final liga champions di bawah asuhan Thomas Tuchel. Mereka kalah dari Bayern Munchen.

Lewat gol tunggal Kingsley Coman yang notabene mantan pemain mereka sendiri.

Musim selanjutnya Tuchel dipecat karena ada perselisihan dengan direksi klub dan digantikan Mauricio Pochettino.

Bersama Pochettino, sekali lagi mereka dekat dengan gelar liga kasta tertinggi eropa itu. Sayangnya, langkah itu dihentikan tim preimer liga manchester city di semifinal.

Setelah gagal di final dan semifinal, klub cari jalan pintas dengan mendatangkan mega bintang Lionel Messi pada dua musim silam.

Kedatangan Messi awalnya terlihat sangat menguntungkan dan membawa harapan. Saat itu, mereka  dicap sebagai tim yang memenangkan bursa transfer musim panas.

Selain Messi, klub juga berhasil mendatangkan Georginio Wijnaldum, Gianluigi Donnarumma, Achraf Hakimi, dan Sergio Ramos.

Les Parisiens dinilai sangat beruntung mendapatkan Messi karena selain menawarkan kematangan sepakbola terbaik, juga bisa membantu klub dari segi pemasaran.

Pada kenyataanya, dari segi bisnis mereka memang meraup untung besar. Messi juga berhasil mengangkat pamor tim paris ini terutama di media sosial.

Twitter official meraih delapan ratus ribu followers. Bahkan di tik tok mereka  menyentuh empat puluh juta.

Belum lagi mereka juga dapat sorotan lewat empat ratus juta lebih followers instagram  milik Messi. “Di luar lapangan, kami tumbuh di mana-mana,” kata Presiden Klub, Nasser Al-Khelaifi.

Selain itu, Messi juga mendatangkan banyak keuntungan untuk Qatar Investmen berkat kesuksesan word cup. Messi dan bintang paris seperti Kylian Mbappe berhasil maraup  sorotan di event itu.

Berkat performa gemilang dua bintangnya itulah yang membuat Nasser Al Khelaifi punya harapan besar Les Parisens bisa raih sukses musim ini.

Sampai di sini, sebagai sebuah bisnis bisa dikatakan bahwa transfer Messi sangat menguntungkan. Paling tidak dari segi bisnisnya. Tapi dari segi sepakbola, prestasi klub paris itu jauh dari harapan.

Siapa sangka tim dengan  tiga penyerang top dunia, tak mampu bicara banyak menimba juara di euro.

Untuk itulah, mulai musim depan Les Parisiens mengubah jalan juaranya lewat road map riel. Bukan jalan di atas untuk ke atas. Tapi jalan bawah menanjak ke atas. Jalan terjal persaingan.

Bukan jalan pragmatis menghamburkan uang.

“Félicitations” Les Parisiens… selamat memenangkan permainan…bukan pertandingan….[]

  • Darmansyah adalah wartawan senior, penulis “Kolom Bang Darman”