Jaloe Jeumeurang dan Jejak Panjang Mustafa Kamal, dari Karaoke Radio hingga YouTube

Mustafa Kamal, Penyanyi Aceh. (Foto: Dok. Mustafa Kamal /Kolase: PORTALNUSA.com)

PORTALNUSA.com | ACEH – Ada masa ketika nama Mustafa Kamal cukup akrab di telinga pencinta musik Aceh. Sebelum YouTube dan media sosial menjadi panggung baru bagi para musisi, ia lebih dulu menempa suara dari ruang karaoke sebuah radio di Lhokseumawe.

Perjalanan itu bermula di Radio Adimaja Lhokseumawe. Dari sana, kemampuan vokalnya berkembang dan membawanya tampil dalam berbagai festival di Aceh Utara dan Lhokseumawe, termasuk sejumlah kegiatan di RRI Pro 1 dan Pro 2.

Pada 2007, Mustafa Kamal mendapat julukan sebagai salah satu vokalis pria terbaik. Pada periode yang sama, nama Dek Ula dikenal sebagai vokalis perempuan terbaik.

Setahun kemudian, langkahnya masuk ke dunia rekaman. Mustafa Kamal melahirkan sejumlah lagu, di antaranya “Jaloe Jeumeurang” dan “Saboh Kenangan”. Karya yang diproduksi Abas Record, Hj. Nurdin, itu kemudian dikenal di tengah masyarakat Aceh.

Dalam proses tersebut, dukungan sahabat turut membuka jalan. Salah satunya datang dari Raja Eumpang Breuh atau Rikky, yang ikut membantu perjalanan awal karier musiknya.

Pada 2011, Mustafa Kamal kembali merilis album kedua bertajuk “Saffina” melalui Rasya Record, produksi Saiful, SPdI.

Namun, perjalanan musik itu kemudian memasuki babak yang berbeda.

Mustafa Kamal memilih merantau ke Malaysia. Aktivitasnya di dunia musik Aceh pun perlahan tidak lagi terdengar. Tahun demi tahun berlalu, hingga namanya kembali muncul melalui ruang yang berbeda: media sosial.

Musik yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi

Sekitar 2021, dorongan dari sahabat dan aktivitas live di media sosial kembali menumbuhkan semangatnya untuk bermusik.

Dari percakapan dan aktivitas tersebut muncul gagasan untuk mengaransemen ulang “Jaloe Jeumeurang”, dengan Cut Rani Auliza sebagai penyanyi.

Mustafa Kamal menyambut gagasan itu.

Ia kemudian membangun kanal YouTube Mustafa Kamal Official. Dari Malaysia, sepanjang 2022 hingga 2025, ia kembali produktif melahirkan dan memperkenalkan sejumlah karya, di antaranya “Penjara Hate”, “Meuligoe Sipayong Dua”, dan “Cure Ateuh Luka”.

Panggungnya memang berubah. Jika dahulu radio dan festival menjadi tempat memperkenalkan karya, kini YouTube dan media sosial menjadi ruang baru untuk menjangkau pendengar.

Awal 2026, Mustafa Kamal akhirnya kembali ke Aceh

Kepulangan itu sekaligus menjadi awal baru bagi perjalanan musiknya. Setelah melewati fase panjang dari radio, panggung festival, studio rekaman, perantauan di Malaysia hingga era digital, ia kembali membawa semangat yang sama: terus berkarya melalui musik Aceh.

Bagi Mustafa Kamal, perjalanan tersebut mungkin bukan sekadar tentang lagu-lagu yang pernah direkam. Ada kenangan, persahabatan, perantauan, dan sebuah keyakinan bahwa musik yang pernah menemani perjalanan hidupnya masih memiliki ruang untuk didengar kembali.

Kini, setelah kembali ke Aceh, Mustafa Kamal bersiap melanjutkan langkahnya.

Dari radio ke panggung, dari Malaysia ke Aceh, dan dari kaset ke YouTube—perjalanan musik Mustafa Kamal belum selesai. []