Khutbah Jumat di Masjid Raya Baiturrahman, Yusril Ihza Mahendra Ajak Umat Perkuat Takwa dan Etika
Laporan: Rifki Ismail, Humas Masjid Raya Baiturrahman Aceh
PORTALNUSA.com | BANDA ACEH β Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan RI, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, SH, MA, MSc, Sc, PhD, mengingatkan umat Islam agar menjadikan ketakwaan sebagai landasan dalam membangun kehidupan yang beretika, bermoral, dan berakhlak.
Pesan tersebut disampaikan Yusril saat bertindak sebagai khatib salat Jumat di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Jumat, 6 November 2026.
Dalam khutbahnya, Yusril mengawali dengan mengajak jamaah meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Ia mengutip Surah Ali Imran ayat 102 yang berisi perintah agar orang-orang beriman bertakwa dengan sebenar-benarnya dan senantiasa menjaga keislaman hingga akhir hayat.
Menurut Yusril, takwa bukan sekadar konsep keagamaan, melainkan prinsip yang harus tercermin dalam setiap sikap dan tindakan manusia. Secara bahasa, takwa berkaitan dengan kata wiqayah, yang berarti menjaga atau melindungi diri.
Karena itu, orang yang bertakwa dituntut untuk senantiasa berhati-hati dalam mengambil keputusan, bertindak, serta mempertimbangkan konsekuensi moral dari setiap perbuatannya.
Ia kemudian mengaitkan pesan tersebut dengan tujuan diturunkannya Al-Qur’an sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Baqarah ayat 185. Al-Qur’an tidak hanya menjadi petunjuk bagi manusia, tetapi juga berfungsi sebagai furqan, yakni pembeda antara kebenaran dan kebatilan serta antara kebaikan dan keburukan.
βManusia memiliki kemampuan untuk membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang benar dan salah. Karena itu, manusia harus senantiasa berhati-hati dalam setiap tindakannya,β pesan Yusril di hadapan jamaah.
Ia juga mengutip Surah Asy-Syams ayat 8, yang menjelaskan bahwa Allah SWT telah mengilhamkan kepada jiwa manusia jalan kefasikan dan ketakwaan.
Menurutnya, kemampuan mengenali kebaikan dan keburukan merupakan potensi dasar manusia. Namun, potensi tersebut harus terus dipelihara melalui tuntunan agama agar tidak menyimpang dari nilai-nilai moral dan akhlak.
Yusril menegaskan, Islam memiliki hubungan yang sangat erat dengan pembentukan etika dan moral dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh sebab itu, tanggung jawab menjaga nilai-nilai kebaikan tidak boleh hanya dibebankan kepada ulama atau tokoh agama.
Mengutip Surah Al-Ghasyiyah ayat 21, Fa dzakkir innama anta mudzakkir, ia mengingatkan pentingnya budaya saling menasihati. Menurutnya, tugas mengingatkan sesama dalam kebaikan juga menjadi tanggung jawab kalangan akademisi dan seluruh umat Islam.
Dalam khutbah tersebut, Yusril turut menyinggung budaya masyarakat Jepang yang dikenal memiliki kedisiplinan, tanggung jawab personal, dan etika sosial yang kuat.
Ia menilai, umat Islam dapat mengambil pelajaran dari praktik-praktik positif masyarakat lain tanpa harus meninggalkan identitas dan nilai ajaran Islam.
Sebab, menurut Yusril, umat Islam sesungguhnya telah memiliki sumber pedoman moral yang sangat kuat, yakni Al-Qur’an dan keteladanan Rasulullah SAW.
Tantangannya adalah bagaimana nilai-nilai tersebut tidak berhenti sebagai ajaran, tetapi benar-benar diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, melalui kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, serta kepedulian terhadap sesama.
Mengakhiri khutbahnya, Yusril kembali mengajak jamaah menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup dan Rasulullah SAW sebagai teladan dalam membangun kehidupan yang berlandaskan ketakwaan, etika, dan akhlak mulia.
Ia juga memanjatkan doa agar Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat, taufik, dan hidayah kepada seluruh umat Islam. []













