Perebutan Kursi Ketua PWI Pusat: Duel Dua Kubu di Cikarang

Empat tokoh PWI, dari kiri ke kanan: Calon Ketua Dewan Kehormatan (DK), Sihono HT yang akan mendampingi Hendry Ch Bangun sebagai calon Ketua Umum; dan Akhmad Munir sebagai calon Ketua Umum yang akan didampingi oleh Atal S. Depari sebagai Ketua DK. Keempat calon Ketua DK dan calon Ketum PWI Pusat ini memperlihatkan dokumen pakta integritas yang mereka tandangani pada acara Prakongres di BPPTIK Komdigi, Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Jumat malam, 29 Agustus 2025. (Foto Portalnusa.com)


Laporan Abdul Hadi/Portalnusa, Cikarang

SABTU pagi, 30 Agustus 2025, suasana kawasan industri di Cikarang tampak berbeda dari biasanya.

Bukan deru mesin pabrik atau lalu lintas kendaraan berat yang menjadi pusat perhatian, melainkan hiruk pikuk para insan pers yang berkumpul dalam satu agenda penting: Kongres Persatuan PWI Pusat 2025.

Di balik riuh perbincangan dan lalu-lalang para delegasi dari seluruh provinsi, terselip satu pertanyaan besar yang menanti jawaban: siapakah yang akan memimpin PWI lima tahun ke depan?

Pertarungan kali ini kian sengit. Dua nama besar mencuat sebagai kandidat kuat, Akhmad Munir dan Hendri C. Bangun.

Keduanya sosok ini sama-sama mengklaim dukungan mayoritas, bahkan masing-masing menyebut telah mengantongi 49 suara. Klaim ini memunculkan atmosfer tegang menjelang pemilihan resmi yang dijadwalkan kurang dari dua jam lagi.

Di satu sisi, kubu Ahmad Munir tampak percaya diri dengan strategi “merangkul daerah” yang sejak awal kongres gencar dilakukan. Sementara di kubu Hendri C. Bangun, tak kalah gigih melakukan manuver politik, mengandalkan jejaring luas yang dimilikinya di berbagai provinsi.

Bagi para peserta kongres, dinamika ini bukan sekadar soal perebutan kursi ketua, melainkan juga tentang masa depan organisasi wartawan tertua di Indonesia.

“Kita semua ingin PWI keluar dari bayang-bayang dualisme. Kongres ini harus jadi titik balik,” ujar salah seorang delegasi dari Sumatera yang enggan disebutkan namanya.

Sejak pagi, lobi-lobi kecil berlangsung di berbagai sudut hotel dan ruang pertemuan. Ada yang berbicara serius di meja bundar, ada pula yang berbisik sambil menyeruput kopi hitam. Semua bergerak, semua berstrategi.

Tak bisa dipungkiri, perebutan kursi ketua PWI kali ini menjadi salah satu yang paling panas dalam sejarah organisasi.

Apapun hasilnya, publik pers menaruh harapan besar agar pemimpin terpilih kelak mampu membawa PWI kembali solid, berwibawa, dan benar-benar menjadi rumah bersama para wartawan di Tanah Air.

Sebagai saksi langsung, penulis yang hadir di Cikarang merasakan denyut ketegangan itu.

Waktu kian mendekat, strategi terakhir pun terus dimainkan. Kini, tinggal menunggu siapa yang akhirnya berhasil “menakhodai” kapal besar PWI menuju arah yang lebih baik.[]

Berikan Pendapat