Perempuan Akar Rumput Kunci Pembangunan Inklusif di Aceh
Laporan Andika Ichsan, Banda Aceh
PORTALNUSA.com | BANDA ACEH – Penguatan suara perempuan dinilai menjadi salah satu kunci penting dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif di Aceh. Namun hingga kini, partisipasi perempuan dalam berbagai ruang pengambilan keputusan masih perlu diperkuat.
Hal ini mengemuka dalam diskusi bertema “Memperkuat Suara Perempuan dalam Pembangunan Inklusif di Aceh” yang digelar bertepatan dengan momentum International Women’s Day di Banda Aceh.
Berita sebelumnya: Perempuan Aceh Masih Hadapi Banyak Batasan, Momentum International Women’s Day Jadi Refleksi
Salah seorang narasumber dari kalangan aktivis perempuan, Siti Maisarah menekankan pentingnya pelibatan perempuan dalam proses perencanaan pembangunan daerah, khususnya melalui forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang).
Menurutnya, Musrenbang merupakan ruang strategis bagi masyarakat untuk menyampaikan berbagai kebutuhan pembangunan. Namun partisipasi perempuan dalam forum tersebut masih perlu ditingkatkan.
“Pelibatan perempuan dalam Musrenbang sangat penting, karena di situlah berbagai kebutuhan masyarakat dirumuskan. Jika perempuan tidak terlibat aktif, maka kebutuhan spesifik perempuan berpotensi tidak terakomodasi dalam program pembangunan,” ujarnya dalam Diskusi Internasional Women’s Day yang digelar di Hotel Permata Hati, Banda Aceh, Senin, 9 Maret 2026.
Selain persoalan partisipasi, isu kelompok rentan juga menjadi perhatian.
Narasumber lainnya, Erlinda Marlinda menilai perempuan penyandang disabilitas masih menghadapi tantangan besar, terutama dalam akses pendidikan dan ruang partisipasi sosial.
Menurutnya, rendahnya tingkat pendidikan membuat perempuan disabilitas jarang tampil di ruang publik untuk menyampaikan pandangan mereka.
“Perempuan disabilitas masih sangat kurang mendapatkan perhatian. Banyak dari mereka yang tingkat pendidikannya rendah sehingga jarang muncul di ruang publik,” katanya.
Sementara itu, Risnawati, S.Pd.I, menilai bahwa secara sosial perempuan masih sering ditempatkan hanya pada peran domestik.
Ia menyebut pandangan tersebut tidak terlepas dari pengaruh budaya patriarki yang masih kuat di masyarakat.
“Secara umum peran perempuan masih menghadapi tantangan. Ruang gerak ekspresi perempuan masih sering dibatasi, seolah-olah perempuan hanya memiliki tanggung jawab di ranah rumah tangga saja,” ujarnya.
Meski demikian, Risnawati menilai perempuan sebenarnya memiliki potensi besar dalam pembangunan masyarakat, terutama di tingkat komunitas.
Menurutnya, perempuan sering menjadi penggerak dalam pendidikan keluarga, solidaritas sosial, hingga berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat di lingkungan mereka.
“Di tingkat akar rumput, perempuan memiliki peran yang sangat strategis dalam membangun kesadaran sosial dan pemberdayaan masyarakat,” kata Risnawati.
Ia berharap momentum Hari Perempuan Internasional dapat menjadi pengingat bahwa pembangunan yang inklusif hanya dapat terwujud jika perempuan diberikan ruang yang lebih luas untuk berpartisipasi dan menyuarakan aspirasinya.[]





