Kisah Asiong, Mualaf 61 Tahun di Banda Aceh Berjuang Hidup tanpa Bantuan Sosial
Laporan Ardyan, Banda Aceh
DI usia yang telah memasuki 61 tahun, Syarif Haris atau yang dulu dikenal dengan nama Asiong, menjalani kehidupan seorang diri dengan penuh keterbatasan.
Pria mualaf ini kini tinggal menumpang di kawasan Kompleks Perumahan Buddha Tzu Chi Panteriek bersama kerabatnya, setelah kehilangan keluarga pada bencana tsunami 2004.
Syarif mengaku memeluk Islam sejak tahun 2000-an. Ia merasa bangga menjadi seorang mualaf dan tetap teguh menjalani keyakinannya hingga saat ini.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Syarif mengayuh sepeda menuju kawasan Punge Blang Cut, tempat ia membantu pekerjaan di usaha tambal ban demi mendapatkan penghasilan seadanya.
Namun di usia senja, kondisi fisiknya mulai melemah dan tak sekuat dulu.
Dalam keterangannya kepada wartawan portalnusa.com, Kamis, 16 April 2026, Syarif mengaku sudah sekitar tiga tahun terakhir tidak lagi menerima bantuan sosial yang semestinya bisa diakses, termasuk sebagai mualaf di Aceh.
Ia menyebut keterbatasan usia dan kurang memahami proses administrasi menjadi kendala utama.
Saat ini, Syarif masih memegang KTP lama beralamat di Lamteumen Timur, Kota Banda Aceh.
Dengan kondisi yang serba terbatas, ia berharap ada perhatian dari pemerintah maupun dermawan untuk keberlangsungan hidupnya. []




