Lembaga PBA: Janji Kesejahteraan Rakyat Hanya Omong Kosong

Subki Mohammad Bintang

PORTALNUSA.com | BANDA ACEH – Ketua Umum Lembaga Peumulia Bangsa Atjeh (PBA), Subki Mohammad Bintang melontarkan kritik tajam dan pedas terhadap janji-janji manis pemerintah, baik pusat maupun daerah, yang selama ini menaburkan kata-kata indah tentang kesejahteraan rakyat.

Potret kemiskinan di Aceh. (Dok Lembaga PBA)

Menurutnya, semua janji itu hanyalah omong kosong belaka, retorika politik tanpa bukti, dan hanya menjadi alat untuk menenangkan rakyat agar tetap diam sementara kekayaan mereka terus dikuras.

Dikatakan Subki, dari dulu sampai sekarang, lagunya selalu sama: ‘Kami akan sejahterakan rakyat’, ‘Kekayaan alam untuk kemakmuran bersama’, ‘Aceh akan dibangun maju’.

“Begitu teriak Presiden Prabowo saat datang ke Aceh,Tapi apa buktinya? Itu semua hanya omong kosong! Janji di atas kertas, manis di mulut pemimpin, tapi pahit dan perih di kehidupan rakyat kecil. Kesejahteraan yang dijanjikan itu tidak pernah turun ke gampong, tidak pernah terasa di dapur rakyat, dan tidak pernah terlihat di kantong orang miskin,” kata Subki Mohammad Bintang.

Menurut Subki, melihat perjalanan sejarah damai Aceh yang sudah berjalan selama 21, dalam kurun waktu tersebut, ratusan triliun rupiah dana Otonomi Khusus (Otsus) sudah mengalir masuk ke wilayah Aceh. Dana sebesar itu seharusnya bisa mengubah wajah Aceh menjadi wilayah yang maju, makmur, dan sejahtera.

Namun, lanjut Subki, ironi yang terjadi sangat menyakitkan: ribuan rakyat Aceh yang berpenghasilan rendah hingga menengah ke bawah masih terpaksa bertahan hidup di gubuk-gubuk reot. Rumah-rumah itu masih beratap bocor saat hujan turun, dindingnya berlubang dan tidak layak huni, jauh dari kata nyaman dan aman sebagai tempat berlindung.

Setiap tahun, menurut Lembaga PBA, dalam setiap pidato dan penyusunan anggaran, pemerintah selalu berjanji telah menyediakan kuota besar untuk pembangunan rumah layak huni.

“Mereka berjanji akan merenovasi gubuk-gubuk tua itu menjadi tempat tinggal yang pantas. Tapi sampai kapan pun, janji itu hanya tinggal janji. Tidak pernah ada realisasi yang sesuai dengan apa yang diucapkan atau dituliskan di atas kertas. Anggaran ada, uang masuk, tapi rakyat tetap tidur di bawah atap yang bocor,” ujar Subki dengan nada penuh kekecewaan.

Ia menilai, kondisi ini adalah bukti paling nyata dan telanjang bahwa pemerintahan di Aceh maupun di tingkat pusat telah gagal total menunaikan amanah.

Bahwa dana Otsus yang konon diperuntukkan khusus bagi percepatan pembangunan dan kesejahteraan rakyat, kenyataannya hanya berputar di lingkaran kekuasaan, dinikmati oleh kelompok tertentu, dan tidak pernah menyentuh mereka yang paling membutuhkan.

“Ratusan triliun hilang entah ke mana, sementara rakyat masih tinggal di gubuk. Itu bukan sekadar kegagalan kinerja, itu adalah penipuan besar-besaran. Itu adalah pengkhianatan terhadap perjuangan masa lalu dan darah para syuhada.

Subki mengingatkan kembali prinsip yang selama ini diperjuangkan PBA: selama sistem ini tidak berubah, selama kekuasaan dan kekayaan masih dikuasai oleh segelintir orang yang lupa asal-usul, maka kata sejahtera hanyalah kata-kata kosong.

“Fakta berbicara sendiri: 21 tahun damai, ratusan triliun dana masuk, tapi rakyat masih menderita dan tinggal di gubuk reot. Itulah bukti paling nyata: Janji kesejahteraan rakyat hanyalah omong kosong pemerintah,” pungkas Subki Mohammad Bintang.[]