BSI Apresiasi Penempatan SAL, Perkuat Pembiayaan Produktif untuk Dorong Ekonomi Rakyat
PORTALNUSA.com | JAKARTA – PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) mengapresiasi kebijakan Pemerintah melalui Kementerian Keuangan terkait penempatan Saldo Anggaran Lebih (SAL) di sektor perbankan. Kebijakan tersebut dinilai dapat memperkuat likuiditas perbankan sekaligus meningkatkan kapasitas pembiayaan ke sektor-sektor produktif.
Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, mengatakan kolaborasi antara pemerintah dan industri perbankan menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas ekonomi serta memastikan aliran dana dapat mendukung aktivitas usaha dan pembangunan nasional.
“Kolaborasi pemerintah dan industri perbankan menjadi penting untuk menjaga likuiditas, memperkuat kepercayaan pasar, serta memastikan dana dapat mendukung dunia usaha dan pembangunan nasional,” ujar Anggoro.
Menurutnya, sebagai bagian dari Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), BSI siap mendukung kebijakan pemerintah melalui layanan keuangan syariah yang inklusif dan pembiayaan yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat.
BSI menilai penempatan SAL dapat memberikan ruang bagi perbankan untuk memperkuat pembiayaan produktif, termasuk kepada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Selain itu, kebijakan tersebut juga berpotensi membantu menjaga biaya dana agar pembiayaan tetap kompetitif.
“Kami mengapresiasi kepercayaan pemerintah kepada BSI. Amanah ini akan kami optimalkan untuk memperkuat pembiayaan produktif agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat dan pelaku usaha,” katanya.
Di sisi lain, BSI terus menjaga pertumbuhan bisnis melalui penguatan dana murah, pengembangan ekosistem keuangan syariah, serta percepatan layanan digital. Perseroan juga memperluas pembiayaan pada segmen ritel, UMKM, dan konsumer.
Hingga April 2026, BSI mencatat Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp382 triliun, tumbuh 17,90 persen secara tahunan. Sementara jumlah tabungan meningkat menjadi Rp165 triliun dengan rasio CASA mencapai 63,48 persen.
Dari sisi pembiayaan, BSI mencatat pertumbuhan sebesar 15,59 persen menjadi Rp332 triliun, dengan kualitas aset tetap terjaga melalui perbaikan rasio NPF gross menjadi 1,80 persen.
Selain memperkuat pembiayaan masyarakat, BSI juga terus mendukung sejumlah program prioritas nasional seperti pembiayaan UMKM, Kredit Usaha Rakyat (KUR), koperasi, program makan bergizi gratis, hingga rumah subsidi.
Melalui langkah tersebut, BSI menegaskan komitmennya untuk memperluas inklusi keuangan syariah sekaligus memperkuat peran perbankan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi rakyat. []








