DAERAH

Rapimwil ISNU Aceh di Jombang, Ketua PC ISNU Pidie Ziarahi Makam Mbah Wahab

Ketua PC ISNU Pidie, Dr. Nanda Saputra, MPd melakukan ziarah di makam KH. Abdul Wahab Chasbullah di Tambakberas Jombang, Jawa Timur, Minggu, 30 Agustus 2026. (Foto Dokumentasi Nanda Saputra untuk Portalnusa.com/Kolase portalnusa.com)

PORTALNUSA.com | PIDIE – Di sela agenda Rapat Pimpinan Wilayah (Rapimwil) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Aceh di Jombang, Jawa Timur, Ketua Pimpinan Cabang (PC) ISNU Pidie, Dr. Nanda Saputra, M.Pd., menyempatkan diri berziarah ke makam KH Abdul Wahab Chasbullah (Mbah Wahab), salah seorang tokoh pendiri Nahdlatul Ulama (NU).

Rapimwil ISNU Aceh berlangsung di Hotel Green Red Syariah, Jombang, pada 27–30 Agustus 2026 dan diikuti perwakilan 15 PC ISNU kabupaten/kota se-Aceh.

Menurut Nanda, Rapimwil menjadi momentum konsolidasi organisasi, evaluasi program sekaligus merumuskan penguatan arah gerakan ISNU Aceh ke depan.

“Pertemuan ini bukan hanya menjadi ruang konsolidasi dan evaluasi organisasi, tetapi juga momentum untuk memperkuat komitmen ISNU dalam memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” kata Nanda kepada PortalNusa.com, Minggu, 30 Agustus 2026.

Kehadiran jajaran ISNU Aceh di Jombang juga bertepatan dengan rangkaian Muktamar NU ke-35. Setelah mengikuti agenda Rapimwil, para peserta dari 15 PC ISNU Aceh berkesempatan menyaksikan secara langsung rangkaian kegiatan muktamar.

Bagi Nanda, Muktamar NU menjadi momentum penting bagi warga Nahdliyin, bukan hanya dalam menentukan kepemimpinan dan arah organisasi, tetapi juga memperkuat respons NU terhadap berbagai tantangan keumatan dan kebangsaan.

Ia menilai keberlangsungan muktamar juga mencerminkan kuatnya tradisi organisasi serta kedewasaan warga Nahdliyin dalam menjaga keberlanjutan NU.

Ziarah Menjadi Ruang Refleksi

Di tengah kesibukan agenda organisasi, Nanda memilih menyempatkan diri berziarah ke makam Mbah Wahab.

Menurutnya, ziarah tersebut menjadi ruang refleksi untuk mengenang perjuangan para muassis NU, sekaligus mengingat kembali nilai-nilai yang menjadi fondasi perjuangan organisasi.

“Datang ke Muktamar NU bukan hanya untuk melihat siapa yang memimpin dan bagaimana organisasi menentukan arah ke depan. Kita juga perlu mengingat perjuangan para pendiri yang telah mengorbankan tenaga, pikiran, dan kehidupannya untuk membesarkan NU,” ujar pria yang akrab disapa Gus Nanda itu.

Mbah Wahab dikenal sebagai salah satu ulama penting dalam sejarah berdirinya NU. Selain dikenal sebagai ulama, KH Abdul Wahab Chasbullah juga memiliki kiprah kuat dalam bidang organisasi dan perjuangan kebangsaan.

Bagi Nanda, keteladanan Mbah Wahab dan para pendiri NU penting terus diwariskan kepada generasi muda, khususnya kader intelektual yang kini memiliki ruang pengabdian lebih luas.

Nilai keikhlasan, keberanian, kebersamaan dan pengabdian yang ditunjukkan para pendiri NU, kata dia, harus menjadi pijakan kader dalam menjalankan organisasi.

Sarjana NU Harus Berdampak

Nanda menegaskan, keberadaan ISNU tidak boleh berhenti sebagai wadah berkumpulnya kalangan akademisi dan sarjana NU.

Menurutnya, kapasitas intelektual harus diterjemahkan menjadi kerja nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

“ISNU tidak cukup hanya menjadi organisasi tempat berkumpulnya para sarjana. Ilmu dan gelar akademik harus memberi manfaat bagi umat. Semakin tinggi pendidikan seseorang, seharusnya semakin besar pula tanggung jawab pengabdiannya kepada masyarakat,” tegasnya.

Ia berharap Rapimwil di Jombang dapat memperkuat soliditas 15 PC ISNU se-Aceh sekaligus melahirkan program yang lebih konkret dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat di daerah.

Menurut Nanda, ISNU memiliki posisi strategis untuk menjembatani dunia akademik, pesantren, pemerintah dan masyarakat, terutama dalam menghadapi berbagai persoalan pendidikan, sosial, ekonomi, keagamaan hingga pembangunan daerah.

“ISNU harus mampu menghadirkan gagasan dan kerja nyata. Keilmuan yang dimiliki para sarjana harus menjadi kekuatan untuk ikut menyelesaikan persoalan masyarakat,” pungkasnya. []